Igor Tudor akhirnya membukukan kemenangan perdana atas Cristian Chivu sebagai pelatih. Pembalasan manis Tudor dari dua kekalahan terdahulu berselimut drama.
14 Sep 2025 07:50 WIB · Olahraga
TURIN, SABTU — Derbi d’Italia di Stadion Allianz, Turin, yang berakhir Minggu (14/9/2025) dini hari WIB, mungkin akan dikenang sebagai salah satu yang terseru sekaligus tidak masuk akal. Rivalitas Igor Tudor dan Cristian Chivu turut menggerakkan laga hingga menghasilkan sejumlah momen ajaib. Inter Milan dan Juventus sama-sama bisa mencetak banyak gol dari situasi yang sangat sulit.
Lewat pertandingan yang menegangkan hingga akhir, Juventus akhirnya menyudahi perlawanan ”Nerazzurri”. Kedua kubu saling membalas gol sepanjang laga yang berakhir dengan kemenangan dramatis, 4-3, untuk Juventus. Kemenangan ini menjadi pembalasan termanis Pelatih Juventus Igor Tudor atas Cristian Chivu. Baik sebagai pemain maupun pelatih, Tudor selalu kesulitan menaklukkan Chivu.
Hari pembalasan itu pada akhirnya datang dengan cara yang tidak biasa. Demi mempersempit ruang gerak Inter besutan Chivu, Tudor menginstruksikan para pemainnya agar segera menerapkan strategi overload setiap kali lawan menguasai bola di dekat kotak penalti.
Strategi tersebut sukses mengurangi ketajaman lini depan Inter. Sepanjang laga, Inter hanya mampu melesakkan empat tembakan tepat sasaran. Selebihnya upaya para pemain Inter dalam menembak terbentur pertahanan kokoh Juventus. Tercatat ada delapan tembakan Inter yang diblok.
”Kami perlu lebih baik dalam membaca permainan. Namun, kami datang ke sini untuk bermain dan mencoba memenanginya. Kami kurang tenang dalam mengetahui bagaimana bertindak secara berbeda, terutama di sepuluh menit terakhir. Saya tidak pernah melihat hal-hal secara individu. Maksud saya, kami seharusnya mengelola situasi tertentu dengan lebih baik,” kata Chivu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/14/d445882a06b8983096eb83e4428ab9da-739e04171bed43188e0ae4ef1299c270_0_c0d575a7abe0492992442d2959aa052b.jpg)
Hal yang sama dilakukan Chivu untuk memadamkan kreativitas Juventus di area sepertiga akhir. Menggunakan formasi 3-5-2, para pemain Inter akan membentuk pola 5-3-2 yang memadat di area depan kotak penalti. Taktik penjagaan individu juga diterapkan agar para penyerang Juventus tidak leluasa berlama-lama menguasai bola.
Dalam pergerakan dan ruang yang terbatas, Juventus bisa memecah kebuntuan melalui sontekan Lloyd Kelly. Gol Kelly berawal dari kecerdikan pemain Juventus mengubah-ubah arah serangan agar pertahanan Inter terpecah. Di sisi lain, pujian layak diberikan kepada Kelly yang tetap bisa mencetak gol meski seluruh sudut menembak nyaris tertutup bek Inter.
Tertinggal, Inter meningkatkan intensitas serangan. Mereka membalas melalui sepakan keras Hakan Calhanoglu dari luar kotak penalti. Seperti Kelly, gol Calhanoglu juga tercipta dari kondisi tidak ideal atau sulit karena para bek Juventus sudah menumpuk di depan gawang untuk menutup jalur tembakan. Bak mendapat keajaiban, sepakan Calhanoglu meluncur deras melewati hadangan bek Juventus tanpa mampu dihalau kiper Yan Sommer.
Momen-momen ajaib di laga ini tidak terhenti pada gol Kelly dan Calhanoglu. Gol Kenan Yildiz yang menggandakan keunggulan Juventus juga punya nuansa serupa Calhanoglu, sama-sama bermula dari sepakan jarak jauh yang cermat dengan sedikit keajaiban.
Gelimang keajaiban lagi-lagi muncul pada gol penyeimbang Inter yang kembali disumbangkan Calhanoglu. Di tengah tembok tebal pertahanan Juventus, Calhanoglu mengontrol bola dengan dada lalu melepaskan tendangan voli keras.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/14/ad7353df36aca71154db5a5ca4e665e2-232790949dd1428ea47d908002282979_0_363bca8b3e01455f8f2412ded4953081.jpg)
Sebanyak apa pun kedua tim berusaha memenangi jumlah pemain di kotak penalti, keajaiban bekerja di laga ini, yang dibuktikan dengan selalu ada cara agar gol tetap tercipta. Gol sundulan Marcus Thuram, misalnya, terwujud meski ia dikawal ketat banyak bek Juventus. Demikian pula gol balasan Juventus yang dicetak saudara Thuram, Khephren Thuram. Gol dua saudara kandung itu sama-sama tercipta dari situasi sepak pojok dan dalam pengawalan banyak bek lawan.
Keajaiban terakhir laga ini muncul dari sepakan keras jarak jauh Vasilije Adzic yang pada akhirnya menjadi penentu kemenangan 4-3 Juventus. Padahal, sebelumnya Adzic belum pernah mencetak gol untuk tim senior Juventus. Momen baginya untuk mencetak gol justru hadir pada panggung besar Derbi d’Italia dan lewat skema tembakan jarak jauh pula.
Banyaknya gol di laga ini tidak sebanding dengan nilai harapan gol (expected goal/xG). Juventus mencetak empat gol dengan nilai xG hanya 0,68. Adapun Inter yang mencetak tiga gol mencatatkan nilai xG sebesar 0,96. Nilai xG yang kecil menandakan gol-gol di laga ini tercipta dari situasi yang tidak ideal atau sulit. Di sisi lain hujan gol justru menunjukkan secuil keajaiban bekerja di laga akbar ini. Keajaiban itu turut dipantik rivalitas lama antara Tudor dan Chivu.
Bagi Juventus, kemenangan ketiga berturut-turut melanjutkan kesempurnaan mereka di awal musim. Tambahan tiga poin membuat Juventus menempati peringkat kedua klasemen dengan koleksi sembilan poin, di bawah Napoli yang unggul selisih gol. Sedangkan Inter masih tercecer di peringkat 11.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/14/22b5908e9bac060e9a91ef9e93fe7ad0-AFP_74E96AA.jpg)
Kebahagiaan berlipat dirasakan Tudor yang berhasil membalas kekalahan dari Chivu pada pertemuan pertama mereka sebagai pelatih. Semasa masih aktif bermain, kedua pelatih tersebut terlibat rivalitas sengit pada awal 2000-an.
”Kami menang hari ini meskipun penampilannya tidak bagus. Emosinya berbeda-beda. Tapi mengingat jalannya pertandingan, rasanya menyenangkan. Pertandingan yang benar-benar gila,” kata Tudor. (AFP)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan