Pulau Lesbos menjadi tempat yang dikunjungi Paus Fransiskus dua kali dalam selang lima tahun.
29 Apr 2025 08:00 WIB · Foto
Maskapai penerbangan Perancis, Alitalia, yang membawa rombongan Paus Fransiskus mendarat di bandara Yunani, Sabtu 16 April 2016 pukul 10.00 waktu setempat. Turun dari pesawat, Paus Fransiskus disambut Perdana Menteri Alexis Tsipras, pemuka agama Kristen Ortodoks Yunani dan Uskup Agung Athena.
Paus Fransiskus akan melawat ribuan pengungsi di kamp Moria di Pulau Lesbos untuk menunjukkan dukungannya terhadap mereka yang melarikan diri dari negara asalnya demi menghindar dari perang dan kemiskinan.
Tiba di tempat pengungsian, ratusan pengungsi telah siap menyambut kedatangan Paus. Anak-anak berlarian mendekati dan memeluk Paus, sementara mereka yang lain berjabat tangan sembari meminta berkat. Dalam kesempatan itu, Paus juga mengajak ratusan pengungsi makan siang bersama. Seorang bocah memberi kertas yang telah ia gambar kepada Paus.
Sebelum meninggalkan Lesbos, Paus dan pimpinan gereja Ortodoks Yunani, Bartholomew, serta Uskup Agung Athena Leronymos II menandatangani deklarasi, mendesak masyarakat internasional agar memprioritaskan pelindungan nyawa migran dan memberi suaka sementara bagi orang yang membutuhkannya. Mereka juga mengheningkan cipta di hadapan ratusan orang di Pelabuhan Mytilene, Lesbos, dan melemparkan karangan bunga ke laut, mengenang orang-orang yang meninggal ketika berusaha mencapai Eropa.
Yang mengejutkan, dalam perjalanan pulang, Paus membawa 12 pengungsi asal Suriah ke Roma, Italia. Mereka terdiri atas keluarga Muslim, termasuk enam anak-anak yang akan ditampung Paus Fransiskus di kota suci Vatikan. Keluarga-keluarga ini datang dari tiga kota berbeda di Suriah. Mereka korban konflik bersenjata yang melarikan diri dari negaranya. Semua pengungsi yang dibawa oleh Paus adalah pengungsi Muslim.
Tindakan Paus ini merupakan simbol penerimaan Vatikan atas pengungsi di tengah penolakan negara-negara Eropa. Sebagaimana diketahui saat itu, Uni Eropa dan Turki menyepakati persetujuan deportasi yang kontroversial untuk mengakhiri krisis migran yang paling buruk di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/28/080a5e12-b386-4c24-a83d-e46ed23e2604_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/28/36916e8b-294e-4ebc-8aaf-8ded21167df8_jpg.jpg)
Kembali datang ke Lesbos
Pada 5 Desember 2021, Paus Fransiskus kembali mengunjungi kamp pengungsuan di Lesbos, Yunani. Dalam kunjungan singkatnya, terlihat tenda yang disediakan untuk Paus berdialog dengan pengungsi, dindingnya terbuka dengan pemandangan rumah-rumah yang menjadi tempat hunian sementara pengungsi.
Selama beberapa dekade terakhir, ratusan ribu pengungsi yang melarikan diri dari kekerasan di Timur Tengah menjadikan Lesbos sebagai tujuan persinggahan untuk mencari relokasi permanen di Eropa.
Sebelum menyampaikan pidatonya, Paus menyempatkan diri berjalan di sekeliling kamp pengungsian. Ratusan anak kecil dan orang dewasa menyambut dari balik pagar sembari mengacungkan jempol ataupun mengacungkan dua jari.
Saat berbicara dengan latar belakang tempat penampungan pengungsi di sepanjang pantai laut Aegea, Paus Fransiskus juga melemparkan kritik terhadap penggunaan kawat berduri yang mengelilingi kamp pengungsian itu.
”Ketika nyawa manusia terancam, ketika martabat manusia dalam bahaya, batas-batas negara menjadi tidak relevan,” kata Fransiskus, mengutip mendiang Elie Wiesel dalam sambutannya. Lesbos mungkin menjadi satu-satunya tempat yang dikunjungi dua kali dalam jeda tahun.
Lesbos menggambarkan toleransi dan kemanusiaan Paus Fransiskus.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto