”Kami telah menjalani lima-enam minggu yang luar biasa bersama dengan hasil jauh lebih baik daripada yang direncanakan. Kami telah membangun fondasi yang amat baik,” ujar Pelatih Kanada Jesse Marsch seusai kalah 0-2 dari Argentina di semifinal Copa America, Rabu (10/7/2024), di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat.
Copa America merupakan turnamen kontinental oleh CONMEBOL (Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan) sejak 1916, yang tertua di dunia. Turnamen kedua di AS atau setelah Centenario 2016 diikuti sepuluh tim CONMEBOL dan hasil kualifikasi enam tim CONCACAF (Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara Tengah dan Karibia).
Di edisi ke-48 Copa America, ”Les Rouges” Kanada berstatus debutan dan lolos dari jalur play-off. Bahkan, kapten Alphonso Davies dan rekan baru ditangani Marsch sejak 13 Mei 2024 atau kurang 40 hari dari laga pembuka Grup A melawan Argentina, juara Copa America Brasil 2021. Pertandingan perdana di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, berakhir dengan kekalahan Kanada 0-2 dari Argentina.
Baca juga: Marco Reus, Pendobrak Mitos Kesetiaan Pesepak Bola
Sejak didepak dari Leeds United Liga Inggris pada Februari 2023, Marsch berada dalam masa sabatikal sebelum dihubungi oleh CSA (Asosiasi Sepak Bola Kanada) untuk menangani tim Kanada yang semula menjadi tugas pelatih interim Mauro Biello. Marsch merespons positif dengan menerima tanggung jawab itu sekaligus mempertahankan Biello sebagai asisten.
Sebelum terjun ke Copa America, Marsch membawa Kanada melintasi Samudra Atlantik untuk persahabatan dengan Belanda dan Perancis. Laga melawan dua tim ”Benua Biru” yang juga mempersiapkan diri untuk Piala Eropa Jerman dengan sepak mula 15 Juni 2024 atau sepekan lebih awal dari Copa America AS. Dalam dua laga persahabatan itu, Kanada hancur 0-4 oleh Belanda (5 Juni 2024) dan seri 0-0 dengan Perancis (9 Juni 2024).
Berada di Grup A bersama trio CONMEBOL Argentina, Chile, dan Peru membuat Marsch tidak menerapkan target tinggi. Kanada tahu diri merasa akan sulit mengatasi Argentina pengoleksi 15 Copa America dan 3 Piala Dunia lalu Chile dan Peru yang masing-masing pengoleksi 2 Copa America. Namun, Marsch mendorong Kanada bermain dengan energi tinggi dan tekanan yang intens sehingga kalah 0-2 dari Argentina, menang 1-0 atas Peru, dan seri 0-0 dengan Chile.
Kanada maju ke perempat final sebagai runner-up Grup A mendampingi Argentina. Di fase gugur, Marsch menghadapi tim kejutan Venezuela, juara Grup B, dan menang dalam adu penalti 4-3 (1-1). Mereka kembali menghadapi Argentina di semifinal dan kalah lagi dengan skor sama 0-2 seperti saat laga pembuka.
Kekalahan di semifinal membuat Kanada sekali lagi berlaga untuk perebutan tempat ketiga. Lawannya adalah Uruguay yang di semifinal kalah dari Kolombia. Uruguay adalah raksasa CONMEBOl yang mengoleksi 15 Copa America, 2 emas Olimpiade setara Piala Dunia, 2 Piala Dunia, dan 1 Mundialito (Peringatan 50 Tahun Piala Dunia).

Saya sempat khawatir Copa America menjadi ujian awal terlalu berat bagi Kanada, tetapi saya senang karena terbukti keliru.
Di laga perebutan posisi ketiga kontra ”La Celeste” Uruguay, Kanada kalah adu penalti 4-2 (2-2). Kekalahan itu meruntuhkan ambisi Kanada menyamai capaian debutan Honduras yang sukses ke urutan ketiga di Copa America Kolombia 2001. Namun, Marsch menyadari, kekalahan dari Uruguay bisa diterima mengingat kuatnya lawan.
Kemenangan sebenarnya sudah di depan mata ketika Kanada unggul 2-1, tetapi skor disamakan menjadi 2-2 di waktu tambahan sehingga memaksa adu penalti. Catatan adu penalti Kanada memang buruk. Selain itu, dua kali menghadapi Uruguay pada 1986 dan 2022 selalu berakhir dengan kekalahan Kanada.
”Saya sempat khawatir Copa America menjadi ujian awal terlalu berat bagi Kanada, tetapi saya senang karena terbukti keliru,” ujar mantan pelatih yang sukses bersama New York Red Bull dan RB Salzburg ini. Di CONCACAF, Kanada belum menjadi kekuatan utama, seperti Meksiko dan AS. Kanada bersyukur tergabung dalam Grup A yang keras, terutama mencoba melawan Argentina yang juga juara Finalissima CONMEBOL-UEFA 2022 dan Piala Dunia Qatar 2022.
Baca juga: Bojan Hodak, Melepas Dahaga Persib Bandung
Marsch meyakini, kekuatan tim-tim CONMEBOL lebih kuat daripada CONCACAF. Untuk itu, dengan lebih banyak melawan gergasi Amerika Selatan, terutama Argentina, Uruguay, dan Brasil, bisa menambah daya saing Kanada dalam jajaran elite CONCACAF. ”Saya bersyukur mendapat kesempatan untuk menghadapi lawan mahaberat yang pernah dihadapi karena membuat kami jauh lebih kuat,” kata Marsch yang memulai karier di tim kampus Princeton Tigers.
Marsch dikenal ketika diberi lompatan katak oleh perusahaan Red Bull GmBH dari Austria, untuk melepaskan kesuksesan di New York Red Bulls demi tantangan baru di RB Leipzig, Jerman, sebagai asisten. Leipzig menjadi kawah candradimuka untuk lompatan ke RB Salzburg 2019-2021. Di Salzburg, sentuhan midas Marsch sukses memenangi Admiral Bundesliga dua kali dan Austrian Cup dua kali. Empat gelar prestisius domestik itu menjadi magnum opus portofolio kariernya.

Saya tidak pernah meragukan kemampuan sebagai pelatih.
Setelah di Salzburg, Marsch sempat hampir semusim kembali ke Leipzig menggantikan Julian Nagelsmann yang kini melatih Jerman. Di Leipzig, Marsch kehilangan daya magis sehingga tanpa prestasi. Namun, bersama Salzburg, Marsch merupakan pelatih AS pertama yang memenangi trofi bergengsi di Eropa. Selain itu, pelatih AS pertama yang berkompetisi di Liga Champions dan Liga Europa bersama Salzburg dan Leipzig.
”Saya tidak pernah meragukan kemampuan sebagai pelatih,” kata Marsch, sarjana sejarah AS lulusan Universitas Princeton 1996.
Jauh sebelum melatih, Marsh bermain di tim kampus. Selanjutnya, masuk jenjang profesional selama 14 musim di Liga AS atau MLS (Major League Soccer) bersama DC United, Chicago Fire, dan Chivas USA. Bermain di posisi gelandang, Marsch tampil dalam 321 laga dan membuat 31 gol. Sebagai pemain, ia cukup kenyang prestasi dengan 3 MLS Cup, 4 US Open Cup, dan 2 Supporters’s Shield sebelum gantung sepatu pada Februari 2010.
Dalam karier kepelatihan, bapak tiga anak ini memulai dengan menjadi asisten pelatih AS kurun waktu 2010-2011 yang singkat. Selanjutnya, Marsch semusim menangani Montreal Impact, klub Kanada, dan kembali ke kampus sebagai asisten pelatih Princeton Tigers. Kemudian, ia dipercaya menangani New York Red Bulls dan seperti ungkapan selanjutnya adalah sejarah.
Perjalanan kariernya memang naik turun. Di Salzburg, Marsch memang moncer, apalagi didukung sejumlah pemain bintang yang kini masih bersinar terang, antara lain Erling Haaland (Norwegia), Takumi Minamino (Jepang), dan Dominik Szoboszlai (Hongaria). Minamoni pernah bermain di Liverpool, sedangkan Szoboszlai masih bertahan bersama ”Si Merah” Liverpool.
Di Leipzig, nasibnya kurang baik meski mampu mencapai final DFB Pokal dan kalah dari Bayern Muenchen. Marsch didepak, lalu mengambil cuti. Namun, nasib baik tak terlalu jauh darinya. Ia menerima pinangan Leeds United yang memberhentikan Marcelo ”El Loco” Bielsa (Argentina). Menggantikan ”Si Gila” di kursi kepelatihan menjadikan Marsch pelatih AS ketiga yang berkarier di Liga Premier yang dianggap sebagai kompetisi domestik antarklub terketat dan bergengsi dunia.
Tidak lama Marsch menduduki kursi panas Leeds United karena didepak pada Februari 2023. Setelah menganggur hampir setahun sekaligus masa sabatikal, ia menanggapi panggilan Kanada. Capaian yang bagus bersama Kanada sebenarnya membuat AS (USMNT) terpikat. Namun, Marsch mengabaikan panggilan negaranya karena terikat dan berambisi meningkatkan capaian Kanada.
Kontrak Marsch baru akan berakhir pada akhir 2026. Seusai Copa America, ia punya waktu mempersiapkan diri ke Piala Dunia 2026 karena Kanada berstatus sebagai tuan rumah bersama AS dan Meksiko. Di turnamen terakbar itu, kejutan pelatih pertama AS bagi Kanada ini dinanti. Targetnya tidak muluk, yakni lolos ke fase gugur. Hal itu karena capaian Kanada di edisi Meksiko 1986 dan Qatar 2022 tersingkir di penyisihan grup.
”Merupakan kehormatan besar untuk memimpin Kanada di Copa America dalam persiapan kami untuk Piala Dunia 2026,” ujar Marsch dikutip dari Canadasoccer. (AP/AFP)
Jesse Alan Marsch
Lahir: 8 November 1973
Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Karier profesional:
- 1992-1995 Princeton Tigers
- 1996–1997 DC United
- 1998–2005 Chicago Fire
- 2006–2010 Chivas USA
- 2001-2007 AS
Karier kepelatihan:
- 2010-2011 AS (asisten)
- 2011-2012 Montreal Impact
- 2013-2014 Princeton Tigers (asisten)
- 2015-2018 New York Red Bull (Supporter’s Shield 2015, 2018)
- 2018-2019 RB Leipzig
- 2019-2021 RB Salzburg (Admiral Bundesliga 2020, 2021, OFB Cup 2020, 2021)
- 2021 RB Leipzig
- 2022-2023 Leeds United
- 2024 Kanada (semifinal Copa America AS 2024)
”Kami telah menjalani lima-enam minggu yang luar biasa bersama dengan hasil jauh lebih baik daripada yang direncanakan. Kami telah membangun fondasi yang amat baik,” ujar Pelatih Kanada Jesse Marsch seusai kalah 0-2 dari Argentina di semifinal Copa America, Rabu (10/7/2024), di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat.
Copa America merupakan turnamen kontinental oleh CONMEBOL (Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan) sejak 1916, yang tertua di dunia. Turnamen kedua di AS atau setelah Centenario 2016 diikuti sepuluh tim CONMEBOL dan hasil kualifikasi enam tim CONCACAF (Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara Tengah dan Karibia).
Di edisi ke-48 Copa America, ”Les Rouges” Kanada berstatus debutan dan lolos dari jalur play-off. Bahkan, kapten Alphonso Davies dan rekan baru ditangani Marsch sejak 13 Mei 2024 atau kurang 40 hari dari laga pembuka Grup A melawan Argentina, juara Copa America Brasil 2021. Pertandingan perdana di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, berakhir dengan kekalahan Kanada 0-2 dari Argentina.
Baca juga: Marco Reus, Pendobrak Mitos Kesetiaan Pesepak Bola
Sejak didepak dari Leeds United Liga Inggris pada Februari 2023, Marsch berada dalam masa sabatikal sebelum dihubungi oleh CSA (Asosiasi Sepak Bola Kanada) untuk menangani tim Kanada yang semula menjadi tugas pelatih interim Mauro Biello. Marsch merespons positif dengan menerima tanggung jawab itu sekaligus mempertahankan Biello sebagai asisten.
Sebelum terjun ke Copa America, Marsch membawa Kanada melintasi Samudra Atlantik untuk persahabatan dengan Belanda dan Perancis. Laga melawan dua tim ”Benua Biru” yang juga mempersiapkan diri untuk Piala Eropa Jerman dengan sepak mula 15 Juni 2024 atau sepekan lebih awal dari Copa America AS. Dalam dua laga persahabatan itu, Kanada hancur 0-4 oleh Belanda (5 Juni 2024) dan seri 0-0 dengan Perancis (9 Juni 2024).
Berada di Grup A bersama trio CONMEBOL Argentina, Chile, dan Peru membuat Marsch tidak menerapkan target tinggi. Kanada tahu diri merasa akan sulit mengatasi Argentina pengoleksi 15 Copa America dan 3 Piala Dunia lalu Chile dan Peru yang masing-masing pengoleksi 2 Copa America. Namun, Marsch mendorong Kanada bermain dengan energi tinggi dan tekanan yang intens sehingga kalah 0-2 dari Argentina, menang 1-0 atas Peru, dan seri 0-0 dengan Chile.
Kanada maju ke perempat final sebagai runner-up Grup A mendampingi Argentina. Di fase gugur, Marsch menghadapi tim kejutan Venezuela, juara Grup B, dan menang dalam adu penalti 4-3 (1-1). Mereka kembali menghadapi Argentina di semifinal dan kalah lagi dengan skor sama 0-2 seperti saat laga pembuka.
Kekalahan di semifinal membuat Kanada sekali lagi berlaga untuk perebutan tempat ketiga. Lawannya adalah Uruguay yang di semifinal kalah dari Kolombia. Uruguay adalah raksasa CONMEBOl yang mengoleksi 15 Copa America, 2 emas Olimpiade setara Piala Dunia, 2 Piala Dunia, dan 1 Mundialito (Peringatan 50 Tahun Piala Dunia).

Saya sempat khawatir Copa America menjadi ujian awal terlalu berat bagi Kanada, tetapi saya senang karena terbukti keliru.
Di laga perebutan posisi ketiga kontra ”La Celeste” Uruguay, Kanada kalah adu penalti 4-2 (2-2). Kekalahan itu meruntuhkan ambisi Kanada menyamai capaian debutan Honduras yang sukses ke urutan ketiga di Copa America Kolombia 2001. Namun, Marsch menyadari, kekalahan dari Uruguay bisa diterima mengingat kuatnya lawan.
Kemenangan sebenarnya sudah di depan mata ketika Kanada unggul 2-1, tetapi skor disamakan menjadi 2-2 di waktu tambahan sehingga memaksa adu penalti. Catatan adu penalti Kanada memang buruk. Selain itu, dua kali menghadapi Uruguay pada 1986 dan 2022 selalu berakhir dengan kekalahan Kanada.
”Saya sempat khawatir Copa America menjadi ujian awal terlalu berat bagi Kanada, tetapi saya senang karena terbukti keliru,” ujar mantan pelatih yang sukses bersama New York Red Bull dan RB Salzburg ini. Di CONCACAF, Kanada belum menjadi kekuatan utama, seperti Meksiko dan AS. Kanada bersyukur tergabung dalam Grup A yang keras, terutama mencoba melawan Argentina yang juga juara Finalissima CONMEBOL-UEFA 2022 dan Piala Dunia Qatar 2022.
Baca juga: Bojan Hodak, Melepas Dahaga Persib Bandung
Marsch meyakini, kekuatan tim-tim CONMEBOL lebih kuat daripada CONCACAF. Untuk itu, dengan lebih banyak melawan gergasi Amerika Selatan, terutama Argentina, Uruguay, dan Brasil, bisa menambah daya saing Kanada dalam jajaran elite CONCACAF. ”Saya bersyukur mendapat kesempatan untuk menghadapi lawan mahaberat yang pernah dihadapi karena membuat kami jauh lebih kuat,” kata Marsch yang memulai karier di tim kampus Princeton Tigers.
Marsch dikenal ketika diberi lompatan katak oleh perusahaan Red Bull GmBH dari Austria, untuk melepaskan kesuksesan di New York Red Bulls demi tantangan baru di RB Leipzig, Jerman, sebagai asisten. Leipzig menjadi kawah candradimuka untuk lompatan ke RB Salzburg 2019-2021. Di Salzburg, sentuhan midas Marsch sukses memenangi Admiral Bundesliga dua kali dan Austrian Cup dua kali. Empat gelar prestisius domestik itu menjadi magnum opus portofolio kariernya.

Saya tidak pernah meragukan kemampuan sebagai pelatih.
Setelah di Salzburg, Marsch sempat hampir semusim kembali ke Leipzig menggantikan Julian Nagelsmann yang kini melatih Jerman. Di Leipzig, Marsch kehilangan daya magis sehingga tanpa prestasi. Namun, bersama Salzburg, Marsch merupakan pelatih AS pertama yang memenangi trofi bergengsi di Eropa. Selain itu, pelatih AS pertama yang berkompetisi di Liga Champions dan Liga Europa bersama Salzburg dan Leipzig.
”Saya tidak pernah meragukan kemampuan sebagai pelatih,” kata Marsch, sarjana sejarah AS lulusan Universitas Princeton 1996.
Jauh sebelum melatih, Marsh bermain di tim kampus. Selanjutnya, masuk jenjang profesional selama 14 musim di Liga AS atau MLS (Major League Soccer) bersama DC United, Chicago Fire, dan Chivas USA. Bermain di posisi gelandang, Marsch tampil dalam 321 laga dan membuat 31 gol. Sebagai pemain, ia cukup kenyang prestasi dengan 3 MLS Cup, 4 US Open Cup, dan 2 Supporters’s Shield sebelum gantung sepatu pada Februari 2010.
Dalam karier kepelatihan, bapak tiga anak ini memulai dengan menjadi asisten pelatih AS kurun waktu 2010-2011 yang singkat. Selanjutnya, Marsch semusim menangani Montreal Impact, klub Kanada, dan kembali ke kampus sebagai asisten pelatih Princeton Tigers. Kemudian, ia dipercaya menangani New York Red Bulls dan seperti ungkapan selanjutnya adalah sejarah.
Perjalanan kariernya memang naik turun. Di Salzburg, Marsch memang moncer, apalagi didukung sejumlah pemain bintang yang kini masih bersinar terang, antara lain Erling Haaland (Norwegia), Takumi Minamino (Jepang), dan Dominik Szoboszlai (Hongaria). Minamoni pernah bermain di Liverpool, sedangkan Szoboszlai masih bertahan bersama ”Si Merah” Liverpool.
Di Leipzig, nasibnya kurang baik meski mampu mencapai final DFB Pokal dan kalah dari Bayern Muenchen. Marsch didepak, lalu mengambil cuti. Namun, nasib baik tak terlalu jauh darinya. Ia menerima pinangan Leeds United yang memberhentikan Marcelo ”El Loco” Bielsa (Argentina). Menggantikan ”Si Gila” di kursi kepelatihan menjadikan Marsch pelatih AS ketiga yang berkarier di Liga Premier yang dianggap sebagai kompetisi domestik antarklub terketat dan bergengsi dunia.
Tidak lama Marsch menduduki kursi panas Leeds United karena didepak pada Februari 2023. Setelah menganggur hampir setahun sekaligus masa sabatikal, ia menanggapi panggilan Kanada. Capaian yang bagus bersama Kanada sebenarnya membuat AS (USMNT) terpikat. Namun, Marsch mengabaikan panggilan negaranya karena terikat dan berambisi meningkatkan capaian Kanada.
Kontrak Marsch baru akan berakhir pada akhir 2026. Seusai Copa America, ia punya waktu mempersiapkan diri ke Piala Dunia 2026 karena Kanada berstatus sebagai tuan rumah bersama AS dan Meksiko. Di turnamen terakbar itu, kejutan pelatih pertama AS bagi Kanada ini dinanti. Targetnya tidak muluk, yakni lolos ke fase gugur. Hal itu karena capaian Kanada di edisi Meksiko 1986 dan Qatar 2022 tersingkir di penyisihan grup.
”Merupakan kehormatan besar untuk memimpin Kanada di Copa America dalam persiapan kami untuk Piala Dunia 2026,” ujar Marsch dikutip dari Canadasoccer. (AP/AFP)
Jesse Alan Marsch
Lahir: 8 November 1973
Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Karier profesional:
- 1992-1995 Princeton Tigers
- 1996–1997 DC United
- 1998–2005 Chicago Fire
- 2006–2010 Chivas USA
- 2001-2007 AS
Karier kepelatihan:
- 2010-2011 AS (asisten)
- 2011-2012 Montreal Impact
- 2013-2014 Princeton Tigers (asisten)
- 2015-2018 New York Red Bull (Supporter’s Shield 2015, 2018)
- 2018-2019 RB Leipzig
- 2019-2021 RB Salzburg (Admiral Bundesliga 2020, 2021, OFB Cup 2020, 2021)
- 2021 RB Leipzig
- 2022-2023 Leeds United
- 2024 Kanada (semifinal Copa America AS 2024)