”Setelah usia 70 tahun, aku sudah dapat mengikuti suara hati tanpa melanggar 'Garis Kebenaran'.” Selamat Berjuang, Pak.
30 Sep 2025 08:00 WIB · Artikel Opini
Tak terasa kurang lebih sebulan lagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan genap satu tahun. Dalam kurun waktu satu tahun, tentunya Presiden telah tahu dengan persis mana anggota kabinet yang telah bekerja dengan baik atau tidak. Apalagi, sebelum naik menjadi presiden, ia telah berpengalaman luas sebagai komandan, panglima, eksekutif puncak dalam dunia bisnis, dan ketua umum partai.
Melihat penampilan, pemikiran, gerak, dan langkahnya di dalam dan di luar negeri, ditambah patriotisme dan nasionalisme serta latar belakang keluarganya, tak ada keraguan sedikit pun akan kemampuannya sebagai pemimpin dan presiden.
Namun, sehebat apa pun seorang pemimpin, ibarat lokomotif kereta api supercanggih, apabila kualitas gerbong-gerbongnya tidak sepadan, tentu gerak lokomotifnya tidak optimal. Sehebat-hebatnya seorang presiden, apabila deretan menterinya tidak kompeten, tentu kinerja pemerintahannya tidak optimal. Oleh karenanya, evaluasi, rotasi, serta revitalisasi perlu dan penting dilakukan berkala.
Tepat 20 Oktober 2025 nanti, atau tiga hari setelah ulang tahun Presiden yang ke-74, adalah momen yang amat penting untuk melakukan pemyempurnaan kabinetnya secara lebih mendasar-menyeluruh. Sebagai orang luar yang jauh dari hiruk-pikuk kekuasaan dan politik, saya tentu tidak tahu persis kinerja masing-masing menteri, dan tidak tahu apa key perfomance indicator (KPI ), dan nilai masing-masing. Namun, lewat tulisan ini, saya hanya ingin mengiur indikator lain yang sifatnya kualitatif, yang berasal dari nasihat atau ajaran Khonghucu, yang disabdakan Kongzi dan tertulis dalam Lun Yu, XVI, 10.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/25/f4847a6ed4054df7b420cd97a70b5907-UN_DIPLOMACY_UNGA_132804924.jpg)
Menurut Nabi Kongzi, Confucius, ada sembilan indikator yang bisa digunakan untuk memantau karakter seseorang—dalam hal Presiden Prabowo tentu berkaitan dengan karakter para menteri dan atau pembantu terdekatnya.
Pertama, ”Tentang melihat sesuatu, sudahkah dipastikan benar-benar terang?” Apabila selevel menteri tidak bisa melihat persoalan secara jernih, terang, A sampai dengan Z, mulai dari akar penyebab, tentunya solusi atau kebijakan yang dibuatnya bisa melenceng dan bahkan kontraproduktif.
Kedua, ”Tentang mendengar sesuatu, sudahkah dipastikan benar-benar jelas?” Bila seorang menteri tidak mau turun ke lapangan, ke sumber pertama, dan hanya duduk manis percaya saja mendengar masukan yang manis-manis, mustahil ia bisa melahirkan kebijakan seperti yang menjadi harapan masyarakat.
Ketiga, ”Tentang wajahnya, sudahkan dipastikan ramah-tamah?”. Soal ganteng dan cantik itu relatif. Hanya mengundang kagum sejenak, bukan simpati. Tapi, apabila pemimpin wajahnya ramah-tamah, sikap dan perilakunya wajar dan sederhana, tentu rakyat yang melihatnya akan adem, sejuk, dan kejengkelan pun berkurang.
Keempat, ”Tentang sikapnya, sudahkah dipastikan penuh hormat?”. Tentang hal ini sudah banyak contohnya betapa pejabat negara atau wakil rakyat yang sikapnya dianggap tidak peka, pamer kekuasaan dan kemewahan di tengah kesulitan rakyat, akhirnya mendapat tekanan harus mundur atau dimundurkan. Di tengah kehidupan bermasyarakat, sikap dan kepekaan pemimpin amat perlu dijaga.
Kelima, ”Tentang kata-katanya, sudahkah dipastikan penuh satya?”. Nasihat ini memgingatkan kita akan pepatah ”Mulutmu harimaumu”. Setiap kata atau kalimat yang terlontar, apalagi dari seorang pejabat, harus benar-benar dapat dipastikan kebenaran, akurasi, bijaksana, dan dilandasi kejujuran. Kalau keliru, akan berdampak luar biasa, baik bagi negara, masyarakat, si pejabat itu sendiri, maupun pemimpinnya. Bukti sudah banyak terjadi dan bahkan sampai menimbulkan gejolak demonstrasi besar-besaran berskala luas.
Keenam, ”Tentang pekerjaannya, sudahkah dipastikan dilakukan dengan sungguh-sungguh?”. Pekerjaan memimpin atau menjadi pemimpin, apalagi memimpin negara sebesar dan sekompleks Indonesia, adalah pekerjaan sangat serius dan tak bisa dilakukan asal-asalan. Bahkan, upaya serius dan sungguh-sungguh pun belum pasti bisa menjamin sebuah keberhasilan.
Dalam Lun Yu XIII, 15, ditegaskan oleh Kongzi bahwa pejabat yang hanya sekadar ingin mendapat jabatan dan menikmati segala fasilitas, tanpa memedulikan kemampuannya sendiri, sungguh sangat berbahaya dan bisa merobohkan negara.
Ketujuh, ”Dalam menjumpai keragu-raguan, sudahkah dipastikan bertanya baik-baik?”. Orang menjadi menteri, belum tentu orang yang paling pandai menguasai semua hal di bidangnya. Dalam dunia yang semakin kompleks dan modern ini, yang semakin dibutuhkan bukanlah ”superman”, tetapi ”superteam”. Maka, seorang pemimpin harus mempunyai kerendahan hati dan kesabaran mendengar—tentu tidak boleh terlalu lama agar mendapatkan masukan yang paling akurat, lengkap, dan terkini. Sifat keukeuh atau keras hati terkadang dibutuhkan, tapi masukan dari para ahli juga tak kalah penting dan dibutuhkan. Apalagi, bila diri sendiri memang ragu-ragu.
Kedelapan, ”Dalam kemarahan, selalu dipikirkan risiko atau kesukaran yang akan diakibatkannya”. Pemimpin harus tegas, bahkan kadang juga perlu marah. Dalam filosofi Hindu—dan juga Jawa—salah satu sifat pemimpin digambarkan seperti api: penuh semangat, berani, tegas, dan jika perlu keras, termasuk marah. Tapi, Kongzi juga menekankan pentingnya berpikir jauh. Boleh marah, tapi terukur jelas alasannya. ”Hati boleh panas, kepala tetap dingin.”
Dalam Lun Yu IV, 7., Kongzi mengatakan, ”Dari kesalahannya kita bisa tahu sifat atau kualitas seseorang.” Salah karena ada faktor force majeur, salah karena keras kepala, salah karena sengaja, dan sebagainya. Kalau salah karena sengaja, bukan saja amat pantas dimarahi, bahkan amat pantas dipecat atau malah dihukum maksimal.
Kesembilan, ”Dalam melihat keuntungan, sudahkah dipastikan sesuai dengan kebenaran?”. Di tengah kehidupan yang semakin tipis rasa tahu malunya, poin kesembilan ini rasanya menjadi poin penilaian paling penting dan mendapat bobot tertinggi. Apalagi, dalam kondisi keuangan negara yang kering dan korupsi yang semakin mewabah.
Keluhan Presiden Prabowo Subianto akhir-akhir ini tentang buruknya kinerja BUMN, mark up, dan kebocoran negara yang kian tinggi dan menganga membuat poin kesembilan ini semakin relevan untuk diperhatikan ekstraserius. Presiden tak boleh ragu bertindak dengan tetap memegang prinsip ”makan bubur dari pinggir”, dan ”menangkap tikus tanpa perlu merusak lumbung”. Tidak grasa-grusu, tidak gembar-gempor. Diam, tapi pasti. Senyap, tapi oknumnya lenyap.
Mengakhiri tulisan ini, saya tetap yakin Presiden Prabowo sangat serius untuk mewujudkan impian dari para pendiri bangsa yang tertuang dalam Alinea 4 Pembukaan UUD NRI 1945; dan seperti sabda Kongzi dalam Lun Yu, II, ”Setelah usia 70 tahun, aku sudah dapat mengikuti suara hati tanpa melanggar ’Garis Kebenaran’.” Selamat berjuang, Pak. Selamat menyempurnakan kabinet agar memasuki tahun kedua pemerintahan Bapak, mesinnya melaju semantap mobil Formula One. Salam Kebajikan!
Budi S Tanuwibowo, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)
Penulis:
Budi S TanuwibowoEditor:
Neli TrianaPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto