Jenderal Iran Abaikan Peringatan Intelijen

Petinggi sipil dan militer Iran kurang percaya pada bawahan. Israel terbukti berulang kali menyusup sampai ke jantung Iran.

14 Jun 2025 18:21 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

Petinggi militer Iran terkecoh operasi intelijen Israel dan mengabaikan peringatan bawahan mereka. Dampaknya, mereka tewas dalam serangan Israel.

Serangan pada Jumat (13/6/2025) terkonfirmasi menewaskan setidaknya empat jenderal. Dua di antaranya adalah Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Mohammad Bagheri dan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) Mayor Jenderal Hossein Salami.

Serangan itu juga menewaskan Kepala Operasi Kantor Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Gholam Ali Rashid dan Kepala Angkatan Udara IRGC Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh. Jenderal Hajizadeh adalah arsitek utama serangan Iran ke Israel pada April dan Oktober 2024.

Bagheri dan Salami seperti Panglima TNI di Indonesia atau Ketua Kepala Staf Gabungan di Amerika Serikat. ”Bayangkan kerusakan seperti apa yang dialami Iran dengan tewasnya mereka,” kata analis keamanan CNN, Beth Sanner.

Militer Israel, Tzahal, dalam pernyataan pada Sabtu menyebut sembilan ilmuwan nuklir Iran menjadi sasaran serangan. Israel juga menyasar enam ilmuwan nuklir. Menurut Tzahal, mereka diidentifikasi sebagai Fereydoun Abbasi, Mohammad Mehdi Tehranji, Akbar Motalebi Zadeh, Abdolhamid Minouchehr, Ahmad Reza Zolfaghari, Amir Hossein Faghihi, Ali Bakhouei Katirimi, Said Barji, dan Mansour Asgari.

Orang-orang itu tewas di lokasi yang dibom Israel. Bom-bom Israel disebut diarahkan pemandu yang ditempatkan di dalam Iran.

Media AS, The New York Times, menyebut orang-orang itu mungkin selamat apabila petinggi Iran mendengarkan bawahan mereka. Aparat intelijen Iran sebenarnya telah mengingatkan potensi serangan Israel. Walakin, petinggi Iran yakin Israel akan menyerang hanya jika perundingan nuklir buntu.

Delegasi Iran-Amerika Serikat sedianya dijadwalkan kembali bertemu di Oman, Minggu (15/6/2025). ”Sekarang sudah tidak ada gunanya lagi,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi selepas serangan Iran.

Petugas pemadam kebakaran dan warga membersihkan tempat ledakan di sebuah kompleks tempat tinggal setelah serangan Israel di Teheran, Jumat, 13 Juni 2025.

Warga dan pemimpin Iran kini yakin, AS bersekongkol dengan Israel untuk mengecoh Iran. Rangkaian perundingan hanya mengulur waktu dan melenakan Iran.

Selama perundingan, terungkap AS-Israel terus mengoordinasikan rencana serangan ke Iran. Dalam rapat di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa selepas serangan Israel, pejabat Departemen Luar Negeri AS mengaku mengetahui rencana serangan Israel ke Iran. McCoy Pitt, pejabat itu, mengatakan serangan sebagai pembelaan diri.

AS memakai istilah membela diri walau Israel yang menyerang terlebih dahulu. Jerman dan Perancis juga memakai istilah yang sama untuk menyebut serangan Israel ke Iran.

Serangan itu menewaskan para jenderal yang menolak mendengarkan bawahannya. Pada Kamis sore, Jenderal Hajizadeh telah disarankan masuk tempat perlindungan. Ia menolak dan tetap mengadakan rapat di kantor bersama para komandan seniornya. Semua peserta rapat tewas dalam serangan Israel.

”Serangan Israel mengejutkan para petinggi, khususnya karena menewaskan komandan utama dan para ilmuwan senior. Serangan juga menunjukkan kurangnya pertahanan udara,” kata Hamid Hosseini, pengusaha yang dekat dengan Pemerintah Iran.

Menurut dia, wajar apabila para petinggi sipil dan militer Iran kurang percaya pada bawahan. Israel terbukti berulang kali menyusup sampai ke jantung Iran.

Serangan berulang Israel ke Iran kerap diikuti pengungkapan jaringan pengkhianat. Bahkan, Israel bisa membujuk jenderal dan perwira menengah di IRCG jadi mata-mata Mossad, badan intelijen Israel.

Bahas reaksi

Selepas serangan Jumat dini hari, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengumpulkan 23 anggota dewan penasihat keamanannya. Rapat itu dimulai dengan kebingungan: bagaimana mengambil keputusan saat komandan utama tewas dan persenjataan tidak berfungsi?

Dalam rapat itu, Khamenei menegaskan bahwa Israel harus dibalas. Walakin, ia tidak mau ada perang lebih besar dan melebar tak terkendali.

Salah satu pertimbangan: banyak lokasi peluncuran dan penyimpanan rudal rusak. Hal itu menyulitkan pembalasan. ”Pilihan Khamenei pahit. Kalau meningkatkan ketegangan, ada risiko perang meluas. Kalau tidak membalas, ia akan dianggap lemah,” kata Ali Vaez, Direktur Kajian Iran pada International Crisis Group.

Awalnya, disarankan Iran menembakkan 1.000 rudal ke Israel. Mengacu data International Institute for Strategic Studies (IISS), Iran punya setidaknya 3.000 rudal dengan beragam jarak jangkauan.

Akhirnya, diputuskan serangan awal melibatkan 100 pesawat nirawak. Gelombang selanjutnya melibatkan setidaknya 150 rudal. Gelombang pembalasan masih terus berlanjut.

Sampai Sabtu (14/6/2025), Israel memantau ada gelombang baru pesawat nirawak Iran menuju Israel. Bantuan AS-Jordania jadi andalan sebagai pencegat pertama setiap serangan Iran ke Israel. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti