Perang tidak hanya menutup langit Teluk, tetapi juga membuka jurang ketimpangan. Jet pribadi untuk kaum berkantong tebal dan jalan darat berliku bagi yang lain.
07 Mar 2026 10:23 WIB · Internasional
Ap Photo/Firdia Lisnawati
Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran terjadi tanpa peringatan. Puluhan ribu orang mendadak terjebak di kawasan Teluk. Jet yang semula disiapkan untuk angkutan hewan peliharaan pun berubah menjadi jet evakuasi orang berkantong tebal. Sebagian lain terpaksa memilih jalan berliku, rute darat menyeberang ke negara yang lebih aman, lalu mencari penerbangan keluar dari kawasan.
Kekacauan menyebar cepat setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, disusul balasan Iran ke fasilitas AS dan Israel di negara-negara Teluk.
Penutupan wilayah udara, pembatalan penerbangan, dan gangguan operasional bandara membuat ribuan pelancong, pekerja, dan ekspatriat terdampar di Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Israel, dan negara-negara sekitarnya.
Pemerintah AS menyerukan warganya segera keluar dari Timur Tengah. Namun, banyak warga AS mengeluh nyaris tak mendapat bantuan dari pemerintah mereka untuk keluar dari kawasan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/c4502ab40a17faae7d4a0d3d25ac6d9f-Iran_US_Stranded_Pilgrims.jpeg)
Alyssa Ramos, blogger perjalanan yang terdampar di Kuwait, menempuh perjalanan 48 jam, melintasi empat benua, untuk pulang ke Miami, AS. Seluruh perjalanan itu, katanya, tanpa bantuan Pemerintah AS.
”Mereka terus tampil di berita dan mengatakan mereka melakukan segala yang mereka bisa untuk mengeluarkan warga Amerika. Saya tahu pasti mereka tidak melakukannya,” kata Ramos setelah mendarat di Miami, Kamis (5/3/2026).
Ramos mengatakan, ia berulang kali mengirim pesan ke Kedutaan Besar AS di Kuwait sebelum diarahkan ke bagian konsuler. Bagian itu, menurut dia, menyatakan tidak bisa membantu. Ia hanya disarankan mendaftar ke program smart traveler serta berlindung di tempat.
Mereka terus tampil di berita dan mengatakan mereka melakukan segala yang mereka bisa untuk mengeluarkan warga Amerika. Saya tahu pasti mereka tidak melakukannya. (Alyssa Ramos)
Ramos menjadi salah satu dari banyak warga AS yang terjebak di Timur Tengah. Mereka menghadapi bandara yang tutup, penerbangan yang dibatalkan, dan panduan pemerintah yang membingungkan. Pada saat yang sama, negara-negara lain, seperti Polandia, Australia, dan Perancis, bergerak lebih cepat dengan mengirim pesawat militer atau penerbangan carter bagi warganya.
Departemen Luar Negeri AS menyebut sekitar 27.000 warga AS telah kembali pada Jumat. Namun, sebagian besar pulang dengan upaya sendiri.
Penerbangan repatriasi (pemulangan warga negara) carter pertama telah tiba di AS pada Kamis. Penerbangan lain akan menyusul tiap hari. Akan tetapi, pejabat tidak menjelaskan jumlah penumpang ataupun lokasi keberangkatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/27b23c887a01604f9085af05e2d9bb5e-APTOPIX_Emirates_Iran_US_Israel.jpeg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/17/36a31dc4c4a093dfcca783ddf64aec39-20260217_ADI_Rudal_Iran_mumed.png)
Dua pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan, 30-40 persen warga yang ditawari kursi di penerbangan carter menolak atau tidak muncul. Menurut mereka, sekitar 13.000 warga AS telah menghubungi pemerintah untuk mencari informasi atau bantuan keluar dari Timur Tengah. Namun, tidak semua mendapat kursi di penerbangan carter tersebut.
Ketiadaan bantuan membuat banyak orang mengandalkan grup Whatsapp dan media sosial untuk berbagi informasi rute keluar. Ramos, misalnya, membuat beberapa grup percakapan pada Senin. Hal ini dilakukan setelah para pengikut akunnya, My Life’s a Travel Movie, meminta bantuan.
Dalam tiga hari, lebih dari 2.200 orang bergabung. Mereka bertukar informasi soal tumpangan ke bandara yang masih beroperasi, nama sopir yang tepercaya, tarif, hingga jenis mata uang yang diterima.
Di salah satu pesan, seorang perempuan menulis bahwa keluarganya, termasuk dua anak, telah dua kali gagal terbang dari Dubai. Padahal, anaknya yang berusia dua tahun menderita diabetes dan mulai kehabisan obat. Anggota grup lain segera memberi saran.
Cory McKane, warga AS lain, juga mengandalkan grup Whatsapp saat berusaha keluar dari Dubai. Ia akhirnya bisa terbang pada Rabu setelah jalan darat tanpa tidur melintasi perbatasan Oman.
Ia dan teman-temannya menyewa mobil menuju perbatasan. Dari sana, sopir taksi memasang tarif hingga 650 dollar AS (sekitar Rp 11 juta) untuk mengantar ke Bandara Muscat di ibu kota Oman.
”Semua orang saling mengirim sumber daya karena, terus terang saja, AS tidak melakukan satu hal pun dalam kapasitas apa pun. Itu sangat mengecewakan,” ujar McKane.
Hingga kini, Oman masih menjadi salah satu jalur keluar yang relatif tetap berfungsi meski negara itu juga terdampak serangan pesawat nirawak (drone).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/b88623d64e567de68b67177d61d01842-Repatriation_Flights_Bring_over_100_Citizens_Back_to_Slovakia_on_Tuesday.jpeg)
Jason Altmire, mantan anggota Kongres AS dari Pennsylvania, juga lolos dari Dubai setelah wilayah udara UEA dibuka sebagian. Ia terbang ke Bangkok bersama istrinya. Pasangan itu memang semula hendak liburan di Asia Tenggara.
Menurut Altmire, Departemen Luar Negeri, AS pada intinya meminta warga mengurus diri sendiri. ”Kami tidak pernah mendengar apa pun dari Departemen Luar Negeri selain surel umum yang menyarankan kami mencari jalan keluar sendiri,” kata Altmire dalam wawancara melalui surel.
Di Kongres AS, kubu Demokrat protes keras. Dalam surat kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, mereka menilai kurangnya persiapan, perencanaan, dan komunikasi yang jelas kepada warga AS di luar negeri.
Rubio mengatakan, AS telah mengatur penerbangan pemulangan, tetapi menghadapi tantangan logistik karena tidak mengendalikan penutupan wilayah udara. ”Kami akan membantu mereka. Tapi, butuh waktu karena kami tidak mengendalikan penutupan wilayah udara,” ujarnya.
Di tengah kekacauan itu, jet pribadi muncul sebagai alternatif bagi mereka yang mampu membayar. Reuters melaporkan adanya lonjakan permintaan sewa jet pribadi. Bahkan, layanan hewan peliharaan pun diubah menjadi evakuasi.
Samuel Lait, pendiri PetX Jets di Dubai, semula meluncurkan perusahaan penerbangan pribadi yang berfokus pada perjalanan hewan peliharaan antara Dubai dan Inggris. Namun, sejak Sabtu pekan lalu, perusahaannya justru dipenuhi permintaan penumpang manusia yang ingin keluar dari UEA. Di antara mereka ada anak muda, ibu hamil, hingga lansia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/1ba37e2cc5d91c882cb12f1edc1be055-Iran_war_First_evacuation_flight_from_Oman.jpeg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/bfea057901904144719ac2325c6cd0d5-US_and_Israeli_attacks_on_Iran.jpeg)
Perusahaan juga mempercepat jadwal operasi dari semula Juni. ”Gagasan awalnya adalah mengangkut hewan peliharaan dan pemiliknya antara Inggris dan Dubai terutama. Konsep itu sudah sangat berubah sejak Sabtu,” kata Lait.
Permintaan yang tinggi melambungkan tarif. Menurut Altay Kula, CEO Jet-VIP yang berbasis di Perancis dan beroperasi di Timur Tengah, tarif penerbangan jet ringan dari Dubai ke Istanbul biasanya 50.000 dolar AS (sekitar Rp 850 juta) untuk enam orang. Kini, tarifnya melonjak menjadi 100.000 dolar AS (sekitar Rp 1,7 miliar).
Untuk pesawat berkapasitas 15 penumpang, tarif naik dari 110.000 dolar AS (sekitar Rp 1,9 miliar) menjadi 200.000 dolar AS (Rp 3,4 miliar). ”Sejak eskalasi ketegangan di kawasan, kami melihat peningkatan signifikan dalam pemesanan. Setiap 10-20 menit kami mendapat permintaan. Maksud saya, permintaannya sangat besar saat ini,” katanya.
Menurut dia, banyak orang kini mencari solusi untuk meninggalkan Timur Tengah, khususnya Dubai dan Qatar. Rute paling dicari dari Riyadh dan Muscat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/6ad8c2eff29af7ae38bccce0a2e5f661-wires_photo.jpg)
Kelangkaan slot penerbangan menjadi hambatan tersendiri. ”Kadang-kadang bisa memakan waktu sampai 24 jam hanya untuk mendapatkan otorisasi pergi ke Oman dan menjemput penumpang,” kata Kula.
Di tengah situasi ini, ada saja pihak yang ingin menangguk untung. Lait harus menawar harga pada para makelar dan penyedia pesawat untuk memperoleh harga masuk akal. ”Banyak penerbangan yang awalnya ditawarkan kepada kami berasal dari Oman. Jadi, harga di sana tetap sangat gila karena permintaannya jelas meroket,” kata Lait.
Kelangkaan dan mahalnya biaya penerbangan membuat sebagian orang memilih perjalanan darat menuju Oman, Arab Saudi, Mesir, atau Jordania, lalu terbang dari sana. Jalur-jalur ini menjadi titik keluar utama lewat darat. Bagi yang tak mampu menyewa jet pribadi, perjalanan darat yang panjang dan mahal menjadi satu-satunya pilihan realistis.
Qatar pada Jumat (6/3/2026) mengumumkan pembukaan sebagian wilayah udaranya. Tetapi, pembukaan sangat terbatas. Bandara Internasional Hamad di Qatar menyatakan, pengoperasian hanya untuk penerbangan evakuasi penumpang yang terdampar dan operasi kargo udara pada Sabtu (7/3/2026).
Keamanan Qatar pun belum pulih. Pada Jumat, Kementerian Pertahanan Qatar mengatakan, wilayahnya menjadi sasaran 10 drone Iran. Sembilan di antaranya berhasil dicegat, sedangkan satu lainnya menghantam area tak berpenghuni tanpa menimbulkan korban.
Sebelumnya, pada Selasa, Qatar juga menyatakan Bandara Internasional Hamad menjadi target serangan Iran, tetapi seluruh serangan berhasil digagalkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/03/a844742a6d2baffbbd51876eade0cb3f-wires_photo_285.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/bdc95715038196c20f7b44c84e436a82-AP26059504775792.jpg)
Gangguan pada penerbangan sipil dan operasi penyelamatan pun masih besar. Reuters melaporkan, penerbangan repatriasi Air France terpaksa berbalik arah akibat tembakan rudal. Penerbangan Lufthansa menuju Riyadh juga dialihkan ke Kairo karena alasan keselamatan.
Menteri Transportasi Perancis Philippe Tabarot mengatakan, insiden itu mencerminkan ketidakstabilan di kawasan dan kerumitan operasi repatriasi.
Menurut Flightradar24, lalu lintas di Bandara Dubai pada Kamis naik hampir dua kali lipat dibandingkan Rabu. Akan tetapi, jumlah ini baru sekitar 25 persen dari level normal.
Menurut firma analitik penerbangan Cirium, hingga Jumat, lebih dari 29.000 dari sekitar 51.000 penerbangan di Timur Tengah dibatalkan. Perang juga menambah tekanan biaya bagi industri penerbangan. Harga avtur di Singapura pekan ini mencapai rekor 225 dolar AS per barel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/d94f1d39b567397d35769888e157ced0-wires_photo_3_.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/07/1f0b84661f57bdf116a91a27aaa5b87a-wires_photo_1_.jpg)
Banyak warga sipil harus mengandalkan akal sendiri. Trenten Higgins tiba di New York pada Kamis setelah naik taksi dari Israel ke Jordania dan terbang dari Amman.
Menurut Higgins, peringatan dan saran Pemerintah AS selalu terlambat. ”Setiap peringatan yang mereka berikan dan semua saran yang mereka berikan terlambat setidaknya satu hari,” ucapnya.
Perang tidak hanya menutup langit Teluk, tetapi juga membuka jurang ketimpangan. Jet pribadi untuk kaum berkantong tebal dan jalan darat berliku bagi yang lain. Sisanya terpaksa menanti dengan harap-harap cemas, kapan damai datang. (REUTERS/AP/AFP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti