Di dunia nyata, di Gaza, ribuan anak sedang sekarat karena kelaparan. Ini adalah genosida yang terjadi di depan mata kita, dalam kualitas 4K, kata Bardem.
20 Jun 2025 06:30 WIB · Tokoh
Aktor kawakan Javier Bardem menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi kemanusiaan di Gaza dalam sebuah wawancara dengan Variety saat menghadiri premier film F1 di Times Square, New York, Amerika Serikat, Senin (16/6/2025).
Di tengah sorotan kamera dan tepuk tangan penonton, Bardem memilih menggunakan panggung tersebut untuk menyampaikan pesan politik yang jarang terdengar di arena hiburan Hollywood.
“Di dunia nyata, di Gaza, ribuan anak sedang sekarat karena kelaparan. Ini adalah genosida yang terjadi di depan mata kita, dalam kualitas 4K,” ucap Bardem kepada Variety, sembari mengenakan pin bermotif kufiya, simbol solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Pernyataan tersebut dengan cepat menjadi sorotan media internasional, terutama karena jarangnya suara lantang dari kalangan aktor papan atas Hollywood terkait konflik tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/a79cb192957d40ea5401c6cb158b65bc-063_2220498577.jpg)
Bardem juga menyinggung peran negara-negara Barat dalam memperpanjang penderitaan warga sipil di Gaza. Ia menyerukan agar pemerintah Amerika Serikat menghentikan dukungan militer terhadap Israel, dan meminta negara-negara Eropa untuk segera mengambil langkah tegas.
“Dukungan ini harus dihentikan. Sudah cukup banyak nyawa anak-anak yang melayang,” tegasnya.
Momen tersebut bukan kali pertama Bardem bersuara tentang isu Palestina. Sebelumnya, dalam beberapa kesempatan, ia telah menyampaikan kritik terbuka terhadap kebijakan Israel dan mengajak publik untuk lebih peduli terhadap hak-hak warga sipil di wilayah konflik. Keberaniannya dianggap langka di tengah ekosistem industri film yang cenderung menghindari isu-isu geopolitik.
Premier film F1 sendiri berlangsung meriah dengan kehadiran bintang-bintang besar lainnya, termasuk Brad Pitt dan Damson Idris. Namun, sorotan atas Bardem membuktikan bahwa ruang promosi film tak selalu harus sekadar soal selebritas dan sinema, melainkan juga bisa menjadi panggung solidaritas dan suara nurani terhadap kemanusiaan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/56f857819e08ff28e4a71e862e934f41-063_2220473724.jpg)
Catatan: Artikel ini merupakan hasil kolaborasi dengan peserta magang Harian Kompas, yakni Selina Damayanti, mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Pakuan, Bogor, Jawa Barat.
Penulis:
Dahono FitriantoEditor:
Sarie FebrianePenyelaras Bahasa:
Kusnadi .