Jurus Kungfu Robot Humanoid China dan Ambisi Teknologi

Sepanjang 2025, industri robot humanoid China berkembang pesat, dari skala laboratorium menjadi industri besar. Elon Musk pun dibuat terpana.

03 Jan 2026 11:00 WIB · Internasional

KOMPAS/SEKAR GANDHAWANGI

Oleh Irene Sarwindaningrum

Dalam pidato akhir tahun di Beijing, Presiden China Xi Jinping menyebut robot humanoid sebagai salah satu capaian teknologi yang menandai lompatan inovasi China.

”Robot humanoid melakukan tendangan kungfu dan drone menampilkan pertunjukan cahaya yang spektakuler,” katanya, Rabu (31/12/2025).

Dalam pidatonya, Xi menempatkan robot humanoid sejajar dengan proyek-proyek strategis China. Mulai dari terobosan kecerdasan buatan (AI) dan cip domestik, misi antariksa Tianwen-2, hingga pengoperasian kapal induk pertama dengan sistem katapel elektromagnetik.

”Semua ini telah menjadikan China sebagai salah satu perekonomian dengan kemampuan inovasi yang tumbuh paling cepat,” kata Xi.

Pernyataan ini bukan simbolik saja. Beberapa hari sebelumnya, sorotan global datang dari panggung konser pop. Robot-robot humanoid buatan Unitree Robotics tampil bersama penyanyi Mandarin, Wang Leehom.

Enam robot humanoid menari seenergik bintang K-pop dan melakukan salto depan secara sinkron. Tarian mereka cepat, mulus, dan mengikuti irama tanpa cela. Elon Musk pun terpana. ”Impressive,” komentarnya di X sambil membagikan potongan video itu.

Musk juga punya ambisi membuat robot humanoid bernama Optimus, yang ia yakini akan menjadi masa depan Tesla. Akan tetapi, ambisi lelaki dengan 14 anak ini belum terwujud.

Robot bernama Wukong ditampilkan di perusahaan teknologi UBTech Robotics di Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, China pada Rabu (10/9/2025). UBTech Robotics yang didirikan pada 2012 fokus pada inovasi dan pengembangan teknologi robot, termasuk robot humanoid yang antara lain dapat berlari setengah maraton dan mengangkut barang di pabrik. Adapun Shenzhen menjadi rumah bagi berbagai perusahaan teknologi besar, seperti UBTech, Tencent, dan Huawei, sehingga disebut "Silicon Valley" China.

Robot humanoid dikembangkan dengan menanamkan AI ke robot sehingga menjadi AI yang punya tubuh (embodied intelligence). Berbeda dengan lengan robot di pabrik, robot humanoid punya kemampuan persepsi dan pengambilan keputusan serta dapat berinteraksi otonom.

Sepanjang 2025, industri robot humanoid China berkembang pesat, dari skala laboratorium menjadi industri besar. Robot-robot berbentuk manusia atau hewan itu kerap muncul di ruang publik. Mereka menari di Gala Festival Musim Semi, bekerja di pabrik, ikut lari maraton, hingga bertanding di ring tinju robot.

Pada beberapa kesempatan, pengembang bahkan merasa perlu menggelar demonstrasi terbuka untuk membuktikan bahwa sosok yang tampil bukan manusia berkostum robot.

Quote

Semua ini telah menjadikan China sebagai salah satu perekonomian dengan kemampuan inovasi yang tumbuh paling cepat.

Dikutip dari media berbasis di Hong Kong, South China Morning Post, data Morgan Stanley 2025 menunjukkan, China telah membukukan 7.705 paten robot humanoid dalam lima tahun terakhir.

Jumlah ini sekitar lima kali lebih banyak dibandingkan Amerika Serikat. Pada saat yang sama, China menyumbang 54 persen dari total instalasi robot industri global.

Analis CCID Consulting di bawah Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China, Hao Lulu, menilai fondasi teknologi China di sektor embodied intelligence sudah matang.

”Embodied intelligence mengintegrasikan berbagai teknologi terdepan. China telah memasuki jajaran teratas dunia dalam subbidang seperti visi komputer dan pemrosesan bahasa alami,” ujarnya.

150 perusahaan

Akhir November 2025, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China menyatakan, China memiliki lebih dari 150 perusahaan robot humanoid. Industri ini tumbuh lebih dari 50 persen per tahun, dengan skala pasar diproyeksikan mencapai 100 miliar yuan (Rp 235 triliun) pada 2030.

Perubahan paling nyata terlihat di sektor industri. Perusahaan-perusahaan seperti UBTech di Shenzhen, Kepler di Shanghai, dan Siasun di Shenyang mulai menempatkan robot humanoid untuk tugas fisik seperti penanganan material, pengangkutan, dan penyortiran.

UBTech, salah satu produsen terdepan di China, telah menempatkan robot humanoid seri Walker di lini perakitan sejumlah produsen kendaraan energi baru, termasuk NIO dan Zeekr. Robot-robot ini bekerja berdampingan dengan manusia untuk perakitan dan inspeksi kualitas. Mirip adegan futuristik di film sains ilmiah seperti Star Wars.

Robot humanoid berada di ruang pamer Leju Robotics, perusahaan pembuat robot di Shenzhen, Guangdong, China, Jumat (28/11/2025). China membangkitkan industri robot melalui regulasi dan dukungan finansial.

Chief Brand Officer UBTech Robotics Tan Min mengatakan, produktivitas robot humanoid masih di bawah manusia, tetapi meningkat cepat. ”Produktivitas rata-rata robot humanoid saat ini berada di kisaran 30 hingga 40 persen dari pekerja manusia, dan diperkirakan akan meningkat hingga sekitar 80 persen pada awal 2027,” katanya.

Pada November 2025, UBTech memulai produksi massal Walker S2, robot humanoid industri setinggi 1,76 meter. Walker S2 mampu mengganti baterainya sendiri secara otonom. Dalam bulan yang sama, ratusan unit pertama dikirimkan, dengan target pengiriman sekitar 500 unit sepanjang tahun.

Menurut Tan Min, sejak awal tahun 2025, pesanan kumulatif untuk seri Walker telah melampaui 800 juta yuan (Rp 1,9 triliun). ”Seiring meningkatnya permintaan pasar, kami berencana meningkatkan kapasitas produksi hingga 10.000 robot humanoid industri per tahun,” ujarnya.

Jaga perbatasan

Tak hanya menari di panggung atau bekerja di pabrik, ekspansi robot humanoid China juga menjangkau sektor strategis dan keamanan negara. Akhir November 2025, UBTech memenangi kontrak untuk menempatkan robot humanoid di pos lintas batas China-Vietnam di Fangchenggang, Guangxi. Kontrak itu bernilai 264 juta yuan (Rp 630 miliar).

Robot-robot tersebut akan membantu patroli, panduan pelancong, pengelolaan arus manusia, logistik, hingga inspeksi di lokasi industri baja, tembaga, dan aluminium.

Selain itu, lembaga pemerintah di sejumlah daerah juga mulai mengadopsi robot humanoid dan robot berkaki empat. Otoritas imigrasi Provinsi Zhejiang, misalnya, memanfaatkan robot untuk tugas rutin.

Di Bandara Internasional Xiaoshan, Hangzhou, robot digunakan untuk menjawab pertanyaan penumpang. Robot patroli polisi juga terlihat di Shenzhen, Shanghai, dan Chengdu.

A visitor shakes hands with a humanoid robot at 2018 China International Robot Show in Shanghai, China July 4, 2018. Tang Yanjun/CNS via REUTERS  ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT.

Percepatan adopsi robot humanoid China ditopang oleh dukungan kebijakan tingkat tinggi. Rekomendasi penyusunan Rencana Lima Tahun Ke-15 (2026-2030) menempatkan embodied intelligence sebagai salah satu mesin pertumbuhan masa depan China.

Pendekatan tersebut diperkuat oleh pembentukan komite nasional robot humanoid di bawah Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China.

Saking pesatnya pertumbuhan industri robot humanoid, sampai-sampai Pemerintah China berusaha mengeremnya. Mereka khawatir euforia ini menjadi gelembung yang bisa merugikan.

Dalam pengarahan Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), pejabat NDRC, Li Chao, mengingatkan risiko pertumbuhan yang terlalu cepat. Apalagi, lebih dari separuh perusahaan robot humanoid adalah perusahaan rintisan atau pendatang lintas industri, yang, katanya, merupakan hal baik bagi inovasi.

”Namun, kami juga harus waspada agar produk tidak menumpuk di pasar, menekan ruang penelitian dan pengembangan, serta menimbulkan risiko lain,” kata Li Chao.

Sejumlah robot humanoid memainkan alat musik pada gelaran China International Import Expo (CIIE) 2025 di Shanghai, China pada Rabu (5/11/2025). CIIE 2025 adalah pameran yang fokus pada barang dan jasa impor. Gelaran ke delapan ini diikuti ribuan peserta dari 155 negara, seperti Swedia, Perancis, Thailand, Uni Emirat Arab, Gambia, Armenia, dan Yunani. Hal yang dipamerkan meliputi, antara lain, robot, kosmetik, kendaraan, barang elektronik, dan produk agrikultur.

Peringatan ini sejalan dengan kekhawatiran tentang potensi kelebihan kapasitas produksi dan belum matangnya permintaan riil.

Pendiri Unitree Robotics, Wang Xingxing, menyamakan posisi industri robot humanoid saat ini dengan periode awal sebelum kemunculan ChatGPT. Arah pengembangan sudah jelas, tetapi terobosan sistemik belum tercapai.

Sementara itu, tantangan teknis tetap besar. Daya tahan baterai robot humanoid masih terbatas 2-3 jam per pengisian. Ketangkasan tangan juga masih jauh dari fleksibilitas tangan manusia. Adapun biaya produksi tinggi.

Robot humanoid kini dinilai sebagai arena baru persaingan teknologi antara China dan AS. Dalam fase awal, China dinilai lebih cepat. ”China saat ini memimpin dalam komersialisasi awal robot humanoid,” kata Andreas Brauchle, mitra di firma konsultan Horvath, seperti dikutip dari CNBC, Selasa (30/12/2025).

US Vice President-elect JD Vance’s children play along the sea wall as a new US Secret Service robot dog walks on the lawn at Mar-a-Lago in Palm Beach, Florida, on November 15, 2024. (Photo by Jim WATSON / AFP)

Dari AS, wacana pengembangan AI didominasi mengejar AI general atau artificial general intelligence (AGI). AGI adalah AI yang punya kemampuan berpikir dan memutuskan setara manusia.

Sementara itu, Karel Eloot, senior partner McKinsey & Company, menilai dorongan China terhadap robot humanoid tidak semata-mata didasari ambisi teknologi, tetapi juga faktor struktural ekonomi dan geopolitik.

”Dorongan China dalam pengembangan robot humanoid didasari upaya untuk mengatasi tekanan demografis, pertumbuhan ekonomi baru, serta memperkuat peran dalam persaingan global,” kata Eloot.

Robot humanoid menjadi simbol ambisi teknologi terbaru China. Satu tendangan kungfu robot humanoid menjadi sebuah lompatan inovasi untuk China. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti