Mirra Andreeva gagal mewujudkan harapan mendapat hasil baik setelah menjuarai Perancis Terbuka. Dia tersingkir pada babak kedua Wimbledon.
02 Jul 2026 10:30 WIB · Olahraga
AFP
LONDON, RABU — Mirra Andreeva mendapat pengalaman bahwa menjuarai dua turnamen tenis Grand Slam di jenis lapangan berbeda secara beruntun bukan hal yang mudah. Setelah menjuarai Perancis Terbuka, Andreeva justru tersingkir pada babak kedua Wimbledon sebulan kemudian.
Dalam persaingan dengan juara Perancis Terbuka lainnya, Barbora Krejcikova (2021), Andreeva kalah dengan skor 6-4, 5-7, 4-6. Andreeva meninggalkan Lapangan Utama All England Club, London, Inggris, Rabu (1/7/2026), dengan rasa frustrasi karena dia sudah berjuang untuk bertahan dengan menahan enam match point Krejcikova.
Dengan cedera beruntun yang membuatnya sering absen dari turnamen dalam dua tahun terakhir, Krejcikova tak pernah mengalahkan petenis ranking 10 besar dunia sejak turnamen Final WTA 2024. Dia mengalahkan Cori ”Coco” Gauff dan Jessica Pegula pada penyisihan grup sebelum kalah dari Zheng Qin Wen di semifinal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/02/9b22553c2fb168e49e1bcb57b5a19c22-wimbledon_andreeva.jpeg)
Di seberang net, Andreeva datang sebagai petenis ranking kelima dunia dan memimpin statistik jumlah kemenangan pada tahun ini. Petenis berusia 19 tahun itu mencatatkan 37 kemenangan yang menghasilkan gelar juara WTA 500 Adelaide, WTA 500 Linz, dan Perancis Terbuka. Andreeva juga mencapai final salah satu turnamen pemanasan Perancis Terbuka, WTA 1000 Madrid, tetapi kalah dari Marta Kostyuk.
Gelar di Linz dan Perancis, serta final di Madrid dicapai pada turnamen lapangan tanah liat, jenis lapangan yang hingga saat ini lebih nyaman untuk Andreeva. Lapangan tanah liat adalah lapangan berkarakter lambat yang memantulkan bola dengan lambat dan tinggi.
Setelah dua bulan bertanding di jenis lapangan tersebut, Andreeva dan petenis lain harus beradaptasi di lapangan rumput dengan karakter bertolak belakang. Lapangan rumput berkarakter cepat, memantulkan bola dengan rendah dan cepat, bahkan, lebih cepat dibandingkan di lapangan keras.
Andreeva, juara Perancis Terbuka termuda dalam 34 tahun terakhir, kesulitan beradaptasi dengan perbedaan karakter lapangan yang ekstrem itu. Apalagi, Krejcikova memiliki pengalaman menjuarai Wimbledon pada 2024. Andreeva pun tak dapat melangkah lebih jauh meski bisa mencapai perempat final di Wimbledon 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/02/4c9873977d92bfb385cb5e29fde56d73-wimbledon_andreeva2.jpg)
”Saya punya banyak peluang untuk menyamakan skor saat servis, seharusnya itu bisa jadi titik balik. Namun, seperti yang Anda lihat, itu tidak berjalan dengan baik. Barbora adalah lawan yang sulit dan dia berhak untuk menang hari ini,” tutur Andreeva sambil menangis.
Andreeva mendapat peluang untuk menyeimbangkan posisi dengan Krejcikova, seperti yang dia katakan, pada set ketiga. Dia mencuri servis Krejcikova pada gim kesembilan saat tertinggal 3-5.
Krejcikova bahkan mendapat triple match point pada posisi 5-3 (40-0). Setelah melalui tujuh kali deuce, Andreeva mempertipis ketertinggalan menjadi 4-5 dan memiliki peluang menyamakan skor karena mendapat giliran servis pada gim berikutnya.
Petenis Rusia itu mendapat set point pada posisi 40-30, tetapi kehilangan gim tersebut yang berakhir dengan kekalahan. Krejcikova merebut tiga poin beruntun yang semuanya berasal dari unforced error Andreeva.
Pada momen krusial tersebut, rasa frustrasi dilampiaskan Andreeva dengan membanting raket ke lapangan dan berulang kali menatap ke arah tim yang dipimpin pelatihnya, Conchita Martinez, juara Wimbledon 1994.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/02/6e9e260029cb481522f25dad782d2e70-wimbledon_krejci_shot.jpeg)
Krejcikova menilai, laga tersebut sangat menyulitkan meski dia unggul 5-3 dan mendapat match point pada set ketiga. Apalagi, petenis yang memiliki tujuh gelar juara dari semua Grand Slam di nomor ganda putri ini tiga kali kalah dari Andreeva pada empat pertemuan sebelumnya.
”Pertandingan luar biasa dan saya harus selalu berjuang keras saat melawan dia. Andreeva adalah petenis muda yang unik. Saya pun harus berjuang hingga poin terakhir dan bangga bisa melakukannya, apalagi setelah berulang kali didera cedera,” kata Krejcikova yang akan melawan sesama petenis Ceko, Nikola Bartunkova, pada babak ketiga.
Tunggal putri pemilik dua gelar Grand Slam, Cori Gauff, juga harus menjalani laga sulit saat melawan Solana Sierra di Lapangan 1, tetapi dia berhasil menyelamatkan diri dari kekalahan di fase awal. Petenis yang lebih dikenal dengan panggilan Coco itu tertinggal 4-7 saat tiebreak pada set ketiga lalu merebut enam poin beruntun dan menang 6-3, 3-6, 7-6 (10-7).
Momen tersebut terjadi pada tanggal dan di lapangan yang sama saat Coco mengalahkan Venus Williams pada babak pertama Wimbledon 2019. Pada 1 Juli 2019, dalam usia 15 tahun dan debut di babak utama Grand Slam, Coco membuat kejutan dengan mengalahkan Venus. Saat itu, dia bermain sejak babak kualifikasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/02/25a4fd01509fa997eaff52e75484ab25-wimbledon_coco.jpg)
”Saya bangga dengan apa yang saya lakukan. Solana bermain sangat baik dan laga tadi seperti tarik tambang. Pukulannya yang keras membuat saya harus lebih sering bertahan. Saya pun harus berusaha lebih keras untuk bermain agresif,” ujar Coco.
Dalam usia 22 tahun, Coco memiliki gelar juara Grand Slam dari Amerika Serikat Terbuka 2023 dan Perancis Terbuka 2025, tetapi dia tak pernah melewati babak keempat di Wimbledon. Selain 2019, dia kalah di babak keempat pada 2021 dan 2024.
Di lapangan lain, petenis Indonesia, Janice Tjen, belum juga bisa melewati babak kedua Grand Slam. Janice kalah dari Daria Kasatkina 7-6 (5), 1-6, 4-6.
Dalam tiga Grand Slam lain, Janice kalah pada babak kedua AS Terbuka 2025 dan Australia Terbuka 2026. Adapun di Perancis Terbuka 2026, dia tersingkir pada babak pertama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/02/5de9518aa4fd6a9ce5acbd08d0e4cf56-wimbledon_djoko.jpeg)
Pada tunggal putra, petenis nomor satu dunia yang juga juara bertahan, Jannik Sinner, harus tetap berjuang keras pada babak kedua meski menang dua set. Dia mengalahkan Nuno Borges 7-6 (4), 7-6 (2), 6-4, setelah bermain lima set pada babak pertama, dua hari sebelumnya.
Sementara, Novak Djokovic masih memperlihatkan keunggulan pada usia 39 tahun saat melawan mantan petenis muda potensial, Stefanos Tsitsipas. Djokovic menang straight sets, 6-3, 6-4, 6-2, untuk melawan Arthur Rinderknech pada babak ketiga.
Dalam penampilan ke-21 di Wimbledon, Djokovic dalam misi menjadi juara untuk kedelapan kali. Jika bisa melakukan itu, dia akan menyamai delapan gelar Roger Federer sebagai tunggal putra dengan gelar Wimbledon terbanyak. (AP/REUTERS)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan