Setelah 25 tahun kosong, jabatan wakil panglima TNI terisi kembali. Presiden melantik Jendral Tandyo sebagai Wakil Panglima TNI. Bagaimana perjalanan kariernya?
10 Agt 2025 10:46 WIB · Politik & Hukum
Teka-teki dan spekulasi mengenai sosok yang akan mengisi jabatan wakil panglima TNI akhirnya terjawab. Pada Minggu (10/5/2025) pagi, Presiden Prabowo Subianto melantik Jenderal Tandyo Budi Revita sebagai Wakil Panglima TNI, jabatan yang sudah 25 tahun kosong. Sosoknya mungkin tidak sering menjadi sorotan utama media. Namun, di balik jejaknya yang cenderung senyap, terbentang lintasan karier militer yang cemerlang dan nyaris tanpa kontroversi.
Presiden melantik Wakil Panglima TNI baru itu di Pusdiklatpassus Komando Pasukan Khusus, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Pelantikan itu menjadi puncak dari dedikasi panjang Jenderal Tandyo, prajurit yang matang di berbagai medan penugasan. Penunjukannya mengisi kembali posisi strategis yang berfungsi sebagai penyeimbang dan penyokong utama tugas-tugas Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Lahir di Surakarta 56 tahun silam, Tandyo adalah abiturien Akademi Militer 1991 dari kecabangan infanteri. Kecabangan ini membawanya langsung ke palagan tempur dan menjadikannya saksi berbagai operasi penting dalam negeri. Seperti perwira seangkatannya, ia kenyang pengalaman dalam operasi di Timor Timur, Aceh, hingga Irian Jaya (kini Papua).
Pengalaman tempur yang solid inilah yang menjadi fondasi Tandyo sebelum dipercaya dalam penugasan krusial sebagai Komandan Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda di Lebanon pada 2006-2007. Penugasan ini juga merupakan sebuah bukti pengakuan atas kemampuannya di level internasional.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/06/6f1862af-6783-49c8-832f-96cc21e2868e_jpg.jpg)
Dari palagan operasi, Tandyo beralih ke spektrum teritorial. Ia dipercaya memegang tongkat komando mulai dari Komandan Korem 142/Taroada Tarogau hingga Panglima Kodam (Pangdam) IV/Diponegoro. Saat menjabat pangdam di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta—wilayah dengan dinamika sosial-politik yang tinggi—ia berhasil menjaga stabilitas dan netralitas institusi, terutama selama periode krusial Pemilu 2024.
Alih-alih larut dalam polemik, Tandyo memilih fokus pada program yang berdampak langsung bagi masyarakat. Salah satu inisiatifnya yang menonjol adalah program ”TNI Manunggal Air”. Secara masif TNI membangun titik-titik air bersih untuk mengatasi kekeringan di berbagai daerah di wilayah Jateng. Ini adalah cerminan kepemimpinannya yang bekerja untuk menghasilkan karya nyata.
Sebelum kembali ke Mabes Angkatan Darat sebagai Wakil KSAD pada akhir 2023, ia ditarik ke jantung kebijakan pertahanan negara, yakni sebagai Kepala Badan Diklat dan Dirjen Potensi Pertahanan di Kementerian Pertahanan. Pengalaman ini memberinya pemahaman holistik tentang arsitektur pertahanan, dari pengembangan prajurit di lapangan hingga perumusan strategi di tingkat nasional.
Sepanjang perjalanan kariernya yang membentang lebih dari tiga dekade, nama Tandyo Budi Revita bersih dari isu-isu negatif. Ia membangun reputasi sebagai seorang profesional yang bekerja lurus sesuai tugas pokoknya.
Berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) yang disampaikannya pada 25 Maret 2025 untuk periode 2024, total harta kekayaannya tercatat sebesar Rp 6,69 miliar. Angka tersebut merupakan hasil dari total aset senilai Rp 9,19 miliar dikurangi utang sebesar Rp 2,5 miliar.
Aset terbesar Jenderal Tandyo, yang saat pelaporan masih menjabat Wakil KSAD, berupa tanah dan bangunan dengan nilai total Rp 5,84 miliar. Portofolio aset lainnya terdiri atas kas dan setara kas senilai Rp 2,37 miliar, alat transportasi dan mesin senilai Rp 518 juta, harta bergerak lainnya Rp 380 juta, serta surat berharga senilai Rp 77,9 juta. Di dalam garasinya tercatat, antara lain, satu unit mobil Jeep Rubicon dan motor Kawasaki KLX.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/03/20d353f4f4f499ca6be43c3f4b8e3a89-WhatsApp_Image_2025_02_03_at_20.38.01.jpeg)
Dosen Universitas Nasional, Selamat Ginting, sebelumnya mengatakan, calon kuat wakil panglima TNI adalah sosok bintang tiga yang pernah bekerja sama dengan Prabowo di Kemenhan. Ia menyebut ada empat calon yang bisa menjadi wakil panglima TNI, yaitu tiga wakil kepala staf, masing-masing dari TNI AD, TNI AU, dan TNI AL, serta kepala Staf Umum.
Sosok wakil panglima TNI, lanjut dia, selalu memiliki konteks pada masanya. Terakhir, jabatan itu dipegang oleh Jenderal Fachrul Razi pada Oktober 1999-September 2000. Saat itu, ada peristiwa yang terjadi, yaitu untuk pertama kali perwira tinggi TNI AL menjadi Panglima TNI, yaitu Laksamana Widodo AS.
”Selama ini, Panglima selalu dari AD. Oleh karena itu, harus diperhatikan,” kata Selamat. Bahwa Wakil Panglima dan Panglima TNI sama-sama dari TNI AD, Selamat mengatakan, kecenderungan Prabowo memang pada Angkatan Darat.
Kini, di kursi Wakil Panglima TNI, Jenderal Tandyo dihadapkan pada tantangan yang lebih besar. Ia dituntut untuk menjadi motor operasional yang memastikan kesiapan tempur dan interoperabilitas tiga matra, sementara Panglima TNI fokus pada arah kebijakan strategis. Jejak senyapnya selama ini telah berakhir; kinerjanya kini akan dinilai di panggung tertinggi militer Indonesia.
Penulis:
Willy Medi Christian Nababan, Iqbal BasyariEditor:
Anita YossiharaPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto