Mengudara pertama kali pada 24 Agustus 1962, TVRI terus berkembang mengikuti dinamika zaman. Tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Penyiaran Nasional.
23 Agt 2025 10:10 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
TVRI, yang merupakan jaringan televisi pertama di Indonesia, mulai mengudara pada 24 Agustus 1962. Hari tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Televisi Nasional.
Terbentuknya TVRI tidak lepas dari usulan seorang mantan penyiar RRI, yaitu Maladi, pada 1955 yang bertujuan untuk membantu pemerintah menyosialisasikan pemilihan umum pertama yang dilakukan pada tahun tersebut.
Walau telah disetujui oleh Presiden Sukarno, kabinet yang saat itu berkuasa menolaknya dengan alasan biaya terlalu mahal.
Pada 1959, Maladi kemudian menjabat sebagai Menteri Penerangan, kembali mengusulkan idenya kepada Presiden Sukarno. Maladi beranggapan bahwa dengan terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games IV pada 1962, maka televisi dianggap mampu menjadi alat mengembangkan persatuan dan kesatuan nasional lewat acara olahraga yang disiarkan, minimal satu cabang olahraga per hari.
Usulan tersebut kemudian diterima banyak pihak termasuk oleh Presiden, sehingga pada 1960, Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara mengeluarkan Tap MPRS No II/MPRS/1960 yang mendorong pendirian sebuah stasiun televisi.
Pada 17 Agustus 1962, TVRI mulai mengadakan siaran percobaan dengan acara HUT Ke-17 RI dari halaman Istana Merdeka, Jakarta, dengan format hitam-putih dan didukung pemancar cadangan berkekuatan 100W. Kompleks siaran TVRI selesai dalam waktu kurang dari setahun dan diresmikan pada 23 Agustus 1962.
Pada 24 Agustus 1962, TVRI mengudara untuk pertama kalinya dengan acara siaran langsung upacara pembukaan Asian Games IV dari Stadion Utama Bung Karno. Dengan hadirnya TVRI, Indonesia menjadi salah satu negara di Asia yang memiliki siaran televisi saat itu, setelah Jepang, Thailand, Filipina, China, dan Korea Selatan. walaupun pada saat yang mempunyai televisi di Indonesia hanya berjumlah 10.000-15.000 buah dan siaran TVRI hanya dinikmati sekitar 2 persen penduduk.
Pada 1963, pegawai TVRI mencapai 100 orang, dan pada pertengahan tahun yang sama, Divisi Pemberitaan didirikan, awalnya dipegang oleh 5 anggota staf yang bekerja 14 jam sehari dan menyiarkan dua acara berita.
Selain tenaga kerja dalam negeri, sebanyak 23 orang dari Jepang (yang merupakan hasil kerja sama Colombo Plan) awalnya juga sempat ditempatkan di TVRI untuk membantu pengembangannya, di bidang teknik, studio, pemancar, manajemen, film, produksi dan audio. Pendanaan TVRI berasal dari anggaran negara (sejak 1966), Iklan (sejak 1 Maret 1963), iuran televisi (sejak akhir 1963) dan sponsor.
Untuk memperluas jangkauan, sejak 1965 dirintis pembangunan Stasiun Penyiaran Daerah yang dimulai dengan TVRI Stasiun Yogyakarta yang secara berturut-turut diikuti dengan Stasiun Medan (1970), Ujung Pandang (1972), Surabaya (1978), Denpasar (1978), Manado (1978), Bandung (1987), dan Samarinda (1993).
Banyak dari stasiun ini awalnya bukan didirikan langsung oleh TVRI, melainkan oleh beberapa lembaga lain. Stasiun itu misalnya di Yogyakarta oleh Departemen Penerangan dan di Medan dibentuk dari kerja sama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pertamina. Namun, seiring sentralisasi pemerintah Orde Baru dan kebutuhan modal yang lebih besar, stasiun daerah ini perlahan-lahan diintegrasikan dengan Stasiun Pusat Jakarta dan diatur secara lebih terpusat dalam pemrogramannya.
Pada 1982, tercatat TVRI memiliki 10 Stasiun Produksi Keliling (SPK) berarmada Mobil Unit Produksi, ditambah 9 stasiun, 193 menara pemancar dan 30 stasiun relai. SPK kemudian diperluas hingga 12 kota, mulai dari Banda Aceh hingga Jayapura.
Karyawan TVRI juga terus bertambah dari 898 orang pada 1972, menjadi 6.000 orang pada 1991.
Sebagai spirit kerja, TVRI tumbuh dengan slogan-slogan yang berganti menyesuaikan zaman. Slogan-slogan tersebut, yaitu Menjalin Persatuan dan Kesatuan (1962-2001), Makin Dekat di Hati (2001-2003), Saluran Pemersatu Bangsa (2001, 2012-2019), Semangat Baru (2003-2012), Mencerdaskan dan Aman Bagi Keluarga (2011), dan dari 2019 hingga saat ini slogan TVRI adalah Media Pemersatu Bangsa.
Harian Kompas menyimpan banyak arsip foto mengenai perkembangan dari TVRI yang berasal dari beragam rentang tahun.
Dalam arsip foto yang dibuat pada Selasa, 2 Oktober 1979, wartawan Kompas, Bambang SP, memotret suasana ruang pusat operasi Studio II TVRI. Dari foto tersebut, kesibukan sangat terasa, Para pekerja tampak sedang memperhatikan banyak layar monitor dengan pesawat telepon yang saat ini sudah tidak digunakan lagi terlihat bersama mereka.
Sebagai komitmen TVRI untuk terus mengembangkan jaringan, Kompas juga mendokumentasikan proses tersebut. Pada Sabtu, 17 Juli 1982, tersimpan arsip saat Presiden Soeharto menghadiri acara pelepasan 10 mobil SPK yang akan ditempatkan di 10 provinsi. Kegiatan pelepasan dilakukan di halaman Gedung Bina Graha. Foto tersebut dibuat oleh JB Suratno.
Dalam foto tersebut Soeharto menerima penjelasan mengenai mobil-mobil yang akan diberangkatkan berikut diperkenalkan dengan petugas-petugas yang mengawakinya.
Perjalan TVRI tidak selamanya mulus, sejumah musibah terjadi di tengah pengoperasiannya. Dalam arsip Kompas yang dimuat pada Selasa, 31 Desember 1985, sebuah kebakaran hebat melanda stasiun pusat TVRI di Jakarta. Ironisnya, kebakaran terjadi sehari setelah dilakukannya latihan rutin pemadaman kebakaran.
Menteri Penerangan Harmoko mengungkapkan bahwa percikan api terlihat di ruang penyimpanan bahan dinas karyawan, lalu menjalar ke ruang penyimpnan elektronik dan sebagian dekorasi untuk kepentingan siaran. Kerugian mencapai Rp 1,974 miliar.
Dampak kerugian dapat telihat dari arsip foto yang dibuat oleh Dudy Sudibyo pada Minggu, 29 Desember 1985. Selain bangunan, tampak mobil-mobil operasional hancur terbakar.
Di tengah disrupsi media yang saat ini melanda serta berkurangnya anggaran operasional akibat efisiensi dari pemerintah, TVRI diharapkan dapat terus menjalin persatuan dan kesatuan Indonesia.
Penulis:
Bahana Patria GuptaEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase