PIALA DUNIA 2026

Jules Rimet dan Pesan Damai Piala Dunia

Menurut cucunya, Jules Rimet adalah seorang ”humanis dan idealis, yang percaya bahwa olahraga dapat menyatukan dunia”.

19 Jun 2026 08:00 WIB · Artikel Opini

Kompas/Supriyanto

Oleh Bobby Steven

Pergelaran Piala Dunia tak bisa dilepaskan dari kiprah sang penggagasnya, Jules Rimet (1873-1956). Ia susah payah berupaya mewujudkan impiannya: sebuah kompetisi sepak bola mondial guna menyatukan dunia yang tercerai-berai oleh perang dunia.

Menurut cucunya, Jules Rimet adalah seorang ”humanis dan idealis, yang percaya bahwa olahraga dapat menyatukan dunia”. Uniknya, sepak bola adalah olahraga yang sebelumnya kurang ia minati.

Rimet pindah ke daerah pinggiran Paris saat ia berusia sebelas tahun. Anak dari kampung Theuley-les-Lavoncourt di Perancis timur ini tak mau kalah dengan teman-teman barunya di ibu kota. Ia fokus belajar. Usahanya berbuah manis. Ia menjadi siswa teladan dan mendapatkan beasiswa untuk belajar hukum, sesuatu yang istimewa untuk anak seorang tukang sayur.

Dari obrolan di sebuah kafe di pinggiran kota Paris itu, Rimet dan saudaranya mendirikan Red Star Sporting Club pada tahun 1897. Berbeda dengan klub lain saat itu, Red Star menerima anggota dari semua kelas sosial, termasuk kelas pekerja yang sering disepelekan kelas atas.

Hingga kini, Red Star yang berkandang di Stade Bauer masih bertahan di kasta kedua Liga Perancis. Klub bersahaja yang dibangun atas dasar paguyuban inklusif ini menjadi antitesis klub sekota, Paris Saint-Germain, yang menjadi simbol komersialisasi sepak bola modern.

Pada 1904 Rimet yang juga seorang pengacara ikut serta dalam pertemuan bersejarah tujuh negara Eropa di Paris pada tahun 1904 yang menjadi cikal bakal pendirian Fédération Internationale de Football Association (FIFA).
Eropa kemudian bergejolak parah kala Perang Dunia I pecah. Perang Dunia I (1914–1918) menghancurkan Eropa. Sebanyak 20 juta orang tewas. Beruntung, meski ikut berperang sebagai tentara infanteri Angkatan Darat Perancis, Rimet selamat. Ia bahkan mendapatkan medali penghargaan Croix de Guerre atas keberaniannya.

Jules Rimet, trofi Piala Dunia ditampilkan saat pengundian kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Eropa di markas FIFA, Zurich, Swiss, Selasa (8/12/2020) dini hari WIB. Piala Dunia 2022 sendiri akan digelar di Qatar.AFP/FIFA/Kurt SCHORRER

Pengalaman traumatis di medan laga menyadarkan Rimet bahwa semestinya anak-anak muda bertarung bukan di parit-parit pertahanan, melainkan di lapangan. Mungkin saja Rimet mendengar kisah legendaris Gencatan Senjata Natal tahun 1914. Di sepanjang Front Barat, tentara Inggris dan Jerman secara spontan berhenti menembakkan peluru. Alih-alih, mereka bertukar hadiah Natal dan bermain sepak bola bersama.

Pascaperang, pada tahun 1919, Rimet terpilih menjadi presiden pertama Federasi Sepak Bola Perancis (FFF). Kemampuan diplomasi Rimet mengantarnya lebih jauh lagi. Ia dipercaya menjadi presiden ketiga FIFA dari tahun 1921 hingga 1954.

Sebelum Piala Dunia perdana digelar pada 1930, Olimpiade menjadi satu-satunya turnamen sepak bola internasional. Akan tetapi, Olimpiade mensyaratkan semua pemain harus berstatus amatir. Rimet menyadari bahwa dunia membutuhkan kejuaraan sepak bola profesional yang mampu menyatukan dunia yang terluka oleh perang.

Visi humanis Rimet ini sempat dipandang sebelah mata oleh banyak pihak di Eropa. Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia bahkan memutuskan keluar dari FIFA sejak tahun 1920. Mereka menolak bertanding dengan negara-negara bekas musuh perang mereka.

Pada Mei 1928, berkat pendekatan diplomatis nan ulet dan cantik, Rimet berhasil meyakinkan para peserta pemungutan suara FIFA untuk memberikan lampu hijau bagi penyelenggaraan kejuaraan dunia sepak bola mondial di luar Olimpiade. FIFA memilih Uruguay sebagai tuan rumah pergelaran perdana pada tahun 1930.

Saat itu zona Amerika Selatan diwakili tujuh negara: Uruguay, Argentina, Brasil, Chile, Peru, Bolivia, dan Paraguay. Zona Eropa memberangkatkan empat perwakilan: Perancis, Belgia, Romania, dan Yugoslavia. Menariknya, zona Amerika Utara dan Tengah diwakili Amerika Serikat (AS) dan Meksiko, dua negara yang bersama Kanada kini menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026.

Realitas Piala Dunia 2026

Berbeda jauh dengan cita-cita Jules Rimet untuk menjadikan sepak bola jalan perdamaian global, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 sejak awal sudah ternoda oleh aksi kurang terpuji.

Konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran berimbas ke nasib Iran sebagai salah satu kontestan. Setelah terombang-ambing oleh penolakan dari pihak AS, Iran akhirnya bisa bertanding. Hingga beberapa minggu sebelum laga pertama, timnas Iran belum juga mendapatkan visa masuk dari Pemerintah AS. Akibatnya, Iran terpaksa memindahkan markas latihan mereka dari Arizona, AS, ke Tijuana, Meksiko.

Sepuluh hari sebelum pertandingan pembuka di Grup G melawan Selandia Baru di Los Angeles, barulah AS resmi menerbitkan visa untuk para pemain, pelatih kepala, dan staf teknis utama. Akan tetapi, AS menolak visa 13 orang dalam rombongan administratif Iran. Selain itu, rombongan Iran dilarang tinggal di wilayah AS di luar hari pelaksanaan pertandingan resmi mereka.

Selain itu, wasit FIFA asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, gagal menjadi wasit Piala Dunia. Artan, wasit terbaik Afrika 2025, tidak diizinkan masuk oleh otoritas AS karena ”alasan keamanan”. Mantan pemain timnas Inggris, Ian Wright, menyuarakan kekecewaannya atas tindakan diskriminatif ini. Wright bahkan menyebut Piala Dunia ke-23 ini sebagai ”World Cup of Chaos” atau Piala Dunia Kekacauan.

Ilustrasi

Harapan perdamaian

Lepas dari sisi gelap ini, Piala Dunia 2026 menjadi terobosan baru dalam hal jumlah peserta. Sebanyak 48 negara akan bertanding dalam 12 Grup, dengan setiap grup berisi empat tim. Dua tim teratas dari setiap grup, ditambah dengan delapan tim peringkat ketiga terbaik, berhak lolos ke babak sistem gugur yang dimulai dari babak 32 besar.

Artinya, Piala Dunia 2026 membuka lebar-lebar peluang negara dari zona yang selama ini sulit mendapatkan kuota lebih untuk naik panggung ke level mondial. Tak ayal, Curacao, negara Karibia dengan penduduk sekitar 150.000 jiwa, dan Tanjung Verde, negara kepulauan di Afrika dengan populasi sekitar 600.000 jiwa, berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia. Tak usahlah membandingkan nasib mereka dengan Indonesia karena hanya akan menambah nestapa.

Yang patut ditunggu ialah adanya peluang AS bersua Iran setelah fase grup. Jika sungguh bertemu, laga ini akan menjadi pertemuan ketiga AS dan Iran. Uniknya, pada laga perdana, 21 Juni 1998 di Lyon, sebelum laga perdana dimulai, para pemain Iran memberikan bunga mawar putih kepada para pemain AS. Kedua kesebelasan pun berbaur dalam foto bersama.

Iran menjadi pemenang laga dengan skor 2-1. Akan tetapi, pemenang sejatinya ialah perdamaian. Di alam barzah, Jules Rimet pasti akan tersenyum lebar.

Kerinduan Rimet akan perdamaian melalui Piala Dunia adalah kerinduan kita juga. Slogan Piala Dunia kali ini adalah We Are 26. Slogan ini menggemakan kembali inklusivitas sepak bola mondial yang merangkul semua kalangan. Semoga!

Bobby Steven, Dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma


Kerabat Kerja

Penulis:

Bobby Steven
 | 

Editor:

Yohanes Krisnawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji