Sejumlah kader banteng dipecat atau keluar dari PDI-P. Diawali Budiman Sudjatmiko, Jokowi, Gibran, Bobby, dan Effendi Simbolon. Mengapa?
02 Des 2024 16:19 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS - Sebelum Effendi Muara Sakti Simbolon dipecat dari keanggotaan di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI-P, ada sejumlah kader Banteng lainnya yang sudah dipecat dan keluar lebih dahulu. Mereka ada yang dipecat dan keluar dari ”kandang Banteng” sejak sebelum Pemilihan Presiden 2024 pada Februari 2024.
Adapun Effendi Simbolon dipecat dari PDI-P melalui Surat Keputusan Nomor: 1648/KPTS/DPP/XI/2024. Surat ditandatangani Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto dan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri serta ditetapkan pada Kamis (28/11/2024) lalu.
Dalam surat tersebut, Effendi disebut sebagai kader senior yang pernah menjabat sebagai Ketua DPP PDI-P dan anggota Fraksi PDI-P di DPR tidak mengindahkan instruksi partai mengenai rekomendasi calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta pada Pilkada 2024. Effendi dianggap telah membangkang terhadap ketentuan, keputusan, dan garis kebijakan partai karena mendukung calon kepala daerah dari partai politik (parpol) lain, yakni Ridwan Kamil-Suswono.
Pemecatan disebutkan tanpa pemanggilan dan klarifikasi karena Effendi dianggap melanggar etik dan disiplin, yakni mendukung kandidat yang tak didukung PDI-P dalam Pilkada 2024. Effendi juga dinilai melakukan pelanggaran berulang sejak Pemilihan Presiden 2024 pada Februari lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/24/d5109c6f-baf8-483e-9124-4ae3a6b0f034_jpg.jpg)
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI-P Djarot Saiful Hidayat mengatakan, surat keputusan pemecatan diterbitkan tanpa memanggil Effendi terlebih dahulu sebagaimana kasus dugaan pelanggaran etik lainnya. ”Pelanggaran yang dilakukan sudah jelas dan tidak terbantahkan,” ucapnya, Minggu (1/12/2024) kemarin.
Pada Senin (2/12/2024), Djarot menyatakan pemecatan atau keluar dari partai adalah bagian dari seleksi kader secara alamiah. ”Bagi mereka hanya semata-mata berorientasi pada kekuasaan dan jabatan akan tersisih, terbuang atau dipecat, jika melakukan manuver yang menguntungkang dirinya sendiri,” tandasnya.
Menurut mantan Wakil Gubrnur DKI ini, proses pemecatan dan keluar dari partai sekarang ini adalah bagian dari proses kristalisasi kader, menuju pada perwujudan PDI-P sebagai partai pelopor. Proses menuju partai ideologi yang dikelola secara modern dan pengemban amanat penderitaan rakyat.
”Bagi mereka hanya semata-mata berorientasi pada kekuasaan dan jabatan akan tersisih, terbuang atau dipecat jika tidak melakukan manuver yang menguntungkang dirinya sendiri”
”Jadi, kita meyakini hilang satu, tumbuh seribu. Siapa pun yg berkhianat pada Ideologi dan konstitusi serta tidak disiplin dan melanggar etika dan moral akan dipecat,” tuturnya lagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/06/f64e3508-0a91-410e-8d7c-e7e076ab9efe_jpg.jpg)
Siapa saja mereka yang dipecat dan keluar dari kandang banteng?
1. Budiman Sudjatmiko, tercatat kader pertama yang keluar jelang Pilpres 2024 lalu. Sebelumnya Budiman dikenal sebagai aktivis 98 dan Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD). Budiman akhirnya dipecat PDI-P pada 24 Agustus 2023 setelah mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo dalam Pilpres 2024. Pemecatan Budiman tertuang dalam Surat Keputusan Nomor 887/KPTS/DPP/VIII/2023 yang diteken Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan Sekjen Hasto Kristiyanto.
2. Joko Widodo adalah kader berikutnya yang menyusul ”meninggalkan” PDI-P. Ia pernah menjadi Wali Kota Solo dua periode, Gubernur DKI Jakarta, dan Presiden RI dua periode. Jokowi di mata PDI-P dinilai kader yang sudah tidak loyal, berkhianat dan mengusung kader partai lainnya sebagai calon presiden. Ia juga mendukung anaknya, Gibran Rakabuming Raka, menjadi calon wapres mendampingi Prabowo Subianto. Padahal, PDI-P sudah memiliki calon presiden dan wapres sendiri, yakni Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
3. Gibran Rakabuming Raka, putera sulung Jokowi, yang diusung PDI-P menjadi Wali Kota Solo, tanpa restu PDI-P, maju sebagai calon wapres mendampingi Prabowo Subianto di Pilpres 2024. Gibran, kini, resmi sudah menjadi pendamping Presiden Prabowo. Tercatat, Gibran pernah menegaskan akan setia kepada PDI-P. Bahkan, di Rapat Kerja Nasional PDI-P yang dihadiri Megawati Soekarnoputri pada Juni 2023, Gibran menyatakan akan tetap berada di PDI-P meski dilirik partai lain. Namun, belakangan, putra sulung Jokowi itu justru maju sebagai cawapres bersama capres Prabowo.
”Gibran pernah menegaskan akan setia kepada PDI-P. Bahkan, di Rapat Kerja Nasional PDI-P yang dihadiri Megawati Soekarnoputri pada Juni 2023, Gibran menyatakan akan tetap berada di PDI-P meski dilirik partai lain. Namun, belakangan, putra sulung Jokowi itu justru maju sebagai cawapres bersama capres Prabowo”
4. Bobby Nasution, menantu Jokowi juga keluar dari PDI-P karena ikut mendukung capres-cawapres Prabowo-Gibran di Pilpres 2024. Bobby kemudian juga dipecat oleh DPC PDI-P Medan pada 10 November 2023.
5. Maruarar Sirait, yang dikenal dekat dengan Jokowi, juga mengikuti sikap Presiden Jokowi dan pada Pilpres 2024 menyatakan dukungannya untuk Prabowo-Gibran. Bentuk pengunduran dirinya dilakukan dengan mengembalikan kartu tanda anggota (KTA) ke kantor DPP PDI-P di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/21/82b1009b-39a7-44ed-ba38-3c7f91ba7dd2.jpg)
Saat dihubungi, Effendi tidak menampik pemecatan terhadap dirinya. Akan tetapi, ia tidak memberikan tanggapan ketika ditanya lebih lanjut. Ia hanya mengirimkan stiker digital bertuliskan, ”Semoga Tuhan berkati.” (Kompas.id, 1/12/2024)
Terkait Gibran, pada November 2023 lalu, Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto menyampaikan, Gibran telah berpamitan kepada Puan beberapa waktu lalu. Permintaan pamit itu sehubungan dengan rencana Gibran yang akan maju bersama Prabowo pada Pemilu 2024. Dengan demikian, katanya, Gibran sudah bukan lagi anggota dari PDI-P. Hal itu sejalan dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik yang menyatakan bahwa capres dan cawapres akan gugur pencalonannya jika memiliki KTA ganda.
”Ya Mas Gibran, kan, pamit sehingga sudah jelas sifatnya. Pamit itu adalah bentuk pengunduran diri. Suratnya sudah dikirimkan. Ya, artinya etika politik harus dipenuhi. Artinya, Mas Gibran yang sudah pamit melalui Mbak Puan, itu artinya pamit untuk dicalonkan dengan Partai Gerindra dan Partai Golkar,” kata Hasto (Kompas, 6/11/2023).
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI-P yang dipimpin oleh Ketua Bidang Kehormatan PDI-P Komarudin Watubun memanggil Bobby Nasution ke Kantor DPP PDI-P, Jakarta, Senin (6/11/2023). Pemanggilan ini buntut dari pernyataan dukungan Bobby kepada Prabowo-Gibran, pada awal November 2023 lalu.
Pertemuan Komarudin dan Bobby dilakukan secara tertutup. Pertemuan berlangsung selama sekitar satu jam. Seusai pertemuan, Komarudin menegaskan, di PDI-P, setiap kader tidak bisa bermain ”dua kaki”. Artinya, setiap kader harus mengikuti arah keputusan politik partai yang telah memutuskan dukungan pada pasangan Ganjar-Mahfud MD.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/13/203cef71-0df0-4be5-9114-2ae44a7a1065_jpg.jpg)
Namun, dalam pertemuan tersebut, ujar Komarudin, Bobby mengaku tengah bergejolak antara perasaan dan pikiran akan berlabuh ke mana. Bobby pun meminta izin agar diperbolehkan bergabung ke kubu Prabowo-Gibran dan juga tetap menjadi kader PDI-P.
”Saya bilang tidak bisa. Apalagi PDI-P itu aturannya jelas dan selalu diingatkan oleh Ibu Ketua Umum (Megawati Soekarnoputri) bahwa kita tidak bisa main ’dua kaki’. Satu kaki saja. Jadi, kalau PDI-P sudah memutuskan untuk mendukung Pak Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, seluruh kekuatan dikerahkan untuk memenangkan itu,” kata Komarudin.
Ia mengaku mengerti perasaan Bobby. Bobby pasti memilih dukungan kepada Prabowo-Gibran karena ada hubungan kekerabatan. Namun, di sisi lain, Bobby seharusnya menyadari bahwa ia telah dibesarkan oleh PDI-P. Bahkan, seluruh kekuatan PDI-P telah dikerahkan ketika Bobby maju dan terpilih dalam Pemilihan Wali Kota Medan. Karena itu, PDI-P tetap tegas meminta Bobby untuk menjatuhkan pilihan.
Bobby sempat diberikan tenggat selama dua sampai tiga hari ke depan untuk memutuskan pilihannya tersebut. Jika Bobby pada akhirnya memilih untuk mendukung Prabowo-Gibran, dia harus mengembalikan kartu tanda anggota PDI-P. ”Kami mengerti perasaan itu. Makanya tadi saya sampaikan, oke, kalau begitu, kamu tetap harus memilih salah satu, tidak bisa main dua kaki. Beberapa hari ini, silakan pikir baik-baik, lalu kembalikan KTA partai sebagai tanda pengunduran diri dari PDI-Perjuangan,” ungkap Komarudin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/07/27/d1522580-97b9-4004-bd51-3ceabe44d6e6_jpg.jpg)
Sementara itu, Bobby enggan berkomentar banyak di hadapan media. Ia mengaku telah mengungkapkan semua alasan dirinya sampai mendukung Prabowo-Gibran kepada Komarudin. (Kompas.id, 6/11/2023)
Terkait Jokowi, Komarudin Watubun menyebutkan Jokowi dan putranya, Gibran Rakabuming Raka, dianggap sudah bukan kader PDI-P. Sebab, Presiden Jokowi memilih mendukung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto dan Gibran. Adapun PDI-P mengusung Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
”Hari ini, saya mohon maaf karena tidak bisa lagi ada di PDI Perjuangan karena saya punya keyakinan dan percaya dengan Pak Jokowi, seperti mayoritas kebanyakan rakyat Indonesia yang juga percaya kepada Pak Jokowi yang adil dan bisa memanusiakan manusia serta bisa memajukan bangsa kita”
Ketika ditanyakan mengenai anggapan bahwa bukan lagi kader PDI-P, Presiden Jokowi tak memberikan tanggapan secara jelas. Dia hanya tersenyum sembari mengatakan, ”Yaa, terima kasih.” Presiden pun segera meninggalkan wartawan dan enggan memberikan tanggapan lebih lanjut. (Kompas.id, 24/4/2024)
Dalam video yang diunggah di akun Instagram-nya, Maruarar menyebut bahwa ia mundur karena mengikuti langkah Jokowi dan merasa cocok dengan pilihan Presiden Ke-7 RI tersebut. Tak hanya itu, dalam unggahannya, Maruarar juga menyertakan foto tengah duduk berhadapan dengan Jokowi di sebuah ruangan yang hanya berisi mereka berdua.
”Hari ini, saya mohon maaf karena tidak bisa lagi ada di PDI Perjuangan karena saya punya keyakinan dan percaya dengan Pak Jokowi, seperti mayoritas kebanyakan rakyat Indonesia yang juga percaya kepada Pak Jokowi yang adil dan bisa memanusiakan manusia serta bisa memajukan bangsa kita,” tulis Maruarar dalam unggahan tersebut. (Kompas.id, 16/1/2024)
Penulis:
Suhartono .Editor:
Madina Nusrat