Banjir hingga Pergerakan Tanah Melanda Jawa Barat, Kepala Daerah Baru Diminta Lebih Sigap

Sejumlah bencana melanda berbagai daerah di Jawa Barat. Berulangnya banjir, longsor, hingga tanah ambles membutuhkan langkah mitigasi lebih baik.

04 Mar 2025 13:22 WIB · Nusantara

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Sejumlah bencana alam terjadi di berbagai daerah di Jawa Barat, setidaknya dalam sepekan terakhir. Ada banjir dan banjir bandang memakan korban jiwa hingga longsor dan tanah ambles yang memicu pengungsian. Kepala daerah, meski baru menjabat, diminta lebih sigap menghadapi kejadian bencana ini.

Banjir terjadi di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, hingga Kabupaten Bekasi. Selain kondisi lingkungan kritis, curah hujan tinggi memicu luapan sungai.

Di Kabupaten Bandung, luapan Sungai Citarum lagi-lagi meluber hingga permukiman di Kecamatan Dayeuhkolot dan Kecamatan Bojongsoang, Selasa (25/2/2025).

Meski hanya terjadi sehari, banjir merendam 1659 rumah yang dihuni 7298 orang. Sebanyak 233 orang diantaranya kembali mengungsi.

Seperti Kabupaten Bandung yang berada di dataran tinggi, Kabupaten Bogor, juga masih rawan banjir. Curah hujan tinggi memperbesar risiko bencana di daerah dengan banyak atraksi wisata itu.

Kepala BNPB Suharyanto (kiri) dan Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi (kanan) meninjau salah satu rumah di tepi Kali Ciliwung yang terdampak banjir di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Senin (3/3/2025).
Foto udara banjir yang merendam kawasan Cililitan dan Rawajati, Jakarta Selatan, Selasa (4/3/2025). Sejumlah titik di Jakarta terendam banjir disebabkan kali di Jakarta yang meluap akibat air kiriman dari kawasan Bogor. Hujan mengguyur dari Senin (4/3/2025) malam di hampir seluruh daerah Jabodetabek. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sedikitnya 77 RT dan 5 ruas jalan terendam banjir. Ketinggian banjir beragam mulai dari 30 sentimeter hingga 3,5 meter. Menurut warga Kali Ciliwung mulai meluap dan memasuki pemukiman warga sejak pukul 04.00 WIB. Hingga pukul 11.00 WIB, air masih meninggi. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 04-03-2025
Jembatan putus setelah banjir bandang melanda Kampung Neglasari, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (3/3/2025). Hujan dengan intensitas lebat dari Minggu (2/3/2025) sore hingga malam menyebabkan hunian warga yang berada di bantaran Sungai Ciliwung terendam dan sebagian rusak serta sejumlah jembatan desa terputus. Seorang warga tewas dalam peristiwa tersebut. KOMPAS/AGUS SUSANTO 3-3-2025
Warga mengamati jembatan yang putus setelah banjir bandang melanda Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (3/3/2025). Hujan dengan intensitas lebat dari Minggu (2/3/2025) sore hingga malam menyebabkan hunian warga yang berada di bantaran Sungai Ciliwung terendam dan sebagian rusak serta sejumlah jembatan desa terputus. Seorang warga tewas dalam peristiwa tersebut. KOMPAS/AGUS SUSANTO 3-3-2025
Warga berobat di posko kesehatan setelah banjir bandang melanda Kampung Pensiunan, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (3/3/2025). Hujan dengan intensitas lebat dari Minggu (2/3/2025) sore hingga malam menyebabkan hunian warga yang berada di bantaran Sungai Ciliwung terendam dan sebagian rusak serta sejumlah jembatan desa terputus. Seorang warga tewas dalam peristiwa tersebut. KOMPAS/AGUS SUSANTO 3-3-2025
Warga dan prajurit TNI membereskan hunian setelah banjir bandang melanda Kampung Pensiunan, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (3/3/2025). Hujan dengan intensitas lebat dari Minggu (2/3/2025) sore hingga malam menyebabkan hunian warga yang berada di bantaran Sungai Ciliwung terendam dan sebagian rusak serta sejumlah jembatan desa terputus. Seorang warga tewas dalam peristiwa tersebut. KOMPAS/AGUS SUSANTO 3-3-2025

Pada Kamis (27/2/2025), sedikitnya 1.700 warga di Kecamatan Cileungsi dan Kecamatan Citeureup terdampak banjir. Mereka tinggal di 487 rumah.

Berselang tiga hari kemudian atau Minggu (2/3/2025), bencana menerjang kawasan Puncak. Sebanyak 346 jiwa di Kecamatan Cisarua susah payah menghadapi banjir bandang.

Luapan Sungai Cisarua itu bahkan memakan korban jiwa. Asep Maulana (59), warga setempat, tewas terseret air. Pada Senin (3/3/2025) pagi, jasadnya ditemukan di Bendungan Ciawi.

Dari data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Asep terseret air bah setelah berhasil menyelamatkan istrinya. Ironisnya, Asep justru gagal menyelamatkan dirinya sendiri.

Foto udara ratusan hunian warga yang terendam luapan Kali Bekasi di Pondok Gede Permai, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/3/2025).
Sepeda motor dan mobil warga yang terendam luapan Kali Bekasi di Perum Kemang IFI Graha, Sinar Pondok Benda, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/3/2025).
Warga bertahan di atap rumah di Perumahan Pondok Gede Permai, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/3/2025). Banjir dengan ketinggian dua meter tersebut merendam hunian warga pada sejak pukul 04.00 WIB.
Foto udara hunian warga yang terendam air bah di Vila Kencana Cikarang, Desa Karangsentosa, Kecamatan Karangbahagia, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (2/3/2023). Air bah merendam hunian yang berada di dua desa tersebut sejak Jumat (24/2/2023) dengan ketinggian 30 sentimeter hingga satu meter. Banjir yang merendam perumahan yang berlangsung seminggu tersebut adalah kejadian paling parah dalam lima tahun terakhir di kawasan tersebut. Sebanyak 2.500 KK terdampak banjir di perumahan tersebut. Pemerintah daerah Kabupaten Bekasi menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi selama 14 hari. Tanggap darurat bencana dimulai sejak 27 Februari sampai 12 Maret 2023. Bencana di Kabupaten Bekasi mengakibatkan 101.568 warga terdampak. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 2-3-2023
Warga menyelamatkan barang melewati air bah yang merendam Vila Kencana Cikarang di Desa Karangsentosa, Kecamatan Karangbahagia, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (2/3/2023). Air bah merendam hunian yang berada di dua desa tersebut sejak Jumat (24/2/2023) dengan ketinggian 30 sentimeter hingga satu meter. Banjir yang merendam perumahan yang berlangsung seminggu tersebut adalah kejadian paling parah dalam lima tahun terakhir di kawasan tersebut. Sebanyak 2.500 KK terdampak banjir di perumahan tersebut. Pemerintah daerah Kabupaten Bekasi menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi selama 14 hari. Tanggap darurat bencana dimulai sejak 27 Februari sampai 12 Maret 2023. Bencana di Kabupaten Bekasi mengakibatkan 101.568 warga terdampak. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 2-3-2023

Berselang sehari, Selasa (4/3/2025), giliran Kota Bekasi dihajar banjir luapan Kali Bekasi. Air dengan ketinggian 70 sentimeter hingga 3 meter merendam 20 titik, diantaranya Bekasi Timur, Bekasi Selatan, Pondok Gede, dan Rawa Lumbu.

Selain banjir, pergerakan tanah mendera warga Cikondang, Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya. Pada Selasa (25/2), tercatat 497 warga terdampak. Sebanyak 241 diantaranya mesti mengungsi ke rumah kerabat dan aula Desa Cikondang.

Hal ini disebabkan rusaknya 90 rumah akibat retakan dan amblesan tanah sedalam 1-3 m. kondisi ini juga memutus akses jalan dari Cineam ke Kecamatan Cijulang di Pangandaran.

Teranyar adalah kejadian amblesnya Jembatan Loji di Karawang, Senin (3/3). Jembatan ini menghubungkan Bogor dan Karawang. Kondisi ini disebabkan struktur jembatan yang tidak dapat menahan luapan Sungai Cicangor.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengatakan penanganan pasca bencana telah dilakukan. Koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BPBD Jabar dengan BPBD kota/kabupaten telah dilakukan. Bentuknya seperti penanganan di lokasi bencana hingga bantuan logistik.

Ke depan, dia berharap mitigasi tetap diutamakan. Di Tasikmalaya, misalnya, selain rencana relokasi, Dedi mengusulkan perubahan desain hunian masyarakat dari rumah tembok ke rumah panggung. Itu seperti diterapkan di kampung-kampung adat, termasuk di Tasikmalaya.

Rumah panggung dengan konstruksi yang tepat dapat lebih adaptif terhadap kondisi tanah yang labil. Rumah panggung juga diproyeksikan dibangun untuk warga terdampak banjir Karangligar di Karawang.

Mitigasi juga diharapkan terjadi di kawasan Puncak. Dedi menduga salah satu penyebab bencana banjir bandang di Puncak akibat alih fungsi lahan.

â??untuk Lipsus Investigasi Puncakâ??Suasana di sekitar kawasan Pasar Cisarua, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (1/2/2021). Praktik alih fungsi lahan hijau milik negara banyak terjadi di kawasan Puncak ini. Penyimpangan tata kelola ruang dan lingkungan sedemikian rupa mengakibatkan sejumlah kerusakan lingkungan di kawasan Puncak sendiri, menimbulkan titik-titik rawan bencana baru dan juga berdampak pada sejumlah wilayah di sepanjang aliran Sungai Ciliwung.Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON)2-2-2021

Padahal, Kawasan Puncak semestinya dimanfaatkan untuk perkebunan teh maupun perhutanan, sehingga punya daya resapan air yang baik dan tidak memicu terjadinya bencana.

"Kalau areal itu mengurangi daya resapan air dan mengakibatkan bencana, kita akan evaluasi. Mana yang lebih didahulukan keselamatan warga atau sekedar kesenangan beberapa orang saja? Keselamatan warga penting lebih penting dari apapun," tuturnya.

Oleh karena itu, dia akan segera melakukan inspeksi ke Puncak bersama Menteri Lingkungan Hidup. Hasil kunjungan, ujar Dedi, bakal menjadi bekal untuk mengambil keputusan penting selanjutnya.

Salah satu langkah yang hendak dilakukannya adalah mengevaluasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jabar yang mengelola salah satu objek wisata di Kawasan Puncak.

"Ada Jaswita (BUMD Jabar), itu membangun sarana rekreasi di puncak. Dari keterangan Bupati Bogor, ada salah satu kubah terjatuh masuk sungai, menyumbat dan memicu luapan air. Itu berdasarkan Bupati Bogor ngomong di telepon dengan saya. Ini yang harus segera dibenahi," ucap Dedi.

Calon Gubernur Jawa Barat nomor 4 Dedi Mulyadi menunjukkan jari yang dilumuri tinta usai menggunakan hak suaranya di TPS 03 Desa Sawahkulon, Kecamatan Pasawahan, Purwakarta, Jabar, Rabu (27/11/2024). Dedi menggunakan hak pilihnya di TPS ini dan mulai mencoblos sekitar pukul 08.30 WIB

Sementara itu, terkait roboh Jembatan Loji, dia menyebut, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBPMR) bakal memasang jembatan darurat (bailey) untuk memastikan akses masyarakat tetap terhubung.

Lebih lanjut, Dedi memastikan bahwa pembangunan ulang Jembatan Loji akan dilakukan tahun ini agar masalah ini terselesaikan secara permanen. Selanjutnya, Jembatan Loji akan dibangun tahun ini.

Ke depan, Dedi meminta DBPMR mendata seluruh jembatan di Jawa Barat yang telah melebihi usia konstruksi. "Ini langkah penting agar kita bisa mencegah insiden serupa di masa depan. Jangan sampai jembatan-jembatan yang sudah tua tiba-tiba ambruk dan membahayakan masyarakat," katanya.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati menegaskan peran pemerintah daerah dalam mitigasi bencana sangat krusial. Itu, terutama dalam memastikan setiap peringatan dini ditindaklanjuti dengan langkah antisipatif di lapangan.

Dwikorita mengatakan, peringatan dini bukan sekadar informasi, tetapi juga seruan untuk tindakan nyata. Kecepatan dan kesiapan dalam merespons peringatan dini cuaca ekstrem sangat menentukan upaya mitigasi risiko, baik dari segi korban jiwa maupun kerugian materiil.

Menurut Dwikorita, pihaknya terus menyampaikan peringatan dini cuaca ekstrem melalui berbagai kanal komunikasi resmi, termasuk website, aplikasi mobile, sms blasting dan media sosial BMKG. Namun, efektivitas peringatan dini ini sangat bergantung pada kesiapan daerah dalam meresponsnya dengan langkah konkret.

Salah satu rumah warga yang terdampak bencana pergerakan tanah di Desa Cikondang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (27/2/2025). Kondisi ini terjadi selama sepekan terakhir pada minggu kedua bulan Februari tahun 2025.

“Diperlukan koordinasi yang lebih erat antara pemerintah daerah dan masyarakat guna meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi  secara lebih cepat dan efektif,” ujar Dwikorita dalam siaran pers pada Selasa (4/3).

Dwikorita memahami, banyak daerah saat ini dipimpin kepala daerah baru. Terbuka kemungkinan, mereka masih beradaptasi dengan perangkat di bawahnya.

Oleh karena itu, BMKG siap memberikan pendampingan lebih lanjut, agar pemahaman terhadap sistem peringatan dini semakin optimal dan dapat diterjemahkan ke dalam tindakan mitigasi yang efektif.

Hujan dengan intesitas tinggi diprediksi masih akan terjadi pada 4 - 11 Maret 2025. Kondisi ini sangat rentan memicu bencana di berbagai wilayah Indonesia. Mitigasi dan kesiapsiagaan semua pihak, warga atau pemerintah, mesti disiapkan sejak dini mencegah dampak buruk selalu terulang lagi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .