Kebijakan Tokyo ini menunjukkan tekanan besar yang kini dihadapi negara importir energi.
16 Mar 2026 17:09 WIB · Internasional
AP Photo/Hiro Komae
TOKYO, SENIN — Jepang mulai mengeluarkan cadangan minyak strategisnya di tengah lonjakan harga energi akibat perang di Timur Tengah. Harga minyak pada Senin (16/3/2026) bertahan sekitar 100 dolar AS per barel seiring perang di Iran yang memasuki pekan ketiga.
Langkah Tokyo diambil setelah negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) sepakat membuka stok minyak untuk meredam gejolak harga minyak dunia. Kebijakan ini disebut sebagai bagian respons IEA terbesar sepanjang sejarah.
Pemerintah Jepang menerbitkan pemberitahuan dalam lembaran resmi negara bahwa tingkat cadangan minyak di dalam negeri sedang diturunkan. Pemberitahuan yang terbit pada Senin itu mewajibkan pengelola cadangan minyak melepaskan sebagian stok mereka.
Sejumlah media Jepang menafsirkannya sebagai konfirmasi bahwa pelepasan cadangan sudah dimulai. Sebelumnya, juru bicara utama pemerintah, Minoru Kihara, mengatakan, Jepang akan melepas cadangan minyak sektor swasta setara 15 hari kebutuhan.
Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa, akhir pekan lalu, mengungkapkan, cadangan minyak swasta akan dilepas lebih dahulu. Setelahnya, stok pemerintah dilepaskan. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi juga menyebutkan, Jepang berencana melepas cadangan nasional setara satu bulan kebutuhan.
IEA memutuskan langkah pelepasan cadangan minyak strategis pada 11 Maret 2026. Negara-negara anggota IEA sepakat memanfaatkan persediaan minyak untuk menahan lonjakan harga dan kurangnya pasokan akibat perang di Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/16/f544083dca028de85de8ece1fa55ca71-Japan_Iran_US.jpeg)
Kebijakan Tokyo melepaskan cadangan minyak menunjukkan tekanan besar yang kini dihadapi negara importir energi. Jepang bergantung pada Timur Tengah untuk 95 persen impor minyaknya. Per Desember 2025, cadangan minyak strategis Jepang tercatat lebih dari 400 juta barel atau setara 254 hari konsumsi domestik. Cadangan itu termasuk salah satu yang terbesar di dunia.
IEA menyatakan total 271,7 juta barel minyak cadangan yang dikelola pemerintah akan dilepas secara global. ”Rencana pelaksanaan telah diserahkan kepada IEA oleh negara-negara anggota,” demikian pernyataan IEA.
Rencana ini menunjukkan bahwa stok akan disediakan oleh negara-negara anggota IEA di Asia-Oseania sesegera mungkin. Adapun stok dari negara-negara anggota IEA di Amerika dan Eropa akan disediakan mulai akhir Maret.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/16/6d9f6f319fb78194e5952a84b0b2f780-wires_photo_10_.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/16/c9e3ab84303b53cf7dcf031d0e5b3e36-wires_photo_9_.jpg)
Pasar tetap gelisah. Harga minyak pada Senin bertahan di sekitar 100 dolar AS per barel. Sementara perang belum menunjukkan tanda mereda sehingga ada kemungkinan harga naik lagi.
Minyak mentah Brent sempat melonjak 3 persen hingga 106,50 dolar AS per barel, kemudian turun tipis menjadi 104,21 dolar AS per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate naik 0,1 persen menjadi 98,75 dolar AS per barel.
Kenaikan harga dipicu kekhawatiran bahwa konflik dapat makin mengganggu arus energi global melalui Selat Hormuz. Akhir pekan lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan serangan ke Pulau Kharg. Pulau kecil di Teluk ini lokasi penanganan hampir seluruh ekspor minyak Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/14/dabac63d362d27e57d21e1c4b8cc8544-wires_photo_2026_03_14T134437.345.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/13/6e6e3d616a2b2f42c0b9f544e07b5644-20260313_GKT_Ketegangan_Geopolitik_Global_3_mumed.jpg)
Trump juga memperingatkan, serangan dapat diperluas ke infrastruktur energi jika Teheran terus mengganggu transit melalui Hormuz. Namun, kantor berita Iran, Fars, melaporkan, tidak ada infrastruktur minyak Pulau Kharg yang rusak dalam serangan tersebut.
Trump mendesak negara-negara lain ikut menjaga jalur pelayaran itu. ”Negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur itu dan kami akan membantu banyak sekali. Ini seharusnya sejak awal selalu menjadi upaya bersama dan sekarang memang akan begitu,” katanya di Truth Social.
Namun, Jepang menolak. Pemerintah Jepang mengatakan tidak punya rencana pada saat ini untuk mengeluarkan operasi keamanan maritim. Australia juga mengumumkan tidak akan mengirim kapal angkatan laut ke kawasan.
Di tengah ketidakpastian itu, pemerintahan Trump disebut tengah menggagas pembentukan koalisi untuk mengawal kapal-kapal di Selat Hormuz. Uni Eropa juga akan membahas penguatan misi angkatan laut di Timur Tengah.
Namun, harapan pasar bahwa perang akan segera berakhir kian pudar. Dari Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, negaranya tidak tertarik berbicara dengan Washington.
”Kami tidak melihat alasan apa pun mengapa kami harus berbicara dengan Amerika, karena kami sedang berbicara dengan mereka ketika mereka memutuskan menyerang kami,” katanya dalam wawancara dengan program ”Face The Nation” di televisi CBS yang ditayangkan pada Minggu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/10/a6bfb92b-209a-4a28-aba9-d1edd1cfb8d0.jpg)
Ia menambahkan, Iran tidak pernah meminta gencatan senjata ataupun negosiasi. Meski demikian, Araghchi menyatakan Iran masih membuka ruang komunikasi terbatas dengan negara lain.
Menurut Araghchi, sejumlah negara telah mendekati untuk membahasnya. ”Namun, saya siap berbicara dengan negara-negara yang ingin berbicara dengan kami tentang jalur aman bagi kapal-kapal mereka,” katanya.
Pernyataan itu memperlihatkan posisi Iran yang menutup pintu bagi Washington. Namun, Teheran tidak sepenuhnya menutup jalur diplomatik untuk menjaga keselamatan kapal-kapal negara lain di kawasan.
Ketegangan di Teluk juga membayangi pasar keuangan global. Bursa saham Asia melemah. Indeks bursa Tokyo turun, sementara pasar lain berfluktuasi. Investor menilai harga energi yang tetap tinggi akan memperburuk inflasi dan menekan pertumbuhan.
Analis JPMorgan, Bruce Kasman, mengatakan, bank sentral memperkirakan inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi turun atau stagflasi. (Reuters/AP/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Retma Wati