Posisi Asia Tenggara penting bagi Jepang, terutama saat ancaman China meningkat. Butuh kerja sama pertahanan yang kuat tak hanya dengan Indonesia, tetapi juga ASEAN.
09 Jan 2025 17:49 WIB · Internasional
TOKYO, KAMIS — Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba amat mementingkan penguatan hubungan Jepang dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Komitmen konkret Jepang itu ditunjukkan dengan rencana kunjungan kenegaraan Ishiba ke Malaysia dan Indonesia.
Indonesia menjadi negara pertama yang dikunjungi Ishiba untuk tujuan diplomasi bilateral. Sementara itu, kunjungan Ishiba ke Malaysia terkait dengan peran Malaysia sebagai ketua ASEAN pada tahun ini.
Lawatan ini bagian dari upaya memperkuat hubungan kerja sama pertahanan dan ekonomi di tengah ancaman China yang menguat di kawasan tersebut. Bagi Jepang, Malaysia dan Indonesia adalah kekuatan regional maritim yang dekat dengan jalur pelayaran vital dan merupakan kunci bagi keamanan dan ekonomi Jepang serta dunia.
”Dalam situasi dunia yang semakin tidak pasti, saya ingin lebih mementingkan hubungan kita dengan Asia Tenggara,” kata Ishiba di Kantor Perdana Menteri Jepang sebelum keberangkatannya ke Malaysia dan Indonesia, Kamis (9/1/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/09/c3c2f109e8ab33afb6d0c120fcb31b48-000_36TC6GR.jpg)
Jepang juga memandang ASEAN sebagai mitra penting dalam advokasi untuk kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka serta dalam memastikan tatanan berbasis aturan di Asia Tenggara. Ishiba ingin memperkuat hubungan di bidang ekonomi, energi, dan keamanan dengan negara-negara anggota ASEAN.
Bagi Jepang, Malaysia dan Indonesia adalah kekuatan regional maritim yang dekat dengan jalur pelayaran vital dan merupakan kunci bagi keamanan dan ekonomi Jepang serta dunia.
Dengan Malaysia, Ishiba akan membahas kerja sama pengembangan sumber daya manusia dan dekarbonisasi untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan. Ishiba ingin memastikan rantai pasokan yang stabil dengan Malaysia. Dia dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Jumat (10/1/2025).
Harian Yoimuri Shimbun menyebutkan, Ishiba akan membahas penyelenggaraan pertemuan menteri luar negeri dan pertahanan 2 plus 2 tahun ini dan kerja sama di bidang peralatan pertahanan dengan Presiden RI Prabowo Subianto. Ishiba dijadwalkan diterima Prabowo di Bogor, Sabtu (11/1/2025).
Koran itu menyebutkan kunjungan kenegaraan Ishiba menunjukkan komitmen Jepang untuk lebih mempererat hubungan dengan kedua negara. Menjadi semakin penting jika Amerika Serikat mulai mengurangi kehadirannya di kawasan tersebut saat Presiden AS terpilih Donald Trump mulai berkuasa akhir Januari.
Menurut seorang pejabat Jepang, Ishiba dan Prabowo akan menandatangani kesepakatan untuk penyediaan kapal patroli berkecepatan tinggi bagi Jepang. Pembicaraan kedua pemimpin itu diharapkan akan difokuskan pada kerja sama militer dan transfer teknologi pertahanan. Kantor berita Kyodo News menyebutkan Indonesia merupakan salah satu negara yang menerima transfer peralatan pertahanan dari Jepang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/07/847ec10e-cd36-42ae-871b-0c8e704e6902_jpg.jpg)
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Menhan Jepang Nakatani Gen, Selasa (7/1/2025), sudah membahas kemungkinan pengembangan bersama kapal angkatan laut. Sebab, kedua negara ingin memperkuat kerja sama keamanan maritim mereka.
Kapal baru tersebut dapat dimodelkan seperti kapal perusak milik Pasukan Bela Diri Maritim Jepang. Pembahasan pengembangan bersama ini sudah dilakukan selama beberapa tahun, tetapi terhenti sebagian karena ada masalah keuangan.
Selain itu, kantor berita Kyodo News menyebutkan, pada saat itu pemerintahan Presiden RI Joko Widodo lebih fokus pada pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Nusantara di Kabupaten Penajam Paser, Kalimantan Timur.
Ekspor kapal perusak Jepang ini dibatasi berdasarkan Tiga Prinsip Jepang tentang Transfer Peralatan dan Teknologi Pertahanan. Akan tetapi, ekspor diperbolehkan jika dikembangkan dan diproduksi bersama dengan negara lain.
Laman The Japan News menulis, dengan mengekspor kapal perusak ke Indonesia, Jepang berharap dapat melawan ekspansi maritim China yang meningkat. ”Penting bagi Jepang untuk memperkuat hubungan di sektor pertahanan dengan Indonesia yang punya rute transportasi maritim penting, seperti Selat Malaka,” kata Nakatani.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/07/b3b48b6c1b527cbe76cd2d4685709f42-WhatsApp_Image_2025_01_07_at_20.49.54.jpeg)
Pemerintah Jepang sedang membayangkan fregat berdasarkan desain kelas Monogami, yang sebelumnya diminati Prabowo saat menjabat sebagai menteri pertahanan. Kapal-kapal tersebut dapat dioperasikan oleh sekitar 90 awak, setengah dari jumlah kapal perusak konvensional.
Peningkatan kerja sama pertahanan bilateral antara Indonesia dan Jepang merupakan langkah strategis untuk memperkuat perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik.
Jepang juga sudah mengusulkan pengembangan bersama fregat kelas Monogami dengan Australia dan Jerman. Australia baru akan membuat keputusan terkait ini pada paruh kedua tahun ini.
Kementerian Pertahanan Jepang, Selasa, menyebutkan, dalam pertemuan Nakatani dengan Sjafrie disepakati akan diadakan konsultasi mengenai keamanan maritim bersama, termasuk peralatan pertahanan dan kerja sama teknologi. Pertahanan dianggap sebagai salah satu prioritas Prabowo Subianto.
Ia ingin memperkuat militer dengan membeli kapal selam, fregat, dan jet tempur serta berencana untuk meningkatkan kerja sama pertahanan dengan negara lain. Nakatani Gen akan melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Prabowo sebelum kembali ke Tokyo, Rabu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/07/381db0b72acdb2bb658dad4b59718b5d-WhatsApp_Image_2025_01_07_at_20.50.18.jpeg)
Seperti diberitakan harian Kompas, Selasa (7/1/2025), kedua menteri menyambut baik hubungan bilateral Indonesia-Jepang yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait dengan kesepakatan pemimpin kedua negara untuk meningkatkan status kemitraan dari kemitraan strategis (strategic partnership) menjadi kemitraan strategis komprehensif (comprehensive strategic partnership) pada 2023. Peningkatan status kemitraan ini juga turut mendorong peningkatan kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Jepang.
Sjafrie menegaskan, peningkatan kerja sama pertahanan bilateral antara Indonesia dan Jepang merupakan langkah strategis untuk memperkuat perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik. Indonesia mengapresiasi komitmen Jepang memperdalam hubungan ini, sejalan dengan upaya bersama dalam menghadapi tantangan global, seperti terorisme, bencana alam, dan ketegangan regional.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Sekretariat Jenderal Kemenhan Frega Wenas Inkiriwang mengatakan, ada empat pilar yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Pertama, peningkatan komunikasi tingkat tinggi. RI-Jepang berkomitmen memperkuat dialog strategis, termasuk dalam format 2 plus 2 dialogue yang melibatkan menhan dan menlu dari kedua negara.
Kedua, kerja sama di tingkat satuan. Kerja sama melalui latihan multilateral, seperti Naval Exercise Komodo dan Super Garuda Shield, terus ditingkatkan untuk memperkuat interoperabilitas antara angkatan bersenjata kedua negara. Ketiga, pertukaran personel dan pendidikan.
Sejak 1998, lebih dari 70 siswa Indonesia telah menempuh pendidikan di National Defense Academy (NDA) Jepang. Tahun ini, alokasi siswa Indonesia di NDA akan ditambah. Hal ini menunjukkan komitmen kedua negara dalam membangun kapasitas sumber daya manusia di bidang pertahanan.
Keempat, Jepang dan Indonesia membahas potensi transfer teknologi pertahanan, termasuk modernisasi peralatan militer yang relevan dengan kebutuhan nasional Indonesia. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra