Jumpa Verona, Persimpangan Nasib Juventus

Kemenangan wajib diraih Juventus atas Verona. Tiga poin bakal membuka kembali kans ”scudetto” dan memugar cinta dari ”tifosi”.

02 Mar 2025 16:04 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

TURIN, MINGGU — Duel menghadapi Hellas Verona, Selasa (4/3/2025) pukul 02.45 WIB, di Stadion Allianz Arena, menentukan perjalanan Juventus di sisa musim 2024-2025. Jika menang, ”Si Nyonya Besar” bakal memangkas selisih poin dalam persaingan papan atas. Tetapi, hasil buruk akan menyebabkan tifosi makin membenci tim asuhan Thiago Motta itu.

Juve akan menjalani pertandingan pamungkas pekan ke-27 Liga Italia. Kenan Yildiz dan kawan-kawan mempersiapkan diri menghadapi Verona dengan mengetahui tiga tim di atas mereka, yaitu Inter Milan, Napoli, dan Atalanta, gagal meraih kemenangan, Sabtu (1/3/2025) kemarin.

Inter dan Napoli bermain sama kuat, 1-1, di Stadion Diego Armando Maradona. Adapun Atalanta ditahan tim tamu, Venezia, tanpa gol.

Tak ayal, Juve memiliki peluang untuk mengurangi selisih poin dengan Inter menjadi enam poin. Situasi itu tentu bakal memugar kembali kans Si Nyonya Besar untuk mengejar scudetto yang sudah pergi dari Turin sejak 2020.

Dalam persaingan papan atas, Juve hanya menyisakan duel menghadapi Atalanta, 9 Maret mendatang. Andai bisa mengalahkan Verona, maka gim kontra ”Si Dewi”, julukan Atalanta, bisa menjadi kesempatan Juve untuk menembus zona tiga besar untuk pertama kali di paruh kedua musim ini.

Juventus players react after losing a penalty shootout in an Italian Cup quarterfinal soccer match between Juventus and Empoli at the Allianz Stadium in Turin, Italy, Wednesday, Feb. 26, 2025 (Marco Alpozzi/LaPresse via AP)

Motta tidak ingin membahas posisi anak asuhannya, bahkan peluang timnya meraih scudetto. Alih-alih membahas posisi klasemen akhir, Motta ingin skuad Juve fokus menghadapi laga-laga tersisa musim ini.

”Kami fokus untuk mengejar kemenangan laga demi laga. Kami tidak ingin terlalu memikirkan apa yang bisa kami capai di akhir musim nanti,” tutur Motta dilansir Tuttosport, Minggu (2/3/2025).

Meskipun Juve tengah dalam tren performa positif di Liga Italia dengan koleksi empat kemenangan beruntun, Motta mewanti-wanti anak asuhannya untuk tidak kehilangan fokus di gim-gim selanjutnya. Menurut dia, pemain Juve kerap gagal menjaga konsistensi penampilan selama 90 menit.

Hal itu terlihat ketika Juve gugur di playoff Liga Champions dari PSV Eindhoven. Kemudian, Juve juga sudah tersisih dari Coppa Italia akibat kalah adu penalti dari tim semenjana, Empoli.

”Penampilan memalukan itu sering terjadi. Kami kurang memiliki sikap sebagai sebuah tim yang sebenarnya. Para pemain kurang memberikan segalanya,” ucap Motta yang musim lalu menangani Bologna.

Juventus head coach Thiago Motta directs his team during the Champions League opening phase soccer match between S.L. Benfica and Juventus FC at Juventus stadium in Turin, Italy, Wednesday, Jan. 29, 2025. (Fabio Ferrari/LaPresse via AP)

Motta menambahkan, ”Tetapi, sebelum mengkritik pemain, saya juga harus introspeksi diri. Situasi yang dialami klub karena saya gagal menyadarkan mereka mengenai pentingnya bermain di level pertandingan tinggi”.

Fabio Capello, Pelatih Juve periode 2004-2006, mengungkapkan, kelemahan utama Juve di bawah kendali Motta adalah lemahnya keseimbangan. Menurut dia, Juve juga bermain terlalu pasif bagi tim yang memiliki atensi untuk menerapkan pola penguasaan bola dominan.

”Juve harus berani mengambil risiko dan lebih sulit diprediksi. Koleksi 13 seri di liga adalah bukti bahwa gaya mereka terlalu mudah diterka lawan,” tutur Capello kepada La Gazzetta dello Sport.

Kehilangan dukungan

Laga menghadapi Verona pun bakal menjadi momen tifosi Juve meluapkan kekecewaan terhadap penampilan pemain dan kepemimpinan Motta di musim ini. Juve sudah gugur di Liga Champions dan Coppa Italia, sehingga harapan meraih trofi hanya tersisa di Liga Italia.

Merujuk performa saat ini, Si Nyonya Besar amat sulit—bahkan mustahil—untuk mengimbangi Inter dan Napoli yang mampu tampil lebih konsisten. Bahkan, manajemen Juve hanya menargetkan skuad musim ini menutup Liga Italia dengan duduk di zona empat besar demi tampil di Liga Champions 2025-2026.

Juventus' French forward #20 Randal Kolo Muani (C) fights for the ball with PSV Eindhoven's Argentine goalkeeper #01 Walter Benitez and PSV Eindhoven's Dutch defender #06 Ryan Flamingo and PSV Eindhoven's Croatian forward #05 Ivan Perisic during the UEFA Champions League knockout phase play-off 1st leg football match between Juventus and PSV Eindhoven at the Allianz stadium in Turin, on February 11, 2025. (Photo by Marco BERTORELLO / AFP)

Performa itu melatarbelakangi sejumlah pendukung Juve untuk melakukan siulan dan sorakan kepada tim ketika menghadapi Verona. Sorakan, utamanya, bakal terdengar saat pemain Si Nyonya Besar menguasai bola.

”Kelompok pendukung Juventus lelah dan sedih dengan perkembangan proyek tim saat ini. Ini saatnya kami mengekspresikan kekecewaan selama pertandingan dengan siulan dan sorakan,” tulis pernyataan resmi sejumlah pendukung Juve yang dirilis TuttoJuve.

”Reaksi seperti itu selalu kami hindari, tetapi sikap kalian dengan jersei bersejarah Juvenus sudah tidak bisa lagi ditolerir. Sudah cukup. Kami luapkan kekecewaan demi meletupkan sesuatu di dalam diri kalian; pemain, pelatih, dan manajemen; untuk menghindari musim terburuk dalam 14 tahun,” lanjut pernyataan itu.

Demi hasil positif di lapangan, Capello menekankan pentingnya peran Motta. Kata Capello, Motta harus bisa memastikan motivasi skuadnya tetap dalam kondisi tertinggi setelah kekecewaan yang terjadi selama bulan Februari.

Italy Soccer Serie A

”Laga besar tidak memerlukan motivasi ekstra. Tantangan sesungguhnya tersaji di pertandingan yang terlihat mudah, di mana ada risiko pemain meremehkan lawan. Untuk itu, kepemimpinan pelatih sangat penting,” kata Capello yang meraih 15 trofi sebagai pelatih, termasuk dua scudetto Juve yang dianulir akibat skandal calciopoli.

Sementara itu, Verona datang ke Turin dengan semangat tinggi seusai kembali ke jalur kemenangan pada gim kontra Fiorentina, pekan lalu. Sebelumnya, Verona menelan kekalahan dari Atalanta dan AC Milan.

”Kami harus tampil sebagai tim dan bermain dengan mentalitas yang tepat demi membawa pulang poin,” tutur Pelatih Verona Paolo Zanetti dilansir La Gazzetta dello Sport tentang kans timnya menghadapi Juve.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase