Jemaah diminta untuk mewaspadai cuaca panas dan senantiasa menjaga kesehatan agar dapat menjalani semua proses ibadah haji dengan maksimal.
02 Mei 2025 18:31 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Sebanyak 393 jemaah haji yang tergabung dalam kelompok terbang atau kloter pertama Embarkasi Jakarta-Pondok Gede mulai berangkat ke Tanah Suci pada Jumat (2/5/2025) dini hari. Jemaah diminta untuk mewaspadai cuaca panas dan senantiasa menjaga kesehatan agar dapat menjalani semua proses ibadah haji dengan maksimal.
Sehari sebelum keberangkatan ke Arab Saudi, jemaah telah masuk asrama haji. Penerbangan pertama dilakukan pada Jumat (2/5/2025) dini hari. Kloter pertama terbang dari Embarkasi Jakarta-Pondok Gede menuju Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz di Madinah.
Terkait dimulainya operasional penyelenggaraan haji 1446 Hijriah/2025 ini, dokter paru yang juga Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama meminta jemaah untuk mewaspadai cuaca panas di Arab Saudi. Sebab, cuaca panas dan banyaknya kerumunan menjadi faktor penyebab kematian sekitar 1.300 anggota jemaah haji dari sejumlah negara tahun lalu.
”Ramalan cuaca dari AccuWeather menunjukkan suhu di Arab Saudi awal Juni 2025 atau puncak haji adalah sekitar 42 sampai 44 derajat celsius,” ujar Tjandra yang menjadi petugas kesehatan haji Indonesia pada 1990, 1991, dan 2013 dalam keterangan tertulisnya, Jumat (2/5/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/17/bc2370dd-5fad-47b0-812f-6e0da8ee8e2b.jpg)
Sebagai upaya antisipasi, jemaah haji khususnya lansia disarankan untuk menghindari kontak langsung dengan panas terik sinar matahari dan minum air dalam jumlah yang memadai. Jemaah yang mengonsumsi obat-obatan yang mungkin menyebabkan dehidrasi juga harus berkonsultasi dengan dokter agar mendapat pengobatan terbaik.
Surat Edaran Kementerian Kesehatan Arab Saudi juga menyampaikan anjuran kesehatan bagi jemaah haji. Beberapa di antaranya senantiasa mencuci tangan dengan sabun dan air atau desinfektan, menggunakan tisu untuk menutup mulut ketika batuk dan bersin, serta memakai masker ketika dalam menjalankan ibadah perhajian dan di kerumunan.
Untuk menghindari penyakit yang ditularkan oleh makanan dan air, jemaah harus memastikan kebersihan tangan sebelum dan sesudah makan.
Kementerian Kesehatan Arab Saudi juga menganjurkan agar jemaah menghindari kontak dengan jemaah lain yang tengah sakit. Kemudian perlu juga menghindari kontak langsung dengan unta, baik di peternakan maupun di pasar untuk mencegah penularan penyakit Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS).
”Untuk menghindari penyakit yang ditularkan oleh makanan dan air, jemaah harus memastikan kebersihan tangan sebelum dan sesudah makan, sesudah menggunakan toilet, sebelum mempersiapkan makanan, dan sesudah memegang hewan,” kata Tjandra.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/02/23feaf1e211c23777d907e5f1b8fdbc3-20250502eng03.jpeg)
Selain itu, jemaah perlu memastikan bahwa buah dan sayur harus dicuci bersih sebelum dikonsumsi. Jemaah juga diminta untuk tidak makan masakan yang sudah terlalu lama disimpan di luar lemari es atau makanan yang sudah basi.
Imbauan kepada jemaah untuk senantiasa menjaga kesehatan juga disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers seusai melepas keberangkatan kloter pertama jemaah haji di Jakarta, Kamis (1/5/2025).
Menurut Budi, tahun 2023 merupakan puncak dari jumlah kematian jemaah haji Indonesia yang mencapai 773 orang. Mayoritas kematian jemaah haji di Indonesia disebabkan oleh pneumonia dan serangan jantung. Berkaca dari kondisi ini, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengimbau agar meningkatkan kesehatan jemaah haji asal Indonesia.
”Kalau tingkat kematian jemaahnya tinggi, ini akan berdampak negatif ke pengetatan syarat-syarat jemaah haji Indonesia berikutnya. Hal ini juga akan memengaruhi harga dari premi asuransi yang harus dibayar jemaah haji Indonesia berikutnya,” ucapnya.
Pemerintah Indonesia pun melakukan sejumlah perbaikan untuk menekan dan mencegah kematian jemaah haji dengan memperketat cek kesehatan. Pemerintah juga memperbaiki proses pendampingan di Tanah Suci agar segera memberikan pertolongan dan langsung melakukan rujukan ketika jemaah haji mengalami sakit atau serangan jantung.
Seluruh upaya tersebut membuat tingkat kematian jemaah haji Indonesia pada tahun 2024 menurun signifikan menjadi 461 orang. Upaya untuk menekan tingkat kematian jemaah ini akan kembali ditingkatkan dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.
”Jumlah tenaga kesehatan di Mekkah dan Madinah bisa turun karena sekarang jemaah haji Indonesia sudah mendapatkan akses yang lebih baik dan eksklusif ke rumah sakit di Arab Saudi. Dengan begitu, jemaah yang sakit tidak tertunda atau menunggu terlalu lama di kantor kesehatan haji Indonesia yang peralatannya minim,” ungkap Budi.
Penulis:
Pradipta Pandu MustikaEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul