Jumlah Korban Jiwa Bencana Sumatera Melonjak Menjadi 303 Orang

Jumlah korban bencana alam di Sumatera diprediksi akan terus bertambah selama operasi SAR berlangsung, serta bisa meluas ke wilayah yang sebelumnya masih terisolasi.

30 Nov 2025 14:20 WIB · Lingkungan

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Adrian Fajriansyah

JAKARTA, KOMPAS — Jumlah korban bencana alam di Sumatera melonjak dari 196 jiwa pada Sabtu siang menjadi 303 jiwa meninggal per Minggu (30/11/2025) pagi. Jumlah itu diprediksi akan terus bertambah selama operasi pencarian dan penyelamatan atau SAR berlangsung, serta bisa memperluas jangkauan ke wilayah yang selama ini masih terisolasi.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terjadi pertambahan jumlah korban akibat bencana hidrometeorologi yang dipicu siklon tropis Senyar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sebelumnya, hingga Jumat (28/11/2025) petang, BNPB mendata jumlah korban akibat bencana itu mencapai 174 jiwa meninggal, 79 orang hilang, dan 12 luka-luka. Pada Sabtu siang menjadi 196 korban jiwa.

Pada Sabtu (29/11/2025) petang, BNPB kembali memutakhirkan data. Hasilnya, jumlah korban akibat bencana itu melonjak menjadi 303 jiwa tewas, 279 hilang, dan 18 luka-luka. Rinciannya, 47 jiwa tewas, 51 hilang, dan 8 luka-luka di Aceh; 166 jiwa tewas dan 143 hilang di Sumatera Utara, serta 90 tewas, 85 hilang, dan 10 luka-luka di Sumatera Barat.

Petugas gabungan mengevakuasi jenazah yang ditemukan di Desa Sibalanga, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Jumat (28/11/2025). Desa itu sempat terisolasi empat hari pasca banjir bandang. Korban bisa dievakuasi setelah akses jalan bisa dibuka.

Selain itu, BNPB mencatat, puluhan ribu kepala keluarga (KK) atau ratusan ribu jiwa juga mengungsi akibat dampak bencana Sumatera. Sejauh ini, jumlah pengungsi cukup besar berada di Aceh yang mencapai 48.887 KK. Para pengungsi di Aceh tersebar di sejumlah kabupaten/kota, antara lain yang tertinggi berada di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.

Kepala BNPB Suharyanto, dalam konferensi pers dari Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, mengatakan, lonjakan jumlah korban bencana Sumatera terjadi seiring meluasnya jangkauan operasi SAR. Karena itu, jumlah korban diprediksi akan terus bertambah selama operasi SAR berlangsung dan bisa memperluas jangkauan ke wilayah yang masih terisolasi.

”Penambahan jumlah korban bencana Sumatera ini berkat operasi SAR terus meluas ke wilayah-wilayah yang sebelumnya belum terjangkau. Data ini akan terus berkembang selama operasi SAR berlangsung,” ujar Suharyanto sebagaimana disiarkan kanal Youtube @bnpb_Indonesia, Sabtu petang.

Quote

Penambahan jumlah korban bencana Sumatera ini berkat operasi SAR terus meluas ke wilayah-wilayah yang sebelumnya belum terjangkau.

Banyak wilayah terisolasi

Menurut Suharyanto, perluasan jangkauan operasi SAR akan sangat menentukan perkembangan data jumlah korban bencana Sumatera. Hingga saat ini, banyak wilayah terdampak yang masih terisolasi dari akses transportasi darat ataupun jaringan telekomunikasi.

Di Aceh, banyak jalan nasional dan jembatan penghubung jalan nasional yang putus akibat rusak parah ataupun masih tertutup material pascabencana. Sejumlah akses yang belum bisa ataupun sulit ditembus, antara lain jalan Banda Aceh-Lhokseumawe dan jalur perbatasan Aceh-Sumatera Utara di wilayah Aceh Tamiang.

Hingga kini, beberapa daerah pun masih terisolasi karena akses dari dan menuju ke sana putus total, seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah.

Di Sumatera Utara, jalan nasional penghubung Sibolga-Padang Sidempuan dan penghubung Sibolga-Tarutung mengalami putus total karena tertutup longsor di banyak titik lokasi. Demikian ruas jalan Sibolga-Manduamas belum bisa dilalui akibat sejumlah jembatan penghubung putus.

Petugas mengevakuasi warga yang sakit di tengah kepungan banjir di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, untuk diberikan penanganan lebih lanjut, Sabtu (29/11/2025). Tanjung Pura dikepung banjir akibat meluapnya Sungai Batang serangan sejak Selasa dan hingga Sabtu belum surut. Sebagian warga memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Selain itu, sedikitnya ada tujuh wilayah yang terisolasi karena jalan nasional putus di Mandailing Natal. Bahkan, sejumlah desa di sana hanya bisa dijangkau menggunakan alat berat atau transportasi udara.

Sejumlah jalan kabupaten dari dan menuju wilayah terdampak di Sumatera Utara pun masih putus. Proses pemulihan ataupun perbaikan infrastruktur penghubung di beberapa wilayah belum bisa dilakukan dalam waktu dekat karena kondisi medan yang berat.

Situasi nyaris serupa terjadi di Sumatera Barat. Sejumlah jalan nasional dan jalan provinsi dari dan menuju wilayah terdampak masih putus akibat tertutup longsor. Di sisi lain, beberapa jembatan penghubung jalan nasional ataupun provinsi mengalami kerusakan.

Saat ini, BNPB bersama pihak terkait terus berupaya mempercepat proses pembukaan akses wilayah-wilayah yang masih terisolasi tersebut. Itu demi memperlancar operasi SAR dan pendistribusian bantuan untuk warga terdampak.

”Percepatan pembukaan akses menjadi prioritas utama selama masa penanganan darurat bencana di tiga provinsi tersebut. Pembukaan akses sangat penting untuk memperluas operasi SAR dan mengoptimalkan proses pendataan korban serta kerusakan ataupun pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak,” kata Suharyanto.

Warga menyisir daerah yang terdampak banjir luapan Sungai Meureudu di Desa Meunasah Lhok, Pidie Jaya, Aceh, Sabtu (29/11/2025). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat bersama Basarnas, relawan SAR, TNI, Polri, PMI, dan masyarakat Pidie Jaya masih menyisir dan mengevakuasi warga yang terjebak banjir. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/tom.

Dukungan percepatan penanganan

Suharyanto menuturkan, untuk percepatan penanganan tersebut, pemerintah pusat melalui sejumlah kementerian/lembaga terkait telah mengerahkan berbagai bantuan. Sejumlah alat berat diturunkan untuk mempercepat pembukaan akses darat yang masih tertutup material sisa banjir ataupun longsor.

Sejumlah kendaraan udara pun dikerahkan, antara lain helikopter dan pesawat perintis untuk mengirim personel SAR serta membawa bantuan ke wilayah-wilayah yang belum bisa diakses jalur darat. Sejumlah perangkat komunikasi darurat menggunakan jaringan satelit starlink juga dipasang di beberapa titik yang selama ini terisolasi dari jaringan komunikasi.

”Kami terus berusaha sekuat tenaga agar penanganan bencana terus mengalami progres setiap harinya,” ujar Suharyanto.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam lawatannya ke Aceh mengatakan, pemerintah pusat dan daerah memutuskan pendistribusian bantuan bagi warga terdampak dilakukan melalui udara untuk wilayah-wilayah yang belum bisa diakses darat. Pendistribusian itu menggunakan pesawat dan helikopter milik TNI.

Logistik bantuan itu akan dijatuhkan langsung dari udara ke titik-titik tertentu. Nanti, ada prajurit TNI yang bersiaga untuk menerima bantuan di darat sebelum didistribusikan ke warga. Metode pendistribuan langsung dari udara itu dimulai hari Minggu dan akan dilakukan berkelanjutan.

”Penyaluran bantuan tidak lagi menunggu proses panjang karena situasi di Aceh membutuhkan respons darurat dan cepat. Maka itu, seluruh bantuan kebutuhan dasar, seperti makanan, air bersih, obat-obatan, dan pakaian akan disalurkan secara masif dari udara ke seluruh wilayah terdampak. Bantuan itu akan diterima prajurit TNI sebelum disalurkan ke warga,” ujar Sjafrie.  

Warga menggunakan sampan untuk mengungsi dari tempat tinggalnya yang tergenang banjir di kawasan Cempa, Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Sabtu (29/11/2025). Kawasan Kabupaten Langkat yang dilalui Sungai Batang Serangan lumpuh oleh banjir sejak Selasa (25/11/2025) akibat meluapnya sungai tersebut. Akibat banjir ini, lalu lintas Medan menuju Aceh melalui jalur pantai Timur terputus di sejumlah titik, termasuk di Tanjung Pura, langkat.

Adapun Gubernur Aceh Muzakir Manaf meminta dukungan penuh pemerintah pusat untuk mempercepat penanganan dampak bencana di Aceh. Mereka kewalahan menangani dampak becana yang begitu besar dan luas tersebut. Situasi diperburuk karena banyak akses darat yang putus.

”Kami kewalahan dari sisi transportasi. Banyak wilayah terdampak yang terisolasi karena jalan ataupun jembatan dari dan menuju wilayah-wilayah itu putus, terutama di Aceh Timur, Aceh Utara, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara. Hingga saat ini, kami pun belum bisa menyapa orang-orang yang terdampak di sana. Warga di sana kemungkinan sudah mulai kelaparan karena sudah berhari-hari terisolasi,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto