Fundamental dan harga saham jadi daya tarik investor masuk ke pasar saham dalam negeri.
06 Mei 2025 18:36 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menguat hampir 1 persen ke level 6.898 pada penutupan perdagangan Selasa (6/5/2025). Analis memprediksi kenaikan harga indeks komposit saham masih akan berlanjut besok di tengah agenda penentuan suku bunga Amerika Serikat oleh The Federal Reserve yang dinantikan investor.
Pada perdagangan sesi II, IHSG menghijau, bahkan menyentuh level 6.913 didukung kenaikan harga 333 saham. Dalam sebulan terakhir, IHSG tercatat tumbuh 6,58 persen sehingga membuat tren koreksi IHSG sejak awal tahun mengecil menjadi -2,57 persen.
Untuk perdagangan Rabu (7/5/2025), tim analis Phintraco Sekuritas pun memprediksi IHSG berpotensi bergerak dalam rentang level 6.850-6.950.
Pandangan positif ini datang dari keyakinan pasar pada beberapa agenda ekonomi dalam waktu dekat. Agenda itu antara lain pertemuan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang dijadwalkan pada 7-8 Mei 2025. Agenda itu menjadi acuan pasar untuk mengetahui arah kebijakan moneter The Fed ke depan, termasuk keputusan suku bunga acuan.
”Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan di 4,5 persen pada FOMC tersebut,” kata tim analis Phintraco Sekuritas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/06/e8f832e95e7b4c83e2927a97c768c74e-20250506_140006.jpg)
Pada hari yang sama, Rabu besok, pasar juga mengantisipasi rilis data penjualan ritel Eropa pada Maret 2025 yang diperkirakan tumbuh 1,6 persen secara tahunan. Angka itu lebih rendah dari realisasi pertumbuhan sebesar 2,3 persen pada Februari 2025. Prediksi itu menandakan bahwa konsumsi domestik di Euro Area mengalami perlambatan.
Dari kawasan Asia, pasar mengantisipasi rilis data Jibun Bank Services PMI Final April 2025 di Jepang yang diperkirakan naik ke level 52,2 dari level 50,0 pada Maret 2025. Kondisi ini mengindikasikan aktivitas sektor jasa di Jepang mengalami peningkatan dan bertahan di zona ekspansif.
Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana saat ditemui seusai peluncuran program Cerdas Investasi, Finansial Mandiri 2025 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, menilai, penguatan IHSG belakangan ini didorong oleh fundamental sejumlah emiten yang menunjukan tren positif.
”Kemarin (pada awal tahun) ada koreksi karena ada masalah geopolitik. Tapi, menurut saya, kalau kita lihat dari historical, dua tahun terakhir trennya selalu naik. Kalau kita lihat fundamental korporasi Indonesia juga baik sekali,” ujarnya.
Selain karena faktor fundamental perusahaan yang dinilai masih positif, harga saham saat ini yang sudah banyak terkoreksi juga disebut menjadi daya tarik bagi investor untuk kembali ke pasar saham. Ini dilihat dari nilai price to earning ratio (PER) yang menghitung harga saham dibandingkan dengan laba per saham perusahaan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/14/f421eaea5177917ccc517eeff92dc48d-20250114_111558.jpg)
Oki menyebut, rata-rata nilai valuasi price to earning ratio (PER) saham di bursa RI berada pada level 15-17 kali, hampir sama dengan PER saham di beberapa bursa lain di kawasan Asia, seperti India yang kini di level 18-20 kali. Semakin tinggi nilai PER, semakin bagus pertumbuhan laba bersih yang diharapkan dari kinerja perusahaan.
”Selain fundamentalnya bagus atau lebih baik dari (periode) Covid-19, harganya juga harga (periode) Covid. Jadi, ini kan luar biasa. Fundamental perusahaan enggak ada yang berkurang. Malah jauh lebih bagus ketimbang 2-3 tahun yang lalu,” lanjutnya.
Dengan fundamental dan harga saham perusahaan di bursa yang masih bagus, Oki menilai ini menjadi momentum baik untuk sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dengan ilmu investasi di pasar saham. Dalam upaya ini, Mandiri Sekuritas bekerja sama dengan BEI membuat program Cerdas Investasi, Finansial Mandiri 2025.
Program ini akan mengajarkan kepada peserta untuk menjadi investor saham, mulai dari membuat tabungan investor, memahami dasar pasar modal, hingga berinvestasi sebagai persiapan pensiun. ”Program ini menargetkan lebih dari 1 juta nasabah baru sampai akhir tahun 2025,” kata Oki.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/08/b16f8d27-a8ba-4cf3-944b-d0621838a467_png.png)
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik mendukung program tersebut sebagai upaya strategis mempercepat literasi dan inklusi pasar modal di Indonesia.
Dalam hal inklusi atau pemanfaatan produk investasi, hingga akhir April 2025 sudah terdapat 16,2 juta investor pemilik identitas tunggal, dengan 6,87 juta di antaranya merupakan investor saham. Sementara Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan pada 2022 menunjukkan angka literasi pasar modal masih rendah, yakni di level 4,11 persen.
”Melalui kolaborasi dengan Mandiri Group, kami optimistis jumlah investor pasar modal Indonesia akan terus bertumbuh seiring dengan peningkatan literasi dan akses masyarakat terhadap investasi yang aman dan terjangkau,” ungkap Jeffrey.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti