Kala AI Dikontrol untuk Ciptakan ”Deep Learning” untuk Anak

Di era digital, pembelajaran di ruang kelas kian beragam dan mudah. Dengan informasi melimpah, kecerdasan buatan dikontrol untuk menciptakan ruang aman digital.

11 Okt 2025 09:07 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Dionisius Reynaldo Triwibowo

Dulu, belajar identik dengan menghafal. Guru bicara, siswa mencatat, lalu mengulang materi saat ujian. Di era digital, pemandangan seperti itu mulai memudar. Ruang belajar tak lagi terbatas pada ruang kelas fisik; siswa bisa berdialog dengan asisten virtual untuk mencapai deep learning. Meskipun demikian, peran guru dan sekolah sebagai satuan pendidikan tetap krusial untuk menjaga ruang belajar digital yang aman bagi siswa.

Istilah deep learning kini mengandung dua makna. Pertama, sebagai cabang kecerdasan buatan yang memanfaatkan jaringan untuk membaca pola. Kedua, dalam konteks pendidikan, deep learning berarti pembelajaran mendalam yang membuat siswa memahami konsep, bukan sekadar mengingat. Ketika keduanya digabungkan, terbentuklah ruang baru, yaitu pembelajaran yang dibantu kecerdasan buatan.

Inilah yang coba diterapkan Ignasius Padur, salah satu guru di sekolah swasta Jakarta Barat. Pemuda asal Kabupaten Manggarai, Flores, NTT, itu perlu beradaptasi dengan situasi pembelajaran di DKI Jakarta. Sebelumnya, saat masih mengajar di sebuah kecamatan di kampung halamannya, ia tak pernah terpikir untuk mengajar menggunakan AI. Terlebih lagi, tak ada satu pun muridnya yang memiliki gawai.

”Begitu sampai di sini, kami, para guru, diberi pelatihan menggunakan kecerdasan buatan dalam pembelajaran. Saya berusaha mengejar banyak ketertinggalan,” ungkap Ignasius di Jakarta, Jumat (10/10/2025).

Pengunjung bermain video gim buatan lokal dalam even Indonesia Game Week (IGW) 2025 di blok M Hub, Jakarta, Rabu (6/8/2025). IGW diikuti oleh 17 judul gim digital lokal dan 20 judul gim permainan papan (board game) lokal. Genre gim yang beraprtisipasi mulai dari RPG (Role Playing Game), visual novel, komik, karakter, gim-gim edukatif serta konten kreatif lainnya. IGW berupaya menujukkan bahwa pembuat gim lokal sangat kreatif dan memiliki inovasi dan ide yang bervariasi. IGW 2025 hadir sebagai ajang tahunan yang paling dinantikan para pecinta gim di Tanah Air. Event yang pertama kalinya digelar ini tak hanya menjadi wadah pameran teknologi dan rilis gim terbaru, tetapi juga mempertemukan pembuat gim, komunitas hingga pemain gim profesional dari seluruh Indonesia. Festival ini diisi dengan berbagai agenda mulai dari turnamen, pelatihan, kompetisi membuat gim, hingga diskusi inspiratif. Event yang diselenggarakan oleh Gamecomm Alliance ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga wadah edukatif yang membuka wawasan tentang pertumbuhan industri kreatif di Indonesia. IGW 2025 juga menampilkan berbagai produk kekayaan intelektual (IP) lokal dan internasional, termasuk nama-nama besar seperti Free Fire, Call of Duty Mobile, Pokemon, Tekken, AGNI, hingga Ghosty's Comics. Tujuan utama dari IGW 2025 adalah menjadikan Indonesia sebagai pusat gaming global. Produk-produk kekayaan intelektual lokal tersebut akan bersanding dan berkolaborasi dengan jenama dan waralaba ternama dari mancanegara dan menciptakan ekosistem kolaboratif yang memperkuat posisi Indonesia di mata dunia. IGW 2025 juga menjadi ruang bagi para pelaku industri untuk memperkenalkan karya mereka, membangun jejaring, serta menjalin kerja sama strategis. Dari turnamen e-sports, sesi talkshow bersama kreator, hingga showcase IP lokal yang inspiratif, semuanya dirancang untuk merayakan kemajuan industri kreatif dan interaktif. Kehadiran IGW 2025 menjadi momentum penting untuk mendorong kemajuan ekosistem gim dan IP lokal

Ignasius, yang kini mengajar pelajaran Bahasa Indonesia di kelas XI dan XII, sudah menggunakan infrastruktur pembelajaran yang lebih canggih. Dulu, ia mengandalkan suaranya yang lantang; sekarang semua siswa menggunakan gawai, dan ia memberikan prompt AI (perintah atau instruksi) sesuai materi ajarnya.

Misalnya, saat mengajar materi paragraf deskripsi, ia menggunakan NoteBookLM untuk membuat video deskripsi, lalu menayangkannya kepada siswa di kelas. ”Siswa saat ini lebih banyak menonton podcast atau TikTok sehingga pembelajaran lebih mudah diterima ketika melibatkan audio dan visual,” ungkapnya.

​Dengan teknologi AI, Ignasius berupaya menciptakan ruang digital yang aman dan tepat guna. Menurut dia, banyak aplikasi AI dapat memberikan berbagai jawaban, tetapi sulit dibatasi. Pembatasan itu hanya bisa dilakukan oleh pengajar agar konten yang dihasilkan AI sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Dengan begitu, deep learning benar-benar tercipta.

Siswa mengambil telepon genggam mereka yang diletakkan di meja guru seusai para murid kelas XII tersebut mengikuti pelajaran Praktik Instrumen Pokok di SMK Negeri 8 Surakarta, Kecamatan Jebres, Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (31/1/2023). Peletakan telepon genggam di meja guru untuk menghindari distraksi akibat pemakaian gawai komunikasi oleh para siswa selama pelajaran berlangsung. Para murid program keahlian Seni Pertunjukan tersebut tengah menyiapkan tugas akhir mereka yang akan menjadi salah satu parameter penilaian penentu kelulusan mereka.

Pengalaman Ignasius menunjukkan bahwa AI hadir sebagai penguat pembelajaran. AI bukan pengganti fungsi guru, melainkan alat yang memudahkan siswa menerima materi pembelajaran.

Hal serupa juga dilakukan IBM SkillsBuild lewat program Pengembangan Inovasi dan Jalan Karier (Pijak), inisiatif pembelajaran AI yang menyasar siswa vokasi di berbagai daerah. Dalam program vokasi itu, siswa ataupun mahasiswa diajari dasar-dasar AI, generative AI, dan etika penggunaannya dalam konteks dunia kerja modern.

Presiden Direktur IBM Indonesia Roy Kosasih menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang IBM untuk memperkuat kapasitas AI di Indonesia. ”Melalui PIJAK, kami ingin memastikan pelajar di Indonesia mendapatkan akses ke pelatihan AI secara langsung, sekaligus perangkat praktis untuk mempersiapkan karier di era digital,” ujarnya melalui siaran pers yang diterima Kompas, Kamis (9/10/2025).

Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum menyebutkan bahwa kesenjangan keterampilan menjadi hambatan terbesar bagi transformasi bisnis global. Pada 2030, sekitar 39 persen keterampilan yang ada saat ini diperkirakan tidak lagi relevan. Laporan IBM juga menunjukkan bahwa 87 persen eksekutif percaya pekerjaan di masa depan akan diperkuat, bukan digantikan, oleh generative AI.

Namun, 47 persen di antaranya mengakui bahwa karyawan mereka masih kekurangan kemampuan untuk mengembangkan dan menerapkan AI secara efektif. ​Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, keterampilan AI perlu dimiliki semua orang. Pendidikan adalah salah satu cara terbaik untuk menambah keterampilan baru itu.

Principal Product Manager, Artificial Intelligence Platform Team Grab Swati Joshi menjelaskan ke awak media soal ketangguhan AI dalam pelayanan, di Singapura, Selasa (8/4/2025).

Kebijakan pemerintah

Anggota Komisi I DPR RI, Andina Thresia Narang, dalam Forum Diskusi Publik bertajuk ”PP Tunas Hadir untuk Anak Indonesia: Ruang Digital Sehat adalah Hak Anak” mengungkapkan pentingnya kebijakan tersebut di era teknologi yang kian pesat. Dalam diskusi yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada Agustus lalu, terungkap peran pemerintah dalam mendukung ruang digital yang aman bagi anak, khususnya dengan kehadiran Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).

Menurut Andina, PP Tunas menandai perubahan paradigma bahwa tanggung jawab melindungi anak di ruang digital bukan semata urusan teknis, melainkan juga soal moral dan kesadaran bersama. Regulasi ini menjadi penentu arah bagi masa depan ruang digital Indonesia yang bertumpu pada kemanusiaan.

​Ia menegaskan bahwa ruang digital yang aman untuk anak merupakan hak yang harus diberikan. Kehadiran PP Tunas menjadi momentum awal menuju ekosistem digital yang ramah anak. ”Harapannya, dari kebijakan ini akan tumbuh generasi yang tak hanya melek digital, tetapi juga beradab digital. Anak-anak yang aman, kritis, dan mampu menumbuhkan empati di tengah derasnya arus digitalisasi,” katanya.

Pemanfaatan kecerdasan buatan, kata Andina, perlu dibarengi pemahaman agar penggunaannya tidak sembarangan. Dengan begitu, anak-anak di Indonesia bisa lebih bijak dalam menggunakan teknologi dan beradaptasi dengan kebutuhan global.

Kecerdasan buatan beserta teknologi yang kian canggih akan menciptakan pemahaman mendalam dalam pembelajaran. Dari situ, deep learning seperti yang diharapkan para guru di sekolah akan bermakna bagi manusia untuk belajar lebih dalam, lebih sadar, dan lebih bijak dalam menghadapi perubahan.

Teknisi dari PT Akebono Brake Astra Indonesia dan tim dari Universitas Gadjah Mada mempersiapkan alat pendeteksi keretakan pada produk kampas rem di pabrik tersebut di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (1/2/2023). Alat tersebut hasil riset kolaborasi antara Sekolah Vokasi UGM, Politeknik ATMI Surakarta dan PT Akebono Brake Astra Indonesia lewat pendanaan Program Riset Keilmuan Terapan Vokasi LPDP. Sistem pendeteksi keretakan kampas rem tersebut berbasis kecerdasan buatan (AI) dengan metode acoustic recognition. Alat ini mmpu mendeteksi kerusakan kampas rem dalam tempo kurang dari 8 detik. Sistem ini memanfaatkan karakteristik akustik yang dihasikan dari pemukulan pada produk kampas rem untuk mendeteksi kerusakan dalam proses kontrol kualitas di lini produksi PT Akebono Brake Astra Indonesia. alat ini memiliki kelebihan hasil yang konsisten serta masa pembelajaran mesin lebih cepat dibanding operator kontrol kualitas manual oleh manusia. Sistem ini memiliki area pengembangan masih cukup luas baik dari kecepatan maupun akurasi. Konsep ini nantinya dapat dikembangkan di berbagai industri lain seperti pengecoran logam, cetakan beton, industri gamelan, dan lain-lain. Alat ini memberikan ruang peningkatan kemampuan pada operator penguji. Sistem yang dikembangkan oleh Departemen Teknik Mesin Sekolah Vokasi UGM dengan PT Akebono Brake Astra Indonesia yang dibiayai oleh Direktorat Pendidikan Vokasi (DIKSI) dan LPDP. Alat tersebut akan dipamerkan di Jerman dalam even Hanover Messe (pameran industri tingkat internasional) yang menurut rencana akan dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo. Kompas/Riza Fathoni (RZF) 01-02-2023

Kerabat Kerja

Penulis:

Dionisius Reynaldo Triwibowo
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari