Letjen Igor Kirillov adalah pejabat militer tertinggi Rusia yang tewas akibat serangan bom. Intelijen Ukraina mengklaim serangan dilakukan terhadap penjahat perang.
17 Des 2024 22:19 WIB · Internasional
MOSKWA, SELASA — Pejabat pengendali senjata nuklir Rusia, Letnan Jenderal Igor Kirillov (54), tewas dalam serangan bom di dekat rumahnya di Moskwa, Selasa (17/12/2024). Intelijen Ukraina mengklaim serangan tersebut. Kirillov adalah Panglima Perlindungan Perang Nuklir, Biologi, dan Kimia Rusia.
Dia terbunuh oleh ledakan bom saat meninggalkan rumahnya di Ryazansky Prospekt untuk berangkat ke kantor. Kompleks hunian tempat Kirillov tinggal hanya berjarak 7 kilometer dari Kremlin. Seorang asisten Kirillov juga tewas dalam serangan itu. Bom yang menewaskan mereka dipasang di sebuah skuter listrik yang diparkir di parkiran dekat tempat tinggal Kirillov.
Terlihat skuter listrik tersebut tergeletak dengan bagian kemudi berlubang yang diduga tempat asal ledakan. Kantor Berita TASS melaporkan, diperkirakan bahan peledak seberat 300 gram digunakan dalam serangan tersebut.
Adapun Yulia Shapovalova dari TV Al Jazeera melaporkan, radius ledakan mencapai lantai empat gedung apartemen tempat tinggal Kirillov. Sekurangnya ada 10 unit apartemen yang terkena dampak ledakan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/23/508e51b11e0372db0d7b18d17f3d21c7-000_36MU67A.jpg)
Igor Kirillov adalah satu dari sekian banyak pejabat Rusia yang terkena sanksi dari beberapa negara, seperti Inggris dan Kanada, atas perintah yang diberikan dalam perang Rusia-Ukraina. Pada Senin pagi, Badan Intelijen Ukraina (SBU) membuka penyidikan kejahatan terhadap Kirillov yang didakwa terlibat dalam penggunaan senjata kimia dalam serangan ke Ukraina.
Seorang pejabat SBU mengatakan, serangan bom terhadap Kirillov dilakukan agen mereka. Serangan bom tersebut dianggap sah karena Kirillov dikategorikan sebagai penjahat perang oleh Ukraina sehingga tindakan itu dibenarkan menurut mereka.
Menurut catatan SBU, Rusia dituding sudah melakukan 4.800 kali serangan senjata kimia dalam palagan di Ukraina sejak Februari 2022. Pada Mei 2024, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengungkapkan temuan penggunaan chloropicrin—gas beracun yang digunakan dalam Perang Dunia I dalam serangan terhadap pasukan Ukraina.
Rusia menyanggah tudingan penggunaan senjata kimia di Ukraina dan justru menuduh Ukraina menggunakan berbagai jenis racun dalam medan pertempuran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/06/26/51dae9ed-7b26-495b-9afe-4355acbe1cf0.jpg)
Letjen Kirillov yang mulai menjabat tahun 2017 adalah pejabat Rusia dengan pangkat tertinggi yang didakwa melakukan kejahatan perang. Dia memberikan sejumlah taklimat berisi tuduhan penggunaan bahan beracun dan radio aktif oleh militer Ukraina dalam melawan Rusia. Tuduhan tersebut disanggah Barat dan Ukraina yang menyebutnya sebagai propaganda Rusia.
Adapun bom yang membunuh Kirillov dalam serangan Selasa pagi itu dipicu dengan pengendali dari jarak jauh. Foto-foto dari lokasi kejadian memperlihatkan deretan jendela yang hancur dan tembok batu bata yang terlihat berwarna gelap karena efek ledakan.
Pejabat SBU memperlihatkan video yang disebut sebagai kejadian saat pengeboman terhadap Kirillov. Tayangan video memperlihatkan dua orang meninggalkan gedung sebelum ledakan dahsyat terjadi.
Pimpinan lembaga penyidik Rusia mengatakan pembunuhan Kirillov adalah perbuatan teroris. Para pejabat Rusia bersumpah akan membalas serangan Ukraina itu.
Wakil Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev menyebut serangan bom tersebut sebagai upaya Ukraina mengalihkan perhatian masyarakat mereka dari kekalahan di medan perang. Medvedev menambahkan, para pejabat militer dan politik Ukraina akan merasakan pembalasan Rusia.
Pejabat SBU memperlihatkan video yang disebut sebagai kejadian saat pengeboman terhadap Kirillov. Tayangan video memperlihatkan dua orang meninggalkan gedung sebelum ledakan dahsyat terjadi.
Dalam setahun terakhir, Rusia unggul dalam palagan perang dengan terus mendesak posisi Ukraina di wilayah Donetsk. Ukraina berusaha membalas dengan melancarkan serangan kilat ke Kursk pada September 2024, tetapi kemajuan mereka kini terhambat. Bahkan, di front timur yang dihuni mayoritas penduduk etnis Rusia, Ukraina terus terdesak.
Sejak Rusia menyerang Ukraina pada Februari tahun 2022, sejumlah tokoh Rusia atau pro-Rusia telah terbunuh dalam sejumlah serangan yang diyakini dilakukan oleh agen-agen intelijen Ukraina.
Darya Dugina, seorang pengamat dalam wawancara TV Rusia dan putri dari tokoh ideologis Rusia, Alexander Dugin, tewas dalam serangan bom mobil pada 2022. Serangan bom mobil tersebut diduga salah sasaran karena ditujukan untuk menghabisi Alexander Dugin.
Lalu Vladlen Tatarsky, seorang blogger militer Rusia, tewas pada April 2023. Ia tewas ketika sebuah patung hadiah yang diberikan kepadanya dalam sebuah pesta meledak. Perempuan Rusia yang memberikan hadiah patung itu mengaku diperintahkan seseorang dari Ukraina. Perempuan itu dijatuhi hukuman 27 tahun penjara atas perbuatan tersebut.
Pada Desember 2023, Illia Kiva, seorang mantan anggota parlemen Ukraina yang pro–Rusia, ditembak mati di dekat Moskwa. Lembaga Intelijen Militer Ukraina (HUR) memuji pembunuhan tersebut. Mereka juga mengancam para pengkhianat Ukraina yang lain akan mengalami nasib serupa.
Pada Desember 2023, Illia Kiva, seorang mantan anggota parlemen Ukraina yang pro-Rusia, ditembak mati di dekat Moskwa.
Pada 9 Desember 2024, sebuah bom yang dipasang di bawah sebuah mobil meledak di kota Donetsk. Serangan itu membunuh Tevsyukov, mantan Kepala Penjara Olenivka, tempat belasan tawanan perang Ukraina tewas akibat serangan rudal pada Juli 2022. Seorang lainnya terluka akibat ledakan mobil tersebut. Aparat keamanan Rusia menyatakan telah menahan seorang tersangka pelaku serangan bom mobil tersebut. (AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo H