Emma Raducanu, juara AS Terbuka 2021, adalah sumber inspirasi Janice Tjen. Janice, petenis Indonesia, menyiapkan ”senjata” menghadapi idolanya itu di AS Terbuka.
26 Agt 2025 16:00 WIB · Olahraga
Ketika Emma Raducanu (22) menyabet gelar juara tunggal putri di AS Terbuka pada 2021 silam, Janice Tjen (23) hanya bisa menontonnya di sela-sela kuliah di AS. Empat tahun berlalu, Janice, petenis Indonesia, akan menghadapi idolanya di panggung yang sama, Rabu (27/8/2025) waktu AS.
Janice akan menghadapi Raducanu, petenis Inggris Raya, pada babak kedua atau 64 besar Grand Slam AS Terbuka. Pertandingan ini tidak hanya dinanti-nantikan Janice, tetapi juga publik Tanah Air. Janice menyita perhatian penggemar tenis Indonesia, bahkan Asia, setelah melaju ke babak kedua AS Terbuka dari kualifikasi.
Janice menjadi petenis Indonesia pertama dalam 22 tahun yang memenangi laga di babak utama Grand Slam. Ia menyamai prestasi Angelique Widjaja di Wimbledon 2003. Kini, Janice ingin melangkah lebih jauh lagi setelah sebelumnya juga memenangi tiga laga di babak kualifikasi AS Terbuka 2025 dengan straight sets.
Namun, ambisi itu tak mudah karena ia harus melewati Raducanu, petenis muda yang pernah mengguncang tenis dunia pada 2021. Saat itu, ia menjuarai tunggal putri AS Terbuka seusai mengalahkan sesama petenis remaja, Leylah Fernandez (Kanada), dengan straight sets di final. Ia menyisihkan sejumlah unggulan, seperti Belinda Bencic dan Maria Sakkari, dalam perjalanan ke puncak.
Padahal, saat itu, Raducanu sama sekali tak diunggulkan. Ia bahkan memulai perjalanan di AS Terbuka saat itu lewat kualifikasi, jalur yang ditempuh Janice saat ini. Tak pelak, kisah heroik bak dongeng Cinderella itu sangat menginspirasi Janice.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/25/dedf421c76e3ca7496eea3c18eff3fb0-235f37f0d7914ddab1370a908b685b4f_0_7eabc711c5dc4503b3af5868964a188f.jpg)
”Ketika Emma memenangi turnamen (AS Terbuka 2021) dengan tren (kemenangan) menakjubkan di sini, saya sesungguhnya masih kuliah. Saya cedera saat itu sehingga lebih banyak menonton pertandingan tenis,” ujar Janice yang saat itu kuliah Sosiologi di Universitas Pepperdine, California, AS, dalam wawancara dengan sejumlah wartawan, Senin (25/8/2025).
Janice pun tak sabar ingin menghadapi Raducanu yang setahun lebih muda darinya. Diakui Janice, laga ini bakal berbeda dibandingkan pertandingan-pertandingan sebelumnya yang ia lewati di AS Terbuka 2025, termasuk saat menyingkirkan petenis unggulan ke-24, Veronika Kudermetova (Rusia), 6-4, 4-6, 6-4, di babak pertama.
Maka itu, penting baginya untuk menyiapkan mental, termasuk menghadapi tekanan publik. ”Melawan Emma, penonton akan lebih banyak. Dia petenis sangat terkenal dan saya sangat senang mendapat kesempatan ini,” ujar Janice yang pernah menjadi runner-up nomor ganda di NCAA saat masih kuliah.
Janice dan Raducanu belum pernah bertemu sebelumnya. Namun, dilihat dari statistik dan pengalaman, Janice jelas tidak diunggulkan, terlepas performa Raducanu tidak lagi sehebat seperti saat menjadi juara kejutan di AS pada 2021. Ironisnya, setelah juara pada saat itu, karier Raducanu justru tenggelam dan sempat berganti-ganti pelatih.
Melihatnya (Raducanu) bermain (di AS Terbuka 2021) membuat saya terinsipirasi untuk bisa melakukan hal serupa. - Janice Tjen -
Petenis peringkat ke-36 dunia itu bahkan kandas dini di babak pertama AS Terbuka edisi 2022 dan 2024. Pada 2023, ia absen karena cedera. Masalah mental, cedera, dan ekspektasi berlebih telah bertubi-tubi menjadi halangan dalam kariernya seusai menjuarai AS Terbuka 2021.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/25/c3719d710f1666e4122251395cf5824a-MTS_SPO_TEN_WTA_MIAMI_OPEN_PRESENTED_BY_ITAU_2025_DAY_7_128478250.jpg)
Bersama pelatih barunya, Francisco Roig, Raducanu mulai membangun ulang kepercayaan dirinya. Prestasinya pada 2025 membaik. Ia memenangi lebih banyak laga Tur WTA pada tahun ini dibandingkan sebelum-sebelumnya, yaitu dengan rekor 24-17 laga. Untuk pertama kali sejak juara pada 2021, ia pun meraih kemenangan pertamanya di AS Terbuka seusai mengalahkan Ena Shibahara (Jepang), 6-1, 6-2, pada babak pertama edisi 2025.
Ia mencoba merunut ulang kisah sukses 2021 di AS Terbuka. Baginya, Pusat Nasional Tenis AS Billie Jean King di Flushing Meadows, lokasi penyelenggaraan AS Terbuka, adalah ”tempat bahagianya”. Maka itu, ia berusaha tampil lebih rileks, tanpa beban seperti empat tahun silam ketika belum dikenal banyak dunia.
”Saya mematahkan batas, tidak pernah menang di sini dalam empat tahun. Sungguh lega. Saya senang bisa menghentikannya dan saya merasa bisa terus melanjutkannya tanpa terlalu banyak memikirkannya,” ujar Raducanu dikutip BBC.
Dengan paradigma baru seperti itu, Raducanu jelas bisa menjadi ancaman Janice yang ingin lebih jauh melangkah di AS Terbuka 2025 dan mengharumkan Indonesia. Namun, grafik permainan Janice, petenis peringkat ke-149 dunia, sebetulnya melonjak pesat pada tahun ini. Rekor menang-kalahnya pada tahun ini adalah 55-10, baik di nomor tunggal maupun ganda.
Jika bisa menjaga keuletan dan mentalnya, seperti ditunjukkan saat kehilangan satu set pada laga melawan Kudermetova, kemarin, ia setidaknya bakal bisa memberikan perlawanan saat jumpa Raducanu. Janice juga memiliki senjata mematikan, yaitu pukulan slice bervariatif.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/25/8a34d168c230f362a4caf81165083784-3e949706d74548e0981ba27e71f80940_0_5cdb3e9676734f69a8db5341334ebbc8.jpg)
Pukulan-pukulan itu bahkan dianggap sejumlah jurnalis tenis dunia mirip dengan Ashleigh Barty, mantan petenis putri nomor satu dunia asal Australia. Pukulan-pukulan itu bukan tak mungkin merepotkan Raducanu.
”Melihatnya (Raducanu) bermain (di AS Terbuka 2021) membuat saya terinsipirasi untuk bisa melakukan hal serupa,” ujar Janice yang mengagumi Raducanu. (AP/AFP)
Penulis:
Yulvianus HarjonoEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra