Korban PHK merayakan momen menjelang Lebaran dalam kondisi serba sulit. Jangankan membeli baju baru, makan esok hari pun jadi hal yang tak pasti.
11 Mar 2025 06:00 WIB · Investigasi
Oleh Pandu Wiyoga, R Albertus Krisna Pratama P., Margaretha Puteri Rosalina, Maria Paschalia Judith Justiari
Dipecat dari pekerjaan membuat hidup jadi redup. Ada keluarga yang kehilangan rumah idaman, bahkan ada pula rumah tangga yang kandas karena tekanan ekonomi kian mencekik. Momen menjelang Lebaran terpaksa dijalani dengan ikat pinggang yang amat ketat.
Di tembok rumah milik Iyus (40), di Kota Bogor, Jawa Barat, kertas dinding mengelupas di mana-mana. Perabotan tinggal kursi tamu. Rumput liar pun mulai memberontak di taman yang sebelumnya tertata rapi.
Rumah dua lantai itu baru saja laku. Adapun mobil yang tadinya disimpan di garasi sudah lebih dulu dijual. Itu semua terpaksa dilakukan ayah dua anak itu untuk bertahan setelah kena pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Mei 2024.
”Mau gimana lagi? Tak peduli kita kena PHK, kehidupan terus berjalan,” kata Iyus di rumahnya, Senin (17/2/2025).
Pekerjaan terakhir Iyus adalah information technology project manager di sebuah perusahaan rintisan di bidang lokapasar. Selama lima tahun bekerja di situ ia mendapatkan gaji dua digit per bulan.
Selain itu, Iyus juga punya sumber pendapatan lain dari kerja sampingan yang juga berkutat di teknologi informasi (TI) dengan penghasilan belasan juta rupiah. Istri Iyus juga punya usaha kue rumahan dengan keuntungan sekitar Rp 5 juta per bulan.
Dengan total pemasukan mencapai puluhan juta per bulan, Iyus merasa mampu membeli rumah kedua dengan cicilan Rp 17 juta per bulan. Di sisi lain, ia juga ada tanggungan cicilan rumah pertama Rp 12 juta per bulan dan mobil Rp 5 juta per bulan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/02/03c0a53a59193b1765af1589aa0e81ca-DSC08439.jpg)
Tak dinyana, kabar buruk datang pada Mei 2024. Perusahaan tempat Iyus bekerja mengubah model bisnis, dari sebelumnya berdagang secara daring kini berubah total menjadi toko konvensional. Akibatnya 90 persen dari personel TI dipangkas, termasuk Iyus.
”Enggak ada (orang) yang pernah siap kena PHK. Tahap pertama setelah kena PHK harus berpikir gimana kita bisa survive dalam segi finansial dan kehidupan,” ujar Iyus.
Langkah pertama yang diambil Iyus adalah menentukan prioritas. Yang ada di kepalanya, dapur harus ngebul dan anak-anak harus tetap sekolah.
”Pendidikan anak harus saya utamakan. Itu bekal mereka untuk masa depan. Sejelek apa pun kondisi ekonomi orangtuanya, anak-anak harus dapat pendidikan yang layak,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/02/9366d7a36d90b93c49900eda1d9ed558-DSC08472.jpg)
Pengalaman kehilangan pekerjaan membuat Indah (42) merasakan titik terendah kesehatan mental dalam hidupnya. Ada perasaan terbuang dan tidak berharga. Selain itu, perasaan khawatir juga membayang karena dia masih harus mengurus orangtuanya.
”Kalau ada suatu hal yang bikin ketrigger (teringat) soal kantor tuh..,” kalimat Indah terputus. ”Aduh, kan, jadi nangis lagi,” ujarnya sambil mengelap air mata, Rabu (12/2/2025).
Indah kini menekuni usaha jasa boga di rumah. Dalam satu bulan, ia bisa mengantongi keuntungan Rp 3 juta. Jumlah itu memang masih jauh daripada gaji ketika masih bekerja di perusahaan lama sebagai business development representative di sebuah perusahaan rintisan.
Berbagai macam penyesuaian harus dilakukan untuk mengikuti penurunan pendapatan itu. Indah amat mengurangi kegiatan ngopi di kafe atau makan di pusat perbelanjaan.
Begitu juga anggaran untuk jalan-jalan juga mesti dipangkas. Padahal, dia sebenarnya amat suka bepergian. Waktu masih kerja kantoran, hampir setiap tahun dia jalan-jalan ke luar negeri.
”Karena keadaan, sekarang aku jadi lebih sederhana. Pernah iseng naik kereta ke Bogor. Aku cuma duduk-duduk di stasiun. Gitu udah cukup. Yang penting bisa ngerasa lepas aja,” ucap Indah.
Berbagai macam penyesuaian harus dilakukan untuk mengikuti penurunan pendapatan itu.
Seusai kena PHK, Indah harus memberanikan diri untuk berutang kepada keluarga dan tetangga demi mencari modal ketika ada pesanan untuk usaha jasa boganya. Padahal, dulu saat masih kerja kantoran, ia sama sekali tak pernah berutang.
”Pernah waktu Whatsapp teman pas mau utang dikira ada orang yang pakai nomor aku untuk nipu karena aku memang enggak pernah utang sama sekali. Dulu, tuh, justru aku yang sering ngasih pinjaman ke orang lain,” ujarnya.
Ibu satu anak, Alia (36), tengah menjalani proses bercerai. Menurut dia, pertikaian dengan suami yang semakin runcing kala kondisi ekonomi kian mencekik menjadi penyebab utama dia akhirnya memutuskan untuk berpisah.
”Dia (suami) udah enggak bantuin, malah ngejudge aku bermalas-malasan. Aku enggak bermaksud untuk jadi kaya gini. Dan, aku juga enggak mau jadi kaya gini. Aku tuh belum pernah nganggur selama ini seumur hidup aku,” tuturnya, Kamis (13/2/2025).
Alia tinggal di rumah kontrakan bersama anak semata wayangnya di Jakarta Selatan. Kini, anak perempuan dia yang sebelumnya duduk di bangku pendidikan anak usia dini (PAUD) terpaksa berhenti sementara.
”Itu terpaksa (berhenti sekolah) karena biayanya mahal, hampir Rp 4 juta per bulan. Untungnya dia masih kecil. Nanti kalau sudah usia taman kanak-kanak harus sekolah lagi,” ujar Alia.
Pertikaian dengan suami yang semakin runcing kala kondisi ekonomi kian mencekik menjadi penyebab utama dia akhirnya memutuskan untuk berpisah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/02/d486e25737bb853c524f02d10772e1ef-DSC08407.jpg)
Sebelumnya, Alia bekerja sebagai business development manager di sebuah perusahaan marketing technology. Saat itu gajinya mencapai belasan juta rupiah per bulan. Namun, baru empat bulan bekerja di situ ia sudah kena PHK pada Oktober 2024.
Sembari mencari pekerjaan baru, Alia membuka jasa sebagai empathic listener untuk membantu orang yang butuh didengarkan dan konsultan animal behaviour untuk membantu para pemilik hewan lebih memahami peliharaan mereka. Selain itu, ia juga menekuni pekerjaan lepas sebagai kontributor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), orang yang melatih AI agar menjadi lebih kreatif.
”Dibandingkan waktu masih punya kerja tetap sih pendapatan masih jauh banget. Sekarang cuma antara Rp 3 juta sampai Rp 5 juta. Pas-pasan banget, kayak yang penting bisa hidup, cukup makan dan minum,” ujarnya.
Kini, ada keraguan yang tebersit setiap kali Alia melamar pekerjaan tetap. Ia sering melihat korban PHK lain mendapat pekerjaan lalu sebentar kemudian kena PHK lagi.
”Aku ngerasa takut ngelangkah maju. Dalam hati, tuh, kayak ada perasaan sanggup enggak ya aku kalau kena PHK lagi,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/10/28/dde9afc7-26bb-41cc-ad58-1c5a593af64a_jpg.jpg)
Saat bulan Ramadhan semakin dekat, karut-marut hidup akibat PHK terasa semakin dalam. Perubahan gaya hidup yang terpaksa berhemat karena kondisi ekonomi harus tetap diterapkan walaupun dalam suasana menyambut hari raya.
”Dulu tuh kalau pulang kampung pas Lebaran aku sama suami dan anak selalu nginap di hotel. Kalau sekarang enggak mungkin, jadi harus di tempat orangtua, dan yang pasti sekarang udah enggak sama suami,” ujar Alia.
Adapun Iyus sudah menyadari bakal menyambut Ramadhan dalam suasana yang serba menghemat dan sederhana. Jika dulu ia sekeluarga bisa mudik dengan mobil, kini mereka harus mengandalkan transportasi umum. Namun, ia bersyukur karena anak-anaknya telah memahami kondisi dan tak memaksa harus beli baju baru dan barang baru saat Lebaran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/30/1402aa5a-79d8-45ab-9034-b7ff334fca3a_jpeg.jpg)
Hal serupa juga dilakukan Indah. Tak ada lagi momen buka bersama di luar karena yang sekarang jadi pertimbangan utama adalah menghemat pengeluaran. Kumpul dengan keluarga ataupun teman sebisa mungkin dilakukan di rumah untuk menghemat biaya.
”Kalau dulu, kita sekeluarga selalu ngusahain beli baju seragaman setiap Lebaran. Sekarang paling yang bisa seragam cuma tema warnanya aja,” kata Indah.
Tidak hanya tahun ini, masyarakat juga sudah terlihat mengetatkan ikat pinggang lima tahun terakhir. Indikasinya terlihat dari hasil analisis tim Jurnalisme Data Kompas menggunakan data produk domestik bruto (PDB) tahun 2021-2024. Momen Lebaran selama empat tahun tersebut masuk dalam triwulan II.
Konsumsi rumah tangga tumbuh melambat selama 2021-2024. Tahun 2021 triwulan II, tumbuh 5,96 persen per tahun dari tahun sebelumnya pada periode yang sama. Tahun 2022, konsumsi warga selama Lebaran kembali lambat menjadi 5,52 persen, hingga tahun 2024, anjlok menjadi 4,93 persen.
Untuk mengikuti liputan tema ini selengkapnya, kami mengajak Anda bergabung dalam grup Whatsapp Pembaca Kompas ”Investigasi & Jurnalisme Data” dengan mengeklik tautan link ini. ( https://chat.whatsapp.com/EE3U5FBOtKaJ4RjX5rSPAO)
Kami juga ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei lewat berikut ini
Penulis:
Pandu Wiyoga, R Albertus Krisna Pratama P., Margaretha Puteri Rosalina, Maria Paschalia Judith JustiariEditor:
Andy Riza Hidayat, Margaretha Puteri RosalinaPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto