Junta Myanmar Minta Dukungan Internasional, Diduga Kerusakan Sangat Parah

Selain di luar kebiasaan, permintaan tolong itu mengindikasikan dampak gempa sangat parah dan Myanmar butuh bantuan dalam skala besar.

28 Mar 2025 19:58 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

YANGON, JUMAT — Junta militer Myanmar mengumumkan keadaan darurat di enam daerah di Myanmar setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang, Jumat (28/3/2025). Keenam daerah itu adalah Sagaing, Mandalay, Magway, Negara Bagian Shan di timur laut, Naypyidaw, dan Bago. Junta militer juga—di luar kebiasaan—meminta komunitas internasional untuk memberikan bantuan kemanusiaan.

Eropa dan Perancis sudah menyatakan kesediaannya untuk mengirimkan bantuan. Perdana Menteri India, Narendra Modi juga telah menyatakan kesiapannya untuk membantu.

”Kami ingin masyarakat internasional memberikan bantuan kemanusiaan sesegera mungkin,” kata juru bicara junta militer Myanmar, Zaw Min Tun, saat berada di rumah sakit di Naypyidaw.

Sementara itu, Koordinator Fungsi Penerangan Kedutaan Besar RI untuk Yangon, Harlianto, mengatakan, hingga saat ini 237 WNI yang berada di Myanmar dalam kondisi baik dan aman. Begitu pula dengan Kantor KBRI dalam kondisi aman.

”Kementerian Luar Negeri saat ini sedang mengoordinasikan dengan kementerian atau lembaga terkait di Jakarta terkait dengan bantuan yang akan diberikan Indonesia ke Myanmar,” kata Harlianto.

Sementara itu, sejauh ini belum ada kepastian jumlah korban di Myanmar. Terakhir dikabarkan ada tiga orang yang tewas di kota Taungoo ketika sebagian bangunan sebuah masjid runtuh. Sementara menurut media lokal, setidaknya ada dua orang yang tewas dan 20 orang terluka setelah sebuah hotel runtuh di Aung Ban.

Namun, dengan adanya permintaan bantuan dari junta militer, diduga kondisi Myanmar parah dan Myanmar butuh bantuan dalam skala besar. Apalagi mengingat junta militer Myanmar jarang meminta tolong. Zaw Min Tun juga mengatakan, donor darah diperlukan untuk pasien di Mandalay, Naypyidaw, dan Sagaing.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, Uni Eropa yang terdiri dari 27 negara itu siap membantu Myanmar dan Thailand. ”Pemandangan yang memilukan dari Myanmar dan Thailand setelah gempa bumi yang dahsyat itu. Doa saya bersama para korban dan keluarga mereka. Satelit Copernicus Eropa sudah membantu tim pertolongan pertama,” tulis Von der Leyen di X.

Seperti halnya UE, Perancis juga siap memberikan dukungan segera setelah kebutuhan diungkapkan. ”Kami juga sudah mengevakuasi warga kami di Bangkok untuk berjaga-jaga dari segala bentuk risiko,” kata Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Noel Barrot.

TOPSHOT - Medical workers and people walk past boxes of medical material placed in the compound of a hospital in Naypyidaw on March 28, 2025, after an earthquake in central Myanmar. A powerful earthquake rocked central Myanmar on March 28, buckling roads in capital Naypyidaw, damaging buildings and forcing people to flee into the streets in neighbouring Thailand. (Photo by Sai Aung MAIN / AFP)

Pemimpin junta militer Myanmar Min Aung Hlaing terlihat mendatangi rumah sakit di Naypyidaw tempat korban luka akibat gempa dirawat. Banyak korban luka yang tergeletak di luar unit gawat darurat rumah sakit yang berkapasitas 1.000 tempat tidur itu. Rumah sakit itu juga diguncang gempa dan UGD-nya dalam kondisi rusak parah. Lalu lintas menuju rumah sakit pun macet parah.

Cerita warga

Hnin, warga Yangon yang dihubungi Kompas melalui Whatsapp, menceritakan gempa berlangsung selama 3 menit. Mayoritas warga kota yang merupakan pekerja kantoran sudah tahu cara merespons dan keluar dari gedung.

Segera setelah gempa, orang-orang mulai mencari informasi di media sosial Facebook yang merupakan saluran berita paling populer di Myanmar. ”Dari situ baru diketahui bahwa Mandalay dan Sagaing adalah pusat gempa. Jadi, mereka mulai menghubungi teman dan kerabat di dua kota itu,” ujarnya.

Sayangnya, kata Hnin, komunikasi telepon tidak dapat dilakukan sekitar setengah jam setelah gempa. Setelah setengah jam, beberapa kerabat dapat dihubungi melalui internet. Banyak orang terluka dan tewas, tetapi jumlah resminya belum diumumkan.

”Universitas Mandalay juga runtuh dan ditutup. Belum ada penyelamatan apa-apa. Orang-orang mengatakan, sampai sekarang mereka belum dapat menghubungi orang-orang di Sagaing,” kata Hnin.

Bangunan runtuh

Menurut Survei Geologi Amerika Serikat, episentrum gempa dangkal dan hanya berjarak sekitar 250 kilometer dari Naypyidaw dan 17,2 kilometer dari kota Mandalay, Myanmar. Gempa susulan berkekuatan magnitudo 6,4 terjadi beberapa menit kemudian.

Mandalay adalah ibu kota kerajaan kuno Myanmar dan berada di pusat jantung agama Buddha di Myanmar. Berbagai unggahan di media sosial menunjukkan bangunan yang runtuh dan puing-puing berserakan di jalan-jalan di Mandalay.

TOPSHOT - Damage is seen to part of the emergency department of a hospital in Naypyidaw on March 28, 2025, after an earthquake in central Myanmar. A powerful earthquake hit Myanmar and neighbouring Thailand on March 28, turning a major hospital in the Myanmar capital into a "mass casualty area" and trapping dozens of workers in an under-construction skyscraper in Bangkok. (Photo by Sebastien BERGER / AFP)

Media lokal melaporkan, sebuah hotel di Aung Ban, di Negara Bagian Shan, hancur menjadi puing-puing. Media Democratic Voice of Burma melaporkan dua orang tewas dan 20 orang terjebak. Video dan foto yang diunggah oleh Myanmar Now menunjukkan atap pasar besar di Naypyitaw retak. Ada juga foto yang menunjukkan sebuah menara jam runtuh dan sebagian tembok di dekat Istana Mandalay hancur.

Media Global New Light of Myanmar di situsnya juga melaporkan ada dua jembatan yang runtuh akibat gempa. Selain itu, ada ruas jalan tol yang juga rusak.

Koordinator Program untuk Federasi Internasional Palang Merah Marie Manrique mengatakan, pihaknya khawatir dengan kondisi bendungan besar milik pemerintah. Ia juga menyebutkan jembatan yang menghubungkan Mandalay dan Sagaing runtuh. Ini akan menghambat distribusi bantuan. ”Di Sagaing, jumlah pengungsi internal paling banyak di Myanmar,” ujarnya. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H