Jazz, Polemik, dan Hal-hal yang Tak Selesai

Lebih dari itu, jazz adalah organ eksosomatis dengan daya emansipatif bagi budak Afrika-Amerika—suara bagi yang tak dihitung.

25 Jul 2025 14:00 WIB · Artikel Opini

Oleh Sri Hanuraga

Banyak pelaku dan penggemar musik menganggap genre sebagai sekat yang dipaksakan industri untuk memfasilitasi komersialisasi. Namun, musikolog Harris M Berger dan Giovanna P Del Negro mengungkapkan bahwa genre sesungguhnya adalah semesta moral yang merangkum paradigma dan horizon simbol.

Dari sini, jazz bukan sekadar gaya bermusik atau pendirian estetis, melainkan semesta simbol, komunitas yang mencakup performance practice, tata cara pergaulan, serta laku hidup. Lebih dari itu, jazz adalah organ eksosomatis dengan daya emansipatif bagi budak Afrika-Amerika—suara bagi yang tak dihitung.

Dalam History of Jazz, Ted Gioia menceritakan bagaimana budak Afrika—tercerabut dari tanah kelahiran—berpegang pada musik dan cerita rakyat sebagai sisa identitas. Upaya penjajah untuk menekan unsur Afrika dan memaksakan musik Barat "adiluhung" justru berbalik: idiom Eropa diadaptasi dan dipersonalisasi oleh para budak. Kemampuan musisi Afrika untuk mengubah tradisi musik Eropa dan mengasimilasi unsur-unsurnya merupakan kekuatan evolusioner yang dahsyat dalam sejarah musik modern.

Praktik tersebut kemudian berlanjut di musik jazz. Improvisasi—menurut pengkaji black studies Fumi okiji—adalah adalah sarana untuk melakukan defamiliarisasi terhadap melodi yang populer. Namun, kosabunyi yang familiar kian kehilangan daya pengasingannya. Oleh karena itulah laku pengasingan ini kemudian seolah menuntut musisi jazz untuk selalu berdialog dan mengasimilasi kosabunyi di luar dirinya.

Kelompok Huaton Dixie tampil dengan berkeliling dusun dalam ajang Ngayogjazz di Dusun Cibuk Kidul, Margoluwih, Seyegan, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (19/11/2022). Ngayogjazz kembali digelar dengan menghadirkan 40 penampil.

Sejarah jazz dipenuhi contoh asimilasi: Art Tatum merombak piano jazz dengan unsur klasik Eropa, Charlie Parker dan Bud Powell mengadopsi Bach, Herbie Hancock menginkorporasi Stravinsky dan Messiaen, Miles Davis mengintegrasikan rock, hingga Steve Lehman yang menyerap hip-hop dan musik spektral.

Tradisi tersebut menyebabkan musik jazz terlihat sangat cair. Namun, meski cair jazz tetap memiliki batasan-batasan yang jelas. Dengan mengacu pada kesejarahan dan praktik pertunjukan, kita selalu bisa menelusuri jejak-jejak tradisi bebop pada tiap mutasi musik jazz. Bebop adalah mutasi jazz yang muncul tahun 1940-an, di dalamnya terangkum semesta bunyi dan logika bahasa jazz.

Bahkan ketika kita bertatapan dengan mutasi jazz yang sangat dekat dengan musik pop maupun avant garde sekalipun, kita bisa melacak jejak bebop baik dari aspek pengorganisasian nada, timbre, sensibilitas ritme, orientasi terhadap proses, moda komunikasi antar pemain, hingga kemampuan merangkum paradoks. Maka, sesungguhnya kita memiliki ukuran-ukuran taksonomi yang jelas. Pertanyaannya sekarang adalah, untuk apa?

Ini bukan sekedar masalah penegakan kemurnian estetika, toh pada dasarnya jazz adalah makhluk hibrida, chimera, sudah menjadi hakikatnya untuk terus bermutasi. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, jazz bukanlah sekedar gaya bermusik, ia adalah warisan perlawanan budak Afrika-Amerika. Mengacu pada konsep performativitas filsuf Judith Butler—wahana di mana efek ontologis dibangun—tidaklah etis jika penyelenggara acara jazz justru menampilkan musik genre lain. Segala sesuatu yang dilakukan berulang, apalagi dengan skala besar, akan membentuk suatu efek ontologis yang berisiko mengaburkan identitas jazz sebagai musik perlawanan. Musisi lokal pun dituntut mengikuti selera pasar demi panggung.

Maka, alangkah rongsoknya penyelenggara acara yang menggunakan narasi korban, mengatasnamakan perlawanan terhadap kemapanan, pemberdayaan masyarakat, dan pembaruan demi membenarkan agenda kapitalistiknya yang justru turut andil menghapus jejak perjuangan kaum tertindas.

Dalam sejarah, pembaruan sejati selalu memunculkan estetika baru, makna baru, pengetahuan, nilai, moda relasi dan subyektivitas baru yang mengandung daya anti-entropi. Jika kebaruan mengekang, maka ia hanyalah iterasi lain dari hasrat yang ditunggangi oleh pasar.

Mari kita pikirkan, memangnya apa yang baru dari menampilkan musik pop dan saksofonis dengan estetika tahun 1980-an di festival jazz? Bagaimana mungkin estetika retro menghasilkan sesuatu yang baru? Bukan kebaruan, tetapi keharuan yang hadir. Alih-alih menyambut masa depan ia justru membatalkan masa depan!

Persoalannya bukan kehadiran genre lain, melainkan cara mengkomunikasikannya kepada publik. Mari kita ambil festival North Sea Jazz sebagai contoh. Meski menghadirkan musisi pop, pada berbagai publikasinya festival tersebut memberikan sorotan lebih bagi musisi jazz garda depan. Belum lagi dengan strategi penjadwalan dan alur pemanggungan yang membuat penggemar musik pop terpapar oleh musisi jazz yang tampil.

Jika memang penyelenggara festival jazz di Indonesia peduli akan kebaruan, maka mereka perlu menyadari bahwa, seperti yang kita lihat pada kelahiran bebop, kebaruan justru selalu memantik resistensi publik. Karenanya penyelenggara perlu membuka diri dan mengambil resiko agar jazz dapat memenuhi hakikatnya untuk terus bermutasi dan menghadirkan pengasingan yang menyegarkan.

Segala yang kini mengklaim diri sebagai jazz adalah anak kandung dari denyut sejarah yang mendahuluinya. Kita berdiri di atas bahu para perintis. Sudah sepatutnya kita melanjutkan langkah mereka, bukan menghapuskan jejak mereka, tentu dengan segala kemungkinan yang lebih liar.

Beberapa festival telah mencoba mewujudkan visi pembaruan jazz di Indonesia. Ngayogjazz dan Jazz Gunung mengadakan program inkubasi untuk komunitas jazz di luar Jakarta, fokus pada penciptaan karya orisinal dengan pendekatan estetika baru. Namun, minimnya penguasaan dasar jazz di kalangan peserta membuat inisiatif ini belum mencapai hasil optimal.

Sementara itu, Salihara Jazz Buzz membuka komisi karya yang mewajibkan integrasi new music ke dalam jazz. Program ini sempat melahirkan gagasan-gagasan segar, tetapi akhirnya mandek. Penyebabnya kompleks: penguasaan tradisi jazz yang belum mendalam dan kurangnya musisi yang bersedia mengeksplorasi teritori baru. Akhirnya, program terpaksa dihentikan. Upaya-upaya ini menunjukkan bahwa inovasi jazz di Indonesia masih memerlukan fondasi yang lebih kuat—baik dalam pemahaman tradisi maupun keberanian mengeksplorasi hal baru.

Refleksi atas berbagai festival jazz menunjukkan bahwa pembaruan estetika memerlukan penguatan pemahaman dasar dan sejarah jazz. Legato Jazz Camp menjadi pionir dalam hal ini, dengan program yang kemudian diadopsi oleh Jazz Gunung dan didukung oleh UPH Conservatory. Namun, kesuksesan awal ini perlu didukung program lanjutan untuk mengembangkan bakat-bakat baru secara berkelanjutan. Inovasi jazz membutuhkan pendekatan kuratorial yang berorientasi jangka panjang, yang mencerminkan sifat jazz sebagai karya komunal lintas generasi.

Indonesia pernah memiliki Riza Arshad, pianis dan komponis jazz dengan tawaran semesta bunyi yang idiosinkratik. Ketika banyak musisi jazz Indonesia memusatkan pandangan ke Amerika, Arshad memperluas cakrawalanya dengan mempercakapkan jazz dengan sumber penciptaan lokal, dan musik baru. Ironisnya, ketika inovasinya mulai matang, banyak festival justru menutup pintu. Ahasil, warisannya nyaris tanpa gema di telinga generasi muda. Sepeninggalnya, tak banyak yang merawat dan melanjutkan pengetahuan yang ia rajut.

Merujuk Bifurcate,—sebuah tulisan kolektif yang disunting filsuf Bernard Stiegler— pengetahuan, berbeda dengan informasi yang lapuk oleh waktu, takkan lekang, dan terus memperbarui diri selama terus disebarkan dan dipraktikkan secara kolektif. Dengan kata lain, menciptakan estetika baru tidak cukup, ia perlu dirawat.

Di sinilah peran festival sebagai muara sekaligus ruang penjagaan. Maka, untuk menjelajah belantara yang tak terbabar ini, penyelenggara festival jazz di Indonesia perlu bersilang referensi dan berkontribusi silang untuk mengisi ragam peran, bukan hanya demi menumbuhkan estetika baru, tetapi juga menopang dan merawatnya, agar ekosistem jazz Indonesia tetap bernapas.

Sri Hanuraga, Pianis jazz, komponis, produser musik dan koordinator peminatan Jazz & Pop Music Performance UPH Conservatory of Music.


Kerabat Kerja

Penulis:

Sri Hanuraga
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra