Saat pertemuan Menlu AS Marco Rubio dan Menlu Rusia Sergey Lavrov berlangsung di Arab Saudi, Moskwa melontarkan tuntutan baru untuk perundingan damai di Ukraina.
18 Feb 2025 20:22 WIB · Internasional
RIYADH, SELASA — Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dan Menlu Rusia Sergey Lavrov, masing-masing didampingi pejabat tinggi lainnya, menggelar pertemuan di Istana Diriyah, kompleks Albasateen, Riyadh, Arab Saudi, Selasa (18/2/2025). Selain membahas perbaikan hubungan AS-Rusia, Rubio dan Lavrov menegosiasikan cara menghentikan perang Ukraina-Rusia.
Selama pertemuan mereka berlangsung di Riyadh, Moskwa melontarkan tuntutan baru dalam perundingan damai Ukraina-Rusia, yakni pernyataan resmi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) membatalkan janji yang pernah diberikan kepada Ukraina pada tahun 2008 untuk bergabung aliansi militer tersebut.
Tuntutan baru itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, kepada wartawan di Moskwa, Rusia, beberapa jam setelah pertemuan di Riyadh dimulai. Ia mengatakan, tidak cukup bagi NATO untuk tidak menerima Ukraina sebagai anggotanya.
Zakharova menegaskan, NATO harus berbuat lebih dengan membatalkan janji yang pernah disampaikan pada KTT di Bucharest, Romania, tahun 2008 bahwa Kyiv suatu saat kelak bisa bergabung NATO. ”Jika hal itu tidak dilakukan, masalah ini akan terus meracuni atmosfer di Benua Eropa,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/18/3e0ccf10992c138a10611444f2306b46-RUSSIA_DIPLOMACY_126728774.jpg)
Jubir Kremlin, Dmitry Peskov, kepada wartawan juga mengatakan, Presiden Vladimir Putin berulang kali menyatakan kesiapannya untuk merundingkan perdamaian. Namun, katanya, Putin juga mencatat bahwa ”kesepakatan yang komprehensif, kesepakatan jangka panjang, kesepakatan yang hidup terus” dalam konflik di Ukraina tidak mungkin terwujud tanpa memberi ”perhatian secara komprehensif dalam isu keamanan” di Eropa.
Belum ada tanggapan dari negara-negara anggota NATO atau AS terkait tuntutan baru yang diajukan Rusia itu.
Pertemuan Rubio-Lavrov di Riyadh merupakan pertemuan pertama pejabat AS-Rusia, yang digelar kurang dari sebulan setelah Donald Trump dilantik sebagai presiden AS dan enam hari setelah ia berbicara dengan Presiden Putin melalui telepon. Kremlin menyebutkan, pertemuan di Riyadh bisa saja menjadi titik awal pertemuan antara Trump dan Putin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/18/8961493b7d068483d70b31e3666641b0-SAUDI_US_RUSSIA_UKRAINE_CONFLICT_POLITICS_DIPLOMACY_127573464.jpg)
Pertemuan Rubio dan Lavrov beserta pejabat tinggi kedua negara berlangsung lebih dari empat jam. Kepada kantor berita Rusia, Interfax, seusai pertemuan, Penasihat Urusan Luar Negeri Kremlin Yury Ushakov—salah satu anggota delegasi Rusia—mengatakan, pertemuan antara lain membahas persiapan-persiapan untuk menggelar pertemuan Trump-Putin.
Meski demikian, pertemuan kedua pemimpin itu diperkirakan belum bisa digelar pekan depan. Seperti dikutip televisi Rusia, Saluran 1, belum ada jadwal pasti pertemuan Trump-Putin. ”Delegasi kedua negara perlu bekerja sama lebih erat. Kami siap untuk hal ini, tetapi masih sulit membicarakan tanggal pasti untuk pertemuan kedua pemimpin,” kata Ushakov.
Peskov kepada wartawan, Senin (17/2/2025), mengatakan, pertemuan tersebut utamanya difokuskan pada ”perbaikan keseluruhan hubungan luas antara AS dan Rusia, serta persiapan kemungkinan perundingan kesepakatan tentang Ukraina dan penyelenggaraan pertemuan kedua presiden”.
Sementara jubir Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, menyebutkan, pertemuan itu ditujukan untuk melihat seberapa serius Rusia menginginkan perdamaian dan melihat apakah negosiasi lebih detail bisa dimulai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/18/fc04661df3c9e15cd0b8476bb2b93cf4-Russia_Ukraine_War_127571103.jpg)
Tak ada pejabat Ukraina yang diundang dalam pertemuan di Riyadh. Seperti halnya para pejabat dan pemimpin dari Eropa, Kyiv hanya menjadi penonton dari kejauhan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pekan lalu telah menegaskan, tidak ada kesepakatan damai yang dibuat dengan mengatasnamakan negaranya.
Bruce mengatakan, meski Ukraina tidak diundang pada pertemuan Selasa ini, perundingan damai yang sebenarnya kelak akan melibatkan negara itu. Gedung Putih juga menepis anggapan bahwa AS tidak melibatkan Eropa. Alasannya, para pejabat AS telah berbicara mengenai isu Ukraina dengan sejumlah pejabat Eropa.
Kantor berita Rusia, TASS, melaporkan, tak ada pernyataan pendahuluan dan sesi jabat tangan saat wartawan diberi kesempatan masuk ruangan sebelum pembicaraan dimulai.
Rubio didampingi Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz dan Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff. Adapun Lavrov ditemani Penasihat Urusan Luar Negeri Kremlin Yury Ushakov. CEO Dana Investasi Langsung Rusia Kirill Dmitriev juga hadir.
Mereka duduk berhadap-hadapan, dipisahkan meja persegi panjang. Di ujung meja, tampak Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan dan Penasihat Keamanan Nasional Arab Saudi Mosaad bin Mohammad al-Aiban. Di belakang keduanya terpasang tiga bendera (AS, Arab Saudi, dan Rusia).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/18/b4f817ee5bda5af4c71916c54dee62df-SAUDI_US_RUSSIA_UKRAINE_CONFLICT_POLITICS_DIPLOMACY_127571404.jpg)
Pangeran Faisal dan Musaed diperkirakan meninggalkan ruangan pertemuan lebih dulu mengingat itu pertemuan bilateral AS-Rusia.
Saat diberi kesempatan masuk ruangan pertemuan, wartawan meneriakkan pertanyaan, misalnya, apakah AS memang meminggirkan Ukraina dan konsesi apa yang diminta Washington kepada Moskwa. Pejabat AS dan Rusia di ruangan itu tak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
Sebelum pertemuan berlangsung, Dmitriev memberikan pernyataan kepada wartawan. ”Kami punya jalur yang sangat penting di bidang ekonomi,” ujarnya kepada televisi Pemerintah Rusia.
”Kami punya serangkaian proposal yang sedang dipikirkan oleh kolega kami (AS). Saya pikir, kemungkinan bakal ada kemajuan dalam waktu dekat, dua atau tiga bulan,” kata Dmitriev.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/18/f6c1933e5e7fe3849ee57774b1e8bfa1-Russia_Ukraine_War_127571124.jpg)
”Kami tidak bisa mengungkap detail-detailnya…. Dan, jelas ada isu politik. Saya tidak berurusan dengan isu-isu politik, tetapi saya menangani isu-isu investasi dan ekonomi,” katanya, seperti dikutip TASS.
Dmitriev menekankan pentingnya pertemuan di Riyadh. ”Hubungan AS-Rusia yang baik sangat penting bagi seluruh dunia. Hanya melalui kerja sama, Rusia dan AS bisa menangani banyak problem dunia, menyelesaikan konflik-konflik global, dan menawarkan solusi,” ujarnya kepada kantor berita Associated Press.
Mengutip delegasi Rusia, televisi Arab Saudi, Al Arabiya, melukiskan prioritas Moskwa dalam pertemuan kali ini adalah ”normalisasi sebenarnya dengan Washington”. Seperti dikutip The New York Times, Ushakov mengatakan kepada wartawan seusai mendarat di Riyadh bahwa target pertemuan di Riyadh bagi Rusia adalah ”memulai normalisasi sebenarnya dalam hubungan antara kami dan Washington”. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Muhammad Samsul HadiEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan