Paris Saint-Germain mencetak sejarah dengan menjadi juara Liga Champions untuk pertama kali setelah melumat Inter Milan 5-0 pada laga final di Muenchen.
01 Jun 2025 03:51 WIB · Olahraga
MUENCHEN, MINGGU — Raja baru Eropa telah lahir. Paris Saint-Germain mencetak sejarah dengan menjadi juara Liga Champions untuk pertama kalinya setelah mengalahkan Inter Milan pada laga final di Muenchen, Jerman, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB.
Tampil dominan sejak sepak mula, tim asuhan Luis Enrique ini memenangi pertandingan dengan skor 5-0. Kemenangan PSG salah satunya berkat kegemilangan penyerang muda Desire Doue yang mencetak dua gol pada pertandingan final pertamanya di Liga Champions.
Pertandingan baru berjalan 12 menit ketika PSG mencetak gol pertama melalui sontekan Achraf Hakimi. Mantan bek kanan Inter yang berdiri bebas di kotak penalti memanfaatkan umpan sempurna dari Desire Doue untuk menaklukkan kiper Yann Sommer.
Mencetak gol ke gawang mantan klub, Hakimi tak banyak melakukan selebrasi. Ia hanya bersujud di lapangan sebelum meminta maaf kepada para pendukung Inter.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/01/4d949b78ac07f984e2bdccf408919d93-Football__UEFA_Champions_League_Final__Paris_SG_FRA_v_Inter_Milan_ITA_.jpeg)
Hanya delapan menit kemudian, giliran Doue yang membobol gawang Sommer melalui tendangan keras kaki kanan. Kali ini, Ousmane Dembele yang memberikan asis terciptanya gol kedua PSG.
Unggul 2-0 tak membuat PSG mengendurkan tekanan. Inter yang berusaha menyerang kesulitan dengan tekanan yang dilakukan para pemain PSG. Setiap kali mereka berusaha membangun serangan dari belakang, para pemain PSG langsung memberikan tekanan untuk merebut bola.
PSG mendominasi pertandingan yang terlihat dari catatan penguasaan bola mereka yang mencapai 62 persen berbanding 38 persen. Tidak hanya sekadar menguasai bola, PSG mampu memanfaatkan setiap penguasaan bola dengan efektif.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/01/04cd6cdc0db67875acba8cf45984033d-Germany_Soccer_Champions_League_Final.jpeg)
Pada babak pertama saja, PSG mengumpulkan jumlah tembakan yang mencapai 13 kali, lima di antaranya tepat sasaran. Sebaliknya, Inter hanya mampu melakukan dua kali tembakan dan tidak satu pun tepat sasaran. Kiper PSG, Gianluigi Donnarumma, pun hanya menganggur selama babak pertama.
Jalannya pertandingan di babak kedua tak berubah. PSG terus mendominasi pertandingan. Mereka bahkan sudah mengancam gawang Inter saat babak kedua baru berlangsung beberapa detik melalui tendangan Khvicha Kvaratskhelia. Namun, tendangan pemain asal Georgia ini masih melambung tipis di atas mistar gawang Sommer.
Meski tertinggal dan timnya kesulitan, pelatih Inter Simone Inzaghi tidak langsung melakukan pergantian pemain. Ia baru melakukan perubahan setelah sembilan menit babak kedua berjalan dengan memasukkan Yann Bisseck menggantikan Benjamin Pavard dan Nicola Zalewski menggantikan Federico Dimarco.
Meski jumlah penguasaan bola Inter mereka meningkat, itu karena PSG cenderung lebih bermain hati-hati. Mereka tidak mau kecolongan yang bisa memberikan asa kebangkitan kepada Inter.
Hanya delapan menit berada di lapangan, Bisseck harus digantikan oleh Matteo Darmina karena cedera. Selain itu, Inzaghi juga memasukkan Carlos Augusto menggantikan Henrich Mkhitaryan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/01/e7f5d2f4b22484f67035dcc697db7886-APTOPIX_Germany_Soccer_Champions_League_Final_1_.jpeg)
Namun, hanya satu menit setelah pergantian tersebut, PSG berhasil menambah keunggulan untuk memadamkan segala upaya Inter untuk bangkit. Doue, yang baru berusia 19 tahun, mencetak gol keduanya pada final Liga Champions, memanfaatkan umpan dari Vitinha.
Semangat para pemain Inter untuk bangkit pun sepertinya sudah padam dengan gol tersebut. Kvaratshkelia kemudian menambah keunggulan PSG pada menit ke-73, memanfaatkan umpan terobosan dari Dembele.
Pemain muda Senny Mayulu melengkapi dominasi PSG dengan mencetak gol kelima tiga menit sebelum waktu normal berakhir. Keberhasilan Enrique menjadi juara Liga Champions bersama PSG menjadikannya pelatih kedua setelah Pep Guardiola yang merebut gelar treble bersama dua klub berbeda.
Penulis:
Prasetyo Eko PrihanantoEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari