Arsip Foto ”Kompas”: Jejak Energi Hijau di Waduk Cirata

Waduk Cirata menyimpan jejak energi hijau yang diritis sejak era tahun 1980-an melalui PLTA Cirata dan kemudian dilanjutkan melalui PLTS Terapung Cirata.

14 Mei 2025 10:00 WIB · Foto

Oleh Priyombodo .

Pemanfaatan energi hijau atau sekarang dikenal dengan istilah Energi Baru dan Terbarukan (EBT) telah lama dirintis oleh Indonesia. Salah satunya yang  paling monumental adalah pembangunan PLTA Cirata, Jawa Barat. Tidak hanya membangun PLTA, pemerintah saat itu terlebih dulu membangun bendungan agar dapat memanfaatkan derasnya aliran Sungai Citarum.

Melalui arsip foto Kompas, terekam jejak peran Waduk Cirata dalam kaitannya dengan pemanfaatan energi hijau yang tengah digalakkan dunia.

Dalam selembar foto hitam putih tampak Presiden Soeharto menghadiri prosesi peletakan ”batu abadi” bendungan utama Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata, Jawa Barat. Dalam foto yang dibuat pada 6 Mei 1986 itu, kepala negara tampak bertepuk tangan setelah menekan tombol menandai dimulainya pembangunan PLTA Cirata, yang direncanakan tahap pertama mempunyai daya terpasang 500 MW (4 x 125 MW). PLTA Cirata dibangkitkan oleh tenaga air Sungai Citarum dengan debit maksimum 540 meter kubik/detik.

comparison left
comparison right
before-after-arrow

Pembangunan PLTA ini akan menenggelamkan beberapa daerah yang  semula adalah permukiman dan lahan pertanian maupun kebun rakyat menjadi waduk. Begitu juga beberapa jalan dan jembatan akan terputus sehingga perlu dibangun prasarana dan infrastruktur berupa jalan dan jembatan baru agar daerah di sekitaran pinggiran waduk tidak terisolasi. Ribuan warga yang menghuni 20 desa di 7 kecamatan dan 3 kabupaten di Jawa Barat, yakni Purwakarta, Cianjur, dan Bandung Barat dipindahkan dari wilayah yang akan digenangi air untuk kepentingan PLTA.

Setahun kemudian, foto karya wartawan Harian Kompas, Hasanuddin Assegaff, memperlihatkan kendaraan berat mengangkut trafo seberat 65 ton milik Perusahaan Listrik Negara dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menuju lokasi proyek di Daerah Aliran Sungan (DAS) Citarum di Desa Tegal Waru, Plered, Purwakarta, Jawa Barat, pada Medio Mei 1987. PLTA Cirata mulai beroperasi dan diresmikan oleh Presiden Soeharto bersamaan dengan PLTA Mrica di Jawa Tengah dan PLTA Sengguruh  di Jawa Timur pada Maret 1989.

Pintu terowong pengelak Bendung Cirata ditutup pelan-pelan, menandai pengisian waduk ketiga di Jawa Barat, pada 1 September 1987.
Lokasi "batu abadi" bendungan utama Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata, Jawa Barat, yang peletakannya dilakukan oleh Presiden Soeharto, pada 6 Mei 1986. Peletakan batu abadi ini sebagai tanda dimulainya pembangunan PLTA Cirata, yang direncanakan tahap pertama mempunyai daya terpasang 500 MW (4 x 125 MW), yang dibangkitkan tenaga air Sungai Citarum dengan debit maksimum 540 m kubik/detik.
Ujung terowongan untuk mengalihkan aliran Sungai Citarum yang mulai dikerjakan beberapa waktu lalu. Selain sebagai pengelak aliran sungai, terowongan ini nantinya akan dimanfaatkan sebagai terowongan pelimpah (spillway).
Sekarang daerah ini masih merupakan daratan. Namun kelak, jika air sudah menggenangi waduk Cirata, daerah ini akan berubah jadi genangan,sehingga tangga-tangga yang dibangun di sana berfungsi sebagai pembantu bagi penduduk yang akan menyeberang melalui tempat yang disebut "terminal air".
Jembatan kereta api Ciganea yang menghubungkan Purwakarta dan Plered di Jabar terpaksa dibongkar untuk memungkinkan tujuh kendaraan berat (trailer) yang membawa trafo melintas di bawah jembatan. Trafo milik PLN itu diangkut ke PLTA Cirata.
Trafo milik PLN (Perusahaan Listrik Negara) seberat 65 ton diangkut dengan kendaraan berat (trailer) dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menuju ke PLTA Cirata pada medio Mei 1987.
Peresmian jembatan Cilangkap di Purwakarta melintasi Sungai Citarum yang dibangun oleh PLN diresmikan oleh Dirut PLN Ir Sardjono. Jembatan menghubungkan Kabupaten Purwakarta dan Cianjur ini dibangun untuk angkut lintas peralatan berat PLTA Cirata.
Dam Cirata dengan panjang 432 meter dan tinggi 114 meter membentang pada palung Sungai Citarum sehingga memungkinkan air sungai terbendung. Kelak jika PLTA Cirata sudah berfungsi, air Sungai Citarum tidak lagi mengalir seperti asalnya, tetapi melalui pipa pesat yang menuju power house untuk kemudian digunakan sebagai tenaga pembangkit tenaga listrik.
Deretan generator di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata, Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (26/9/2023). PLTA yang dibangun pada dekade 1980-an ini memiliki delapan unit pembangkit listrik dengan total kapasitas 1.008 megawatt (MW). PLTA ini memasok listrik untuk wilayah Jawa, Madura, dan Bali.

PLTA Cirata mengalami beberapa kali pengembangan, terutama dalam hal peningkatan kapasitas. Hingga tahun 1998, PLTA ini memiliki kapasitas total 1.008 megawatt  (MW) yang  dihasilkan dari delapan generator. Dengan kapasitas tersebut, PLTA Cirata menjadi pembangkit listrik tenaga air terbesar di Indonesia. Listrik dari PLTA Cirata disalurkan ke sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali.

Tenaga surya

Usia waduk Cirata telah lebih dari 35 tahun, tetapi perannya bagi sistem kelistrikan Jawa Bali masih vital. Di atas air waduk ini sejak tahun 2023 terbentang 13 pulau panel surya milik PLTS Terapung Cirata. Pulau-pulau ini menempati area seluas 200 hektar di bagian utara waduk dan hanya  berjarak sekitar 400 meter dari pintu pengambilan air (water intake) PLTA Cirata di Plered, Purwakarta.

Pembangunan PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara ini merupakan kolaborasi PLN dengan perusahaan energi asal Uni Emirat Arab, Masdar.  Proyek yang dimulai pada tahun 2021 akhirnya rampung dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 9 November 2023. Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti yang berlangsung di pinggir waduk. Dari lokasi tersebut hamparan pembangkit berupa 343.000 panel surya di permukaan perairan waduk terlihat dengan jelas. Sebuah pemandangan baru di Waduk Cirata.

PLTS Cirata Masa Depan Energi Hijau Indonesia
Aktivitas perawatan panel surya di PLTS terapung Cirata, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada 15 Juli 2024. PLTS terbesar di Asia Tenggara dan ketiga di dunia ini menempati area seluas 200 hektar dan memiliki kapasitas sebesar 192 megawatt-peak (MWp).
Bedungan Cirata yang terletak di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada 16 Juli 2024. Bendungan Cirata merupakan bendungan strategis yang dimanfaatkan sebagai PLTA dan PLTS terapung yang berkontribusi bagi sistem kelistrikan Jawa-Bali.
Aktivitas perawatan di PLTS terapung Cirata, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada 15 Juli 2024. PLTS terbesar di Asia Tenggara ini memiliki kapasitas 192 megawatt-peak (MWp) dan mampu memproduksi 245 juta kilowatt jam (kWh) energi bersih per tahun. Kapasitas tersebut dapat mengaliri listrik setara lebih dari 50.000 rumah.
Teknisi memeriksa panel pada proyek PLTS Cirata di Purwakarta, Jawa Barat, pada 26 September 2023. PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara ini berkapasitas 192 MWp dan mampu memproduksi 245 juta kWh energi bersih per tahun serta melistriki lebih dari 50.000 rumah.
Foto aerial PLTS terapung Cirata di Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, pada 16 Juli 2024. PLTS terapung di atas Waduk Cirata memiliki kapasitas 192 megawatt-peak (MWp) dan mampu memproduksi 245 juta kilowatt jam (kWh) energi bersih per tahun. Kapasitas tersebut dapat mengaliri listrik setara lebih dari 50.000 rumah.

PLTS berkapasitas 192 megawatt-peak (MWp) ini menghasilkan energi sebesar 245 juta kilowatt jam (kWh) per tahun atau dapat memasok listrik untuk 50.000 rumah tangga.

”Hari ini merupakan hari yang bersejarah karena mimpi besar kita untuk membangun pembangkit energi baru terbarukan dalam skala besar akhirnya bisa terlaksana. Indonesia berhasil membangun PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara dan nomor 3 di dunia,” ujar Presiden Joko Widodo dalam sambutannya saat itu.

PLTS terapung Cirata merupakan proyek strategis nasional (PSN) yang mampu memproduksi energi bersih sebesar 245 gigawatt hour (GWh) per tahun dan mereduksi 214.000 ton CO₂ per tahun.

Di tengah ancaman polusi sampah dari aliran Sungai Citarum, tanaman eceng gondok, hingga debit air yang menyusut sebagai dampak dari pemanasan global, PLTA dan PLTS terapung menjadi bukti nyata jejak energi hijau di Waduk Cirata.

 

 

 

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Priyombodo .
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul