CATATAN URBAN

Jika Bukan Bosmu, Rekan Kerja yang Tepat Bisa Menyelamatkanmu

Komunikasi buruk di tempat kerja mengikis kepercayaan. Semua pekerja layak dihormati dan didengar. Di tengah kondisi buruk, kolega bisa menjadi penyelamat.

08 Des 2024 09:00 WIB · Opini

KOMPAS

Oleh Neli Triana

Apa warna kotamu akhir-akhir ini? Mendung dan hujan membentangkan latar abu-abu ke berbagai penjuru kawasan. Namun, tidak semata tentang cuaca, ketidakcerahan bak kabut telah merasuki pikiran kaum urban yang merebut sebagian rasa bahagia.

Menjelang pergantian tahun ini, misalnya, masyarakat makin waswas. Selain rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), ada pembatasan subsidi bahan bakar minyak (BBM), kenaikan tarif premi iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, iuran dana pensiun wajib tambahan, dan iuran asuransi wajib kendaraan bermotor tanggung jawab pihak ketiga.

Di sisi lain, ekonomi masih belum bergerak sesuai yang harapan. Pandemi Covid-19 meninggalkan jejak mendalam dampak buruk di bidang kesehatan publik, sosial, hingga ekonomi yang belum tuntas teratasi.

Pengusaha khawatir bisnisnya tak mampu bertahan, apalagi berkembang. Terlebih jika tengah bergulat dengan bermacam disrupsi. Manajemen memutar otak agar mencapai target yang tiap tahun ditetapkan naik, begitu pula dengan laba. Efisiensi di segala bidang, termasuk mengurangi pekerja jamak dilakukan.

Mereka yang berstatus pekerja tak kalah deg-degan. Jangan-jangan pekerjaan ini tak tersedia lagi untuknya dalam waktu dekat. Kaum urban yang didominasi kelas pekerja sangat merasakan dinamika ini, keresahan ini.

Panik? Wajar. Sedikit banyak hal ini merasuki alam pikir banyak orang: pekerja dan keluarganya.

Dalam kepanikan sembari mencari selamat, tidak jarang antara staf, manajer, dan pimpinan berselisih paham. Kritik keras terhadap kebijakan yang dinilai top down hingga perselisihan pun lumrah terjadi. Sensitivitas tinggi.

Kembali ke kantor

Kebijakan yang dalam tahun ini cukup mengguncang kehidupan warga kota adalah return to office (RTO) atau kembali hadir secara fisik sesuai jam dan hari kerja di kantor.

Laporan Indeks Kebahagiaan Karyawan BambooHR menunjukkan bahwa kebahagiaan karyawan mencapai titik terendah sepanjang masa pada akhir 2023. Fenomena ini diyakini berlanjut pada tahun ini dan yang akan mendatang.

Dalam laporan berjudul ”The New Era Surveillance Era: Visibility Beats Productivity for RTO & Remote” pada 6 Juni 2024 itu menyebut, 43 persen pekerja mengatakan bahwa perusahaan telah meminta lebih banyak pegawai bekerja di kantor tanpa ada tawaran kenaikan gaji, penambahan insentif, atau kompensasi.

Penumpang kereta komuter yang didominasi oleh para pekerja kantoran keluar dari Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (9/8/2024). Jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia turun signifikan dalam beberapa tahun terakhir akibat melemahnya daya beli masyarakat dan minimnya kebijakan pemerintah yang pro-kelas menengah. Kondisi tersebut berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditopang oleh belanja masyarakat.

Hal ini meningkatkan pengeluaran karyawan. Kondisi tersebut semakin menambah ketidakpercayaan dan penurunan kebahagiaan di kalangan karyawan. RTO yang diikuti penataan ruang kerja atas nama efisiensi dan efektivitas kerja ternyata juga bisa berakibat sebaliknya. Riset yang sama menunjukkan bahwa sekadar hadir di ruang virtual dan ruang fisik sama-sama tidak berkorelasi langsung dengan produktivitas pekerja.

Sepertiga atau 32 persen manajer mengakui bahwa penerapan RTO semata untuk memastikan keberadaan karyawannya, bukan terkait produktivitas. Sekitar 22 persen divisi sumber daya manusia tidak memiliki alat tepat untuk mengukur kesuksesan RTO.

Quote

Ketimbang melanjutkan kebijakan ’top down’ dan komunikasi searah yang buruk, coba kembali pada budaya perusahaan yang sebelumnya mampu membawa usaha tersebut maju.

Data lain, satu dari empat wakil presiden perusahaan dan jajaran eksekutif serta satu dari lima unsur pimpinan divisi SDM berharap pengunduran diri sukarela terjadi selama RTO. Setidaknya dalam beberapa kasus, RTO memuluskan program pensiun dini atas nama penyehatan keuangan perusahaan.

Hampir separuh atau sekitar 45 persen karyawan yang mengalami RTO melaporkan kehilangan rekan kerja bertalenta dan berkualitas di dalam organisasi mereka.

Ilustrasi

Meskipun demikian, RTO memiliki dampak positif. The Outcome dalam artikel ”The Economic Impacts of the Return-to-Office Push” melaporkan, setelah RTO berjalan, usaha transportasi, tempat makan dan layanan pesan antar, serta ritel dan kawasan komersial menggeliat. Ini berpengaruh pada ekonomi kota.

Walakin, Unispace dalam hasil survei berjudul ”Returning for Good” memaparkan bahwa secara global, RTO diikuti rasa tidak bahagia dari 74 persen karyawan, 59 persen pekerja mengalami burnout, dan perusahaan mengalami tingkat pengurangan karyawan lebih tinggi.

Pada akhirnya, kondisi ini kelak akan memukul bisnis ritel, kawasan komersial, jasa transportasi, hunian, dan lainnya.

Komunikasi dua arah

Kara Dennison dalam ”How Return to Office Policies are Impacting Employees in 2024” di Forbes menuliskan bahwa agar dunia kerja tidak terus suram, perusahaan harus mendengarkan pendapat pegawainya.

Pelatih karier dan kepemimpinan eksekutif yang juga konsultan strategi organisasi itu menyarankan perusahaan melakukan survei atau diskusi kelompok untuk menjaring pendapat karyawan. Perusahaan harus sadar bahwa setiap karyawan itu berbeda. Ada yang berhasil di kantor, sedangkan yang lain lebih produktif di rumah.

Faktor seperti waktu perjalanan, tanggung jawab keluarga, dan gaya kerja pribadi harus dipertimbangkan. Menyesuaikan solusi dengan kebutuhan individu tidak hanya dapat membantu meningkatkan kepuasan dan retensi karyawan, tetapi memungkinkan organisasi merekrut talenta terbaik di tengah kembang kempis keuangan perusahaan.

Suasana kerja di CoHive di kawasan Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (28/5/2021). CoHive merespons tren dan permintaan pasar bagi para pekerja muda dengan menyediakan ruang kerja nyaman dilengkapi dengan berbagai fasilitas permainan.
Suasana kerja di CoHive di kawasan Kuningan, Setia Budi, Jakarta Selatan, Jumat (28/5/2021). CoHive yang bergerak di penyediaan jasa ruang kantor bersama ini merespon tren dan permintaan pasar bagi para pekerja muda dengan menyediakan ruang kerja yang tidak hanya nyaman namun juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas permainan yang dapat dimanfaatkan oleh para pekerjanya dan penyewa. Kompas/Priyombodo (PRI) 28-05-2021

Komunikasi jelas dan transparan kunci untuk menjalin kedekatan profesional dengan pegawai. Pekerja apa pun levelnya layak dihargai dan didengar. Bagi mereka, kesempatan untuk aktualisasi diri dan berkembang, yang tidak selalu berhubungan dengan keinginan naik jabatan maupun gaji, sangat diharapkan tersedia.

Untuk itu, perusahaan yang bisa menerapkan kebijakan bekerja fleksibel dengan tetap harus mencapai target tertentu akan memenangkan hati karyawannya. Di masa sekarang, sistem kerja hibrida yang memadukan bekerja daring dan di kantor sangat diminati. Secara mental, karyawan juga akan lebih sehat.

Perusahaan perlu berinvestasi pada teknologi yang memungkinkan kolaborasi tanpa batas untuk mendukung model kerja hibrida. Tujuannya, menjadikan ruang kerja digital sama efektifnya dengan ruang kerja fisik. Produktivitas dapat dimonitor mulai proses hingga hasil kerja yang terukur.

Ketimbang melanjutkan kebijakan top down dan komunikasi searah yang buruk, coba kembali pada budaya perusahaan yang sebelumnya mampu membawa usaha tersebut maju. Perusahaan harus fokus pada penguatan nilai-nilai inti, memupuk rasa memiliki yang tidak semata terikat pada kedekatan fisik. Ada proyek lintas fungsi untuk membantu membangun koneksi.

Ketika perusahaan belum mampu menaikkan pendapatan rutin karyawannya, ada baiknya menyediakan sistem kompensasi berbasis kinerja atau pencapaian. Penting untuk memastikan sistem gaji tetap adil. Fokusnya harus pada kinerja yang terukur dengan baik, bukan semata kehadiran fisik.

Kolega penyelamat

Sayangnya, harapan manajemen bertindak seperti saran Dennison tidak selalu terwujud. HR Zone dalam artikelnya, ”How to Handle the Stress of A Bad Boss”, memaparkan bahwa dunia kerja memang tidak selalu seperti yang kita inginkan.

Namun, patut diingat bahwa opsi mundur tidak tepat untuk semua orang. Pekerja juga perlu menemukan jawaban apakah ia benar-benar menyukai pekerjaan yang dijalani, apakah terintegrasi baik dalam kehidupan pribadi kita? Apakah kita merasa memiliki tim yang terdiri dari orang-orang bertalenta dan asik untuk bekerja sama?

Pertanyaan lain, apakah pekerja sendiri telah bekerja secara profesional, mampu memenuhi target, dan menjawab kebutuhan perusahaan?

Di sisi lain, perlu pula memahami apa dan siapa pimpinan yang buruk itu.

Quote

Tim kerja yang bagus menjadi tempat bergantung sempurna kala atasan dirasakan sulit dijadikan pegangan.

HR Zone menuliskan tidak ada bos yang sempurna. Walakin, ada atasan yang suka membesar-besarkan hal-hal kecil di luar proporsinya atau sangat mematuhi peraturan, bahkan dengan mengorbankan pekerjaan atau orang yang baik. Beberapa atasan bermaksud positif, tetapi upaya mereka untuk memperbaiki keadaan seringkali lebih banyak merugikan daripada menguntungkan.

Beberapa bos hebat dalam bekerja sebagai individu tetapi tidak cocok untuk peran kepemimpinan. Beberapa bos diberkati dengan kepribadian tidak menyenangkan karena sekali lagi, dunia membutuhkan perpaduan antara yang baik dan yang buruk.

Ada juga bos yang sangat tidak kompeten, ada pula yang terusir karena dinamika atau politik kantor. Lalu, ada bos yang tampaknya ada hanya untuk membuat hidup lebih sengsara.

Di tengah dunia yang tidak sempurna itu, pegawai berpendidikan tinggi adalah kaum intelektual yang bekerja menggunakan kecerdasan dan keterampilannya. Bukan seperti sapi atau kerbau yang dicocok hidungnya lantas bisa mengikuti saja kemauan penghelanya.

Untuk itu, pekerja intelektual bisa memupuk solusi atas kebuntutan di perusahaan dengan tetap berpegang pada integritas diri sendiri, bekerja maksimal secara profesional.

HR Zone menyarankan untuk menggali informasi demi membantu menghadapi pimpinan dan menerjemahkan keinginan kantor dengan lebih baik. Selanjutnya, temukan kenyamanan di tengah tim kolegamu. Tim kerja yang bagus menjadi tempat bergantung sempurna kala atasan dirasakan sulit dijadikan pegangan.

Dukungan tim yang baik dapat mengimbangi stres di kantor sembari tetap bekerja keras sesuai tuntutan. Untuk itu, praktikkan komunikasi jelas dan transparan agar dapat berbagi peran serta beban kerja seimbang dengan teman kerja.

Langkah kecil ini sedikit demi sedikit dapat menyibak kabut. Percayalah.


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Gesit Ariyanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan