Seiring berkurangnya penduduk, Pemerintah Jepang meningkatkan ekspor beras Jepang hingga tahun 2030. Beras menjadi bagian penting dalam budaya dan politik Jepang.
13 Mar 2025 16:20 WIB · Internasional
Jepang dikenal sebagai negara eksportir otomotif dan elektronik modern. Namun, sejatinya Jepang tumbuh dari masyarakat pertanian. Jepang, terutama di wilayah utara di Hokkaido hingga Ryukyu atau Okinawa di selatan, adalah produsen beras.
Tahun ini, Jepang menargetkan meningkatkan ekspor berasnya hampir delapan kali lipat pada tahun 2030.
”Kami berencana menetapkan target 350.000 ton pada tahun 2030, sebuah tujuan yang kemungkinan akan disetujui oleh kabinet bulan ini,” kata Masakazu Kawaguchi, seorang pejabat di Kementerian Pertanian Jepang yang bertanggung jawab atas perdagangan beras, Kamis (13/3/2025), di Tokyo.
Nilai yang ditargetkan mencapai lebih dari 92,2 miliar yen (setara 623 juta dollar AS). Target tersebut disampaikan dalam rapat partai berkuasa LDP, diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi padi untuk menutup kebutuhan domestik.
Jepang adalah salah satu negara produsen beras terpenting di dunia. Jepang berada di peringkat 10 besar. Sehubungan rencana strategis jangka panjang, Pemerintah Jepang mencanangkan hasil produksi domestik memenuhi 45 persen kalori dari kebutuhan asupan harian hingga tahun 2030. Angka tersebut naik dari besaran 38 persen kalori asupan dipasok produk dalam negeri pada tahun fiskal 2022.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/13/04f021bafe336d09bd7a93a2a0364846-JAPAN_ECONOMY_INFLATION_AGRICULTURE_RICE_127623354.jpg)
Masakazu Kawaguchi mengatakan, target ekspor tersebut akan diajukan untuk disetujui kabinet. Sasaran itu 7,8 kali dari volume tahun 2024 sebesar 45.000 ton yang dijual seharga 12 miliar yen atau 81 juta dollar AS.
Rencana kerja Pemerintah Jepang soal produksi beras direvisi setiap lima tahun dengan menyoroti perlunya meningkatkan produktivitas dan menambah jumlah ekspor. Dipertimbangkan pula situasi geopolitik dan menurunnya produksi di dalam negeri dapat mengganggu produksi pangan dan pasokan di Jepang.
Pemerintah Jepang mengincar meningkatkan nilai ekspor produk agrikultural dan olahan pangan dari 1,5 triliun yen pada tahun 2024 menjadi 5 triliun yen pada tahun 2030. Pemerintah juga mendorong bertambahnya belanja kuliner wisatawan dalam negeri dari 1,6 triliun yen menjadi 4,5 triliun yen pada kurun waktu sama.
Dalam laporan Yomiuri Shimbun, September 2024, pasar ekspor beras utama Jepang tahun 2024 adalah Hong Kong, Amerika Serikat, dan Singapura. Hasil pertanian itu merupakan bagian penting dari identitas budaya, sekaligus sumber isu politik domestik bangsa Jepang.
Khusus produksi padi, partai LDP merencanakan penambahan jumlah petani untuk menangani persawahan ukuran 15 hektar atau lebih dan menekan biaya produksi dari 11.350 yen menjadi 9.500 yen per 60 kilogram beras yang dihasilkan. Langkah itu diambil agar dapat berkompetisi melawan beras impor yang harganya lebih murah.
Masyarakat Jepang (populasi tahun 2024 diperkirakan 124 juta jiwa) setiap tahun rerata mengonsumsi 6,6 juta ton beras tiap tahun. Itu berarti target ekspor 350.000 ton setara dengan setengah bulan konsumsi beras di Jepang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/03/e3871a1f61db399168a3bbe6ca54e9f2-JAPAN_DEMOGRAPHICS_ELECTION_ICHINONO_124988243.jpg)
Walaupun saat ini terjadi kekurangan pasokan beras di Jepang, diyakini dalam jangka panjang kebutuhan konsumsi domestik akan turun karena menyusutnya populasi di Jepang. Dalam kondisi tersebut, ekspor beras bisa digenjot.
Harga beras Jepang yang diekspor dijual bervariasi di Indonesia. Sebagai contoh di sebuah supermarket di bilangan Permata Hijau, Jakarta Selatan, sebungkus beras Jepang jenis Shiroku bobot 2 kilogram dijual Rp 80.700 dan beras Koshihikari ukuran 5 kilogram dijual Rp 170.000.
Dalam rencana produksi beras sebelumnya, angka pemenuhan kalori dalam negeri atau swasembada menjadi sasaran. Pemerintah Jepang akan meminta persetujuan kabinet pada akhir bulan Maret 2025.
Saat ini harga beras di Jepang tetap tinggi meski pemerintah telah menggelontorkan stok cadangan beras ke pasar hingga mencapai 210.000 ton dari persediaan beras pemerintah yang akan diedarkan medio Maret-April 2025. Pada 14 Februari 2025, pasokan pemerintah itu diharapkan sampai ke pedagang dan konsumen pada akhir Maret–April 2025.
Kantor berita Kyodo melaporkan, 2 Maret 2025, Kementerian Pertanian memperkirakan pengumuman dilepasnya stok beras pemerintah diharapkan menurunkan harga di tingkat konsumen. Akan tetapi, menurut seorang petinggi di perusahaan grosir pangan Jepang, dampak tersebut tidak terjadi.
Lonjakan harga beras terjadi di Jepang menyusul jatuhnya hasil panen tahun 2023 akibat suhu panas yang melanda.
Harga grosir Beras Coklat Koshihikari dari Prefektur Niigata sebagai contoh tetap di kisaran 48.300 yen (320 dollar AS) atau setara Rp 5,2 juta per 60 kilogram pada 26 Februari 2025. Itu setara Rp 86.660 per kilogram. Angka tersebut menurut Lembaga Riset Pasar Beikoku Databank (Pusat Data Beras) tidak berubah banyak dari harga jual Januari 2025. Pemerintah Jepang akan melepaskan stok tahap pertama sebanyak 150.000 ton dan tambahan 60.000 ton jika permintaan pasar meningkat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/13/d4c117b16adac32920828f216baa8029-JAPAN_FOOD_RICE_127478981.jpg)
Lonjakan harga beras terjadi di Jepang menyusul jatuhnya hasil panen tahun 2023 akibat suhu panas yang melanda. Dalam Kajian Pusat Studi Antarbudaya (SPICE) Universitas Stanford, Amerika Serikat, disebutkan ada tiga kali puncak masa panen padi di Jepang sesuai wilayah, yakni utara di Hokkaido-Honshu, tengah (Shikoku–Kyushu), dan selatan (Okinawa dan sekitarnya).
Berdasar data konsumen bulan Februari 2025, harga beras Jepang naik 27,7 persen pada tahun 2024 dibandingkan tahun 2023. Itu adalah lonjakan harga tertinggi sejak tahun 1957. Pada bulan Desember 2024, harga beras naik hingga 64,5 persen dibandingkan periode sama tahun 2023.
Selain masalah suhu panas yang memengaruhi hasil panen, meningkatnya jumlah wisatawan ke Jepang mengakibatkan peningkatan konsumsi beras di berbagai restoran di Jepang.
Pemerintah Jepang memiliki cadangan 910.000 ton beras dengan rencana stok dilepaskan mencapai 20 persen dari cadangan beras nasional.
Dalam kajian SPICE Universitas Stanford berjudul ”Beras Bukan Sekadar Makanan” disebutkan, tata perilaku masyarakat Jepang yang harmonis (Wa) dan mengedepankan konsensus serta saling bantu (Amae) berasal dari komunitas petani padi yang muncul beberapa ratus tahun sebelum abad Masehi.
Dari sisi linguistik, beras yang dikukus, gohan, menjadi sebutan untuk sarapan (asagohan)–makan siang (hirugohan)-makan (bangohan). Nasi selalu menjadi bagian penting dalam hidangan.
Selepas Perang Dunia II, petani memiliki posisi penting bagi politisi Jepang. Partai penguasa LDP memberikan dukungan khusus bagi petani.
Secara tradisi, Kaisar Jepang pun memimpin ritual penanaman padi dan produksi olahan seperti sake atau arak beras dan mochi, kue beras.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/13/b87ca18a333d663f3f149852f91c2044-JAPAN_FOOD_RICE_127478978.jpg)
Bahkan, ayah Kaisar Akihito, yakni Kaisar Hirohito, di akhir hidupnya pun masih menanyakan cuaca dan dampaknya terhadap produksi padi Jepang. Kaisar Akihito melanjutkan tradisi tersebut dengan memimpin upacara penanaman padi dan produksi beras dan olahan bersama ritual agama Shinto.
Seiring waktu, menjaga siklus tanam dan penyimpanan padi menjadi fungsi politik sebagai bukti pentingnya beras dalam masyarakat Jepang. Di masa silam, beras menjadi alat tukar perdagangan dan menjadi ukuran kekayaan bangsawan, yakni Daimyo, dan juga menjadi upah bagi para satria, yakni Samurai.
Selepas Perang Dunia II, petani memiliki posisi penting bagi politisi Jepang. Partai penguasa LDP memberikan dukungan khusus bagi petani.
Di Jepang, beras menjadi komoditas yang dikendalikan. Pemerintah Jepang menjaga jumlah luasan sawah, sementara distribusi beras melalui jejaring toko pengecer. Setiap tahun Pemerintah Jepang menetapkan beika atau harga minimal yang dibayarkan untuk beras.
Dalam satu kunjungan penulis ke perdesaan di sekitar Kota Fukuoka, Pulau Kyushu, Jepang, Profesor Aizawa Nobuhiro menunjukkan deretan sawah terasering dan toko–toko pertanian di desa. ”Semua diatur pemerintah dan sawah pun tidak boleh dikonversi,” kata Nobuhiro yang memimpin program Pascasarjana Ilmu Sosial di Universitas Kyushu.
Beras bukanlah sekadar bahan pangan bagi bangsa Jepang. (AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo H