Israel justru meningkatkan serangan di Gaza beberapa jam setelah gencatan senjata itu diumumkan. Gencatan senjata akan berlaku mulai 19 Januari 2025.
16 Jan 2025 13:58 WIB · Internasional
JALUR GAZA, KAMIS — Jelang pelaksanaan gencatan senjata Israel-Hamas, gempuran Israel ke Jalur Gaza justru meningkat. Sedikitnya 80 orang tewas dalam serangan terbaru Israel di wilayah Palestina setelah gencatan senjata diumumkan Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat sebagai juru runding.
”Awak kami menemukan lima orang tewas dan lebih dari 10 orang terluka dari bawah reruntuhan rumah yang dibom oleh tentara Israel di daerah Al-Rimal di sebelah barat kota Gaza,” kata badan pertahanan sipil Gaza, Kamis (16/1/2025).
Dua jenazah ditemukan setelah serangan di persimpangan Al-Sha’biya di pusat kota Gaza.
Media Al-Jazeera, 16 Januari 2025, mencatat, setidaknya 80 orang tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza sejak gencatan senjata diumumkan. Warga di Jalur Gaza mengatakan, Israel justru meningkatkan serangan di Gaza beberapa jam setelah gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera diumumkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/89e8bfa17b6136289ffa62ccb0223fbc-000_36TY6TJ.jpg)
Menurut AS dan Qatar, gencatan senjata baru berlaku mulai Minggu (19/1/2025). Kesepakatan gencatan senjata tiga fase diumumkan pada Rabu (15/1/2025) setelah proses mediasi yang berlangsung berbulan-bulan oleh Qatar, Mesir, dan AS.
Indonesia menyambut baik tercapainya gencatan senjata antara Hamas dan Israel di Gaza. Dalam pernyataan di media sosial X, Kementerian Luar Negeri mengatakan, implementasi kesepakatan tersebut harus dilaksanakan segera dan secara menyeluruh demi terhentinya korban jiwa di Gaza.
”Indonesia menekankan pentingnya pemulihan kehidupan masyarakat di Gaza melalui akses penuh penyaluran bantuan kemanusiaan, termasuk pemulihan peran UNRWA, serta rekonstruksi Gaza,” demikian pernyataan Kemlu.
Menteri Luar Negeri Sugiono berharap gencatan senjata ini bisa menjadi momentum mendorong perdamaian di Palestina. ”Saya tegaskan juga, perdamaian hanya dimungkinkan jika Palestina telah merdeka dan berdaulat, sesuai dengan solusi dua negara yang telah disepakati masyarakat internasional,” katanya.
Kesepakatan terdiri atas gencatan senjata awal selama enam pekan dengan penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Jalur Gaza. Para sandera yang ditawan oleh Hamas akan dibebaskan sebagai ganti tahanan Palestina yang dipenjara oleh Israel.
Pengamat politik Timur Tengah, Omar Baddar, mengatakan, gencatan senjata yang dijadwalkan berlaku mulai Minggu tidak akan benar-benar dimulai pada hari Minggu. Ia memprediksi serangan terhadap warga di Jalur Gaza hanya akan melambat, tidak akan berhenti sepenuhnya.
”Gencatan senjata itu sama sekali tidak berarti bahwa Gaza akan menjadi tempat yang aman dan bebas bagi warga Palestina untuk tinggal,” kata Baddar seperti dikutip Al Jazeera.
Tidak seorang pun dapat merasakan perasaan yang kami alami sekarang, perasaan yang tak terlukiskan, tak terlukiskan.
Menurut Baddar, apa pun yang terjadi, Gaza akan menjadi kamp konsentrasi yang hancur dengan puluhan ribu orang telah terbunuh dan banyak lagi yang terkubur di bawah reruntuhan. ”Kita belum mengetahui sepenuhnya sejauh mana genosida ini. Banyak sekali anak-anak telah kehilangan orangtua dan anggota tubuh. Situasi di Gaza sangat mengerikan,” tambahnya.
Meski demikian, warga Palestina meluapkan kegembiraan menyambut pengumuman gencatan senjata. Warga turun ke jalan di Gaza, bersorak, dan membunyikan klakson mobil.
”Tidak seorang pun dapat merasakan perasaan yang kami alami sekarang, perasaan yang tak terlukiskan, tak terlukiskan,” kata Mahmoud Wadi di Deir al-Balah, Gaza tengah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/baa5a2fe77a3525c19e6ab4184b858d4-000_36U48G8.jpg)
Otoritas kesehatan Palestina mengatakan, operasi darat dan udara Israel di Gaza selama 15 bulan terakhir menewaskan lebih dari 46.600 orang. Lebih dari separuhnya perempuan, anak-anak, atau orang tua.
Namun, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis Lancet menyebutkan, jumlah itu terlalu sedikit. Penelitian itu memperkirakan jumlah korban tewas di Gaza selama sembilan bulan pertama perang Israel-Hamas sekitar 41 persen lebih tinggi daripada angka yang dicatat oleh Kementerian Kesehatan wilayah Palestina.
Para peneliti Lancet menghitung jumlah korban tewas akibat operasi udara dan darat Israel di Gaza antara Oktober 2023 dan akhir Juni 2024 mencapai 64.260 jiwa. Kematian terjadi akibat cedera traumatis selama periode ini. Studi tersebut menyatakan, sebanyak 59,1 persen adalah perempuan, anak-anak, dan orang-orang berusia di atas 65 tahun.
Perbedaan angka itu terjadi karena diduga kemampuan Kementerian Kesehatan Palestina dalam melacak jumlah kematian menurun.
Hal ini bisa jadi disebabkan, antara lain, oleh serangan Israel yang banyak menyasar fasilitas kesehatan hingga gangguan komunikasi. Selain itu, banyak korban yang diduga masih berada di reruntuhan gedung yang belum terlaporkan.
Angka Lancet diperoleh dari data jumlah kematian dari Kementerian Kesehatan Palestina, survei daring yang diluncurkan oleh kementerian bagi warga Palestina untuk melaporkan kematian kerabat, dan berita kematian di media sosial.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/08c3b6393919e4c1cdf9df2fbb4e1073-AFP_36U49VQ.jpg)
Perang Israel-Hamas di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023 setelah serangan Hamas di Israel selatan yang menewaskan sekitar 1.200 orang. Sekitar 250 orang dibawa ke Jalur Gaza sebagai sandera. Sebagian dibebaskan dalam gencatan senjata pada November 2023.
Saat ini diperkirakan sepertiga dari 100 sandera yang masih ditawan di Gaza telah tewas.
Di tengah kegembiraan warga Jalur Gaza dan Israel menyambut pengumuman gencatan senjata, Pemerintah Israel justru menunjukkan belum sepenuhnya sepakat. Masih ada beberapa klausul yang perlu dibahas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, perjanjian gencatan senjata dengan Hamas belum selesai dan rincian akhir sedang dikerjakan. Pernyataan Netanyahu muncul beberapa jam gencatan senjata diumumkan oleh AS dan Qatar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/16/8641206548610a5618360418ecab76bb-063_2194081425.jpg)
Media Israel melaporkan, kabinet Israel baru akan memberikan suara untuk menyetujui perjanjian gencatan senjata itu pada Kamis pagi waktu setempat.
Beberapa anggota garis keras dari koalisi Netanyahu telah menyatakan menentang perjanjian tersebut. Namun, Netanyahu diperkirakan tidak akan kesulitan mendapatkan persetujuan mayoritas di kabinet keamanan yang lebih kecil dan, selanjutnya, di kabinet penuh.
Setelah itu, daftar tahanan keamanan Palestina yang akan dibebaskan akan dipublikasikan. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti