BerandaHumanioraJurnalisme Berkualitas un...

Jurnalisme Berkualitas untuk Model Media Digital Berlangganan

Jurnalisme berkualitas merupakan hal mendasar untuk meraih pelanggan media digital.

15 Nov 2024 20:04 WIB · Humaniora

Oleh DEWI INDRIASTUTI

Kantor Korea Press Foundation (KPF) di Seoul, Korea Selatan. KPF menyelenggarakan KPF Journalism Conference 2024 yang membahas sejumlah isu terkait jurnalisme, media, teknologi, dan kecerdasan buatan pada 13-15 November 2024.

SEOUL, JUMAT — Relasi secara langsung dengan pembaca merupakan poin penting dari setiap langkah dan perubahan yang dilakukan media. Situasi ini beriringan dengan hal mendasar yang disajikan kepada pembaca, yakni jurnalisme berkualitas.

Hal itu menjadi pertimbangan utama Financial Times saat menghadapi situasi yang menuntut langkah cepat, yakni penurunan pendapatan secara terus-menerus beberapa waktu lalu. Meski demikian, langkah tersebut juga menghadapi tantangan, yakni kebiasaan audiens dan koneksi dengan audiens.

”Poin mendasar kami adalah jurnalisme berkualitas. Maka, kami memilih model subscription atau berlangganan untuk media digital kami,” kata CEO The Financial Times Group John Ridding pada sesi ”News Media: Dealing with the Next Wave of Disruption” di acara Korea Press Foundation (KPF) Journalisme Conference 2024 di Seoul, Korea Selatan, Jumat (15/11/2024).

Financial Times adalah media cetak berbasis di Inggris. Mengutip lamannya, Financial Times belum memiliki pelanggan digital pada 2009. Pada 2019, model berlangganan media digitalnya memiliki lebih dari 1 juta pelanggan berbayar dan menjadi sumber pendapatan baru.

Quote

Poin mendasar kami adalah jurnalisme berkualitas. Maka, kami memilih model subscription atau berlangganan untuk media digital kami.

Mengutip The Telegraph, Financial Times membukukan pendapatan global 510 juta pound sterling pada 2023 atau tumbuh dari tahun sebelumnya yang sebesar 458 juta pound sterling. Adapun laba secara global sebesar 29,9 juta pound sterling.

CEO Financial Times Group John Ridding di acara Korea Press Foundation Journalisme Conference di Seoul, Korea Selatan, Jumat (15/11/2024).

Menurut Ridding, jika model berlangganan yang dimiliki sebuah media cukup kuat, pendapatan dari pembaca juga akan tumbuh dengan baik. Sejauh ini, Financial Times menilai pendapatan dari pelanggan cukup kuat di antara sumber pendapatan lain.

Ridding menyebutkan, masyarakat kurang tertarik dengan berita. Sebaliknya, masyarakat lebih tertarik dengan permainan digital dan mengakses informasi terbaru dari media sosial. Situasi ini disiasati Financial Times dengan menumbuhkan informasi dalam bentuk multimedia, bukan sekadar teks. Pembaca pun bertumbuh.

”Saat kami memulai media digital berbayar, kami mendapat protes dari pembaca. Kami jawab bahwa kami berubah dengan tetap menjaga kualitas,” ujar Ridding.

Dalam paparannya, Ridding mengatakan, media yang berubah untuk memenangi disrupsi mesti memiliki tujuan utama. Sejumlah hal mesti dijadikan pegangan dalam proses perubahan tersebut, di antaranya nilai jurnalisme yang diusung, mengutamakan pembaca sehingga meraih pendapatan dari pembaca, menempatkan reporter dan editor berpengalaman dan berintegritas sebagai aset, serta merangkul perubahan dan teknologi.

Menjawab pertanyaan moderator, Changhee Park, CEO the JoongAng Ilbo, perihal resep menghadapi situasi terkini, Ridding menjawab, Financial Times tidak memiliki rencana tunggal. ”Kami punya beberapa rencana yang bisa kami laksanakan, antara lain pendapatan dari pelanggan, diferensiasi pendapatan, serta kualitas dan kapabilitas redaksi,” ujarnya.

Vivian Schiller, Executive Director Aspen Institute (kedua dari kanan) dan Namgung Changsung, Newsroom Director the Kangwon Domin Ilbo (paling kiri), dalam diskusi bertema ”Revenue Diversification and Journalism Expansion Strategies-News Paywall and New Formats” di Seoul, Korea Selatan, Jumat (15/11/2024). Acara itu merupakan rangkaian Korea Press Foundation Journalism Conference 2024.

Dalam sesi diskusi bertema ”Revenue Diversification and Journalism Expansion Strategies-News Paywall and New Formats”, Executive Director Aspen Institute Vivian Schiller mengatakan, tantangan yang kerap sekali dibicarakan media adalah pendapatan yang anjlok, disrupsi digital, serta misinformasi dan disinformasi. Hal lain yang juga kerap dibahas adalah tekanan otoritas, fragmentasi media, dan pengabaian berita.

Baca juga: Media Berhadapan dengan Tantangan Teknologi dan Disinformasi

Perihal pendapatan yang anjlok, Vivian menekankan agar model pendapatan baru mesti diupayakan dengan berbagai cara. Termasuk, menentukan strategi yang ditempuh.

”Kepemimpinan sangat penting dalam menghadapi situasi semacam ini. Pesan harus datang dari pemimpin. Visi dan strategi mesti jelas. Semua orang di organisasi juga harus tahu dengan pasti dan jelas perihal tujuan strategi itu,” katanya.

Quote

Mengenai strategi yang ditempuh untuk menghadapi pendapatan yang anjlok, Vivian menyarankan, antara lain, fokus pada dampak yang ditimbulkan artikel atau berita dan fokus pada komunitas.

Namgung Changsung, Newsroom Director The Kangwon Domin Ilbo, dalam diskusi menyebutkan, The Kangwon Domin Ilbo punya 1,5 juta pembaca. Pihaknya juga bekerja sama dengan komunitas lokal untuk menjaring informasi serta menyebarkan berita.

Perihal pendapatan, Changsung meyakini berkaitan dengan jurnalisme. ”Jika jurnalisme terjaga baik, pendapatan akan mengikuti. Pendapatan bukanlah isu tentang bisnis semata, tapi isu tentang jurnalisme,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

DEWI INDRIASTUTI
 | 

Editor:

ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN