Kala Gen Z Menguji Relevansi Gagasan Bung Hatta

Belajar sejarah tak lagi bertumpu pada proses menghafal tanggal dan peristiwa. Gen Z punya cara tersendiri yang tidak cuma membaca, tetapi juga menguji relevansinya.

01 Jun 2025 06:08 WIB · Dikbud

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

Siapa bilang generasi Z (kelahiran 1997-2012) alergi belajar sejarah? Sebagian dari mereka justru tenggelam menyelami perjalanan kehidupan dan pemikiran tokoh bangsa, salah satunya Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta.

Sepuluh remaja duduk berdesakan di ruangan yang menyatu dengan perpustakaan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (31/5/2025) sore.

Sebagian besar remaja berusia 12-18 tahun itu tinggal di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Namun, ada juga yang berasal dari Bali dan Kalimantan Timur.

Satu per satu dari mereka memaparkan temuan tentang gagasan Bung Hatta. Pemaparan itu sekaligus menutup klub buku Hatta: Aku Datang karena Sejarah yang berlangsung selama satu tahun tujuh bulan. Buku setebal lebih dari 300 halaman tersebut ditulis oleh Sergius Sutanto.

Para remaja itu tidak cuma membaca buku. Beberapa anak melakukan survei untuk menguji relevansi pemikiran Bung Hatta di era sekarang. Sebagian lainnya mewawancarai sejarawan. Ada juga yang membandingkan gaya pidato dan kepemimpinan Hatta dengan tokoh lainnya, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Peserta klub buku ”Hatta: Aku Datang karena Sejarah” berfoto bersama seusai mempresentasikan penelitiannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (31/5/2025) sore.

Koperasi menjadi tema paling laris untuk dibahas. Sebab, gagasan Hatta tentang ekonomi kerakyatan menjadi dasar koperasi Indonesia. Hal itu pula yang membuatnya dijuluki sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Avicenna Daud Azhari (12) memberi judul presentasinya dengan pertanyaan mendasar ”Apakah koperasi masih relevan sampai sekarang?” Untuk menjawab pertanyaan itu, ia mewawancarai pengurus dan anggota koperasi di Jakarta dan Aceh.

Akan tetapi, wawancara saja tidak cukup. Ia juga bertanya pada sejarawan. Untuk melengkapi penelitiannya, siswa homeschooler itu mengulik informasi melalui internet, termasuk data dari Badan Pusat Statistik.

”Koperasi masih relevan karena membantu orang-orang yang kesusahan. Koperasi juga membantu ibu-ibu yang tinggal di pelosok,” ujarnya.

Quote

Metode pembelajaran sejarah saat ini tidak perlu menitikberatkan pada proses menghafal. Sebab, di era sekarang, informasi waktu peristiwa sejarah dan hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa itu dapat diakses dengan mudah menggunakan mesin pencari.

<p>Patung Moh Hatta di depan Pesanggrahan Menumbing, Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung pada Minggu (19/12/2021). Pesanggrahan Muntok pada 1920-an merupakan hotel yang dibangun perusahaan Bankatinwinning (BTW), kemudian jadi rumah pengasingan Bung Hatta dan sejumlah tokoh negara di tahun 1948-1949.</p>

Avicenna pun mengungkap tantangan koperasi di era sekarang. Salah satunya adalah jumlahnya yang terus menurun, dari sekitar 209.000 unit pada 2014 menjadi 130.000 unit pada 2023.

Berbeda dengan Avicenna, Glory Kalyani (12) lebih tertarik mengeksplorasi apakah gen Z bisa meneladani Bung Hatta. Bahkan, ia memberi judul pemaparannya dengan tagar #HattaForGenZ: Ketika Literasi Jadi Modal Memimpin.

Untuk mengetahui gambaran karakter gen Z, ia mewawancarai 21 siswa. Ia juga bertanya kepada sejarawan JJ Rizal mengenai kehidupan Bung Hatta yang gemar membaca buku.

Glory mengatakan, dari survei kecil-kecilan itu, 76 persen siswa jarang membaca buku. ”Mereka setuju membaca itu penting, tetapi tidak sering melakukannya. Artinya, mereka punya kesadaran, tetapi potensinya belum tergali,” ucapnya.

Suasana presentasi klub buku ”Hatta: Aku Datang karena Sejarah” di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (31/5/2025) sore.

Glory menyimpulkan, gen Z bisa meneladani Bung Hatta. Namun, hal itu membutuhkan pembiasaan membaca secara reflektif. Sementara itu, mengenai karakter, gen Z perlu fokus pada kedisiplinan dan menjaga integritas.

”Sarannya, sekolah membuat program literasi yang menarik. Orangtua jadi teladan bagi anak dalam membaca buku. Pemerintah memperluas akses buku,” katanya.

Menyenangkan

Klub buku itu diampu oleh Ratnasari Dewi dan Icha Avrianty. Mereka mendampingi 10 remaja tersebut dalam pertemuan daring selama empat kali dalam sebulan. Setiap sesi berdurasi sekitar 1,5 jam.

”Kami hanya memberikan pertanyaan pemantik. Selebihnya mereka sendiri yang mengembangkan. Mereka membuat pertanyaan penelitian dan menjawabnya dengan membaca buku, riset lapangan, serta wawancara,” ujar Dewi.

Sejarawan Hilmar Farid (kiri) menjadi pembahas dalam presentasi klub buku ”Hatta: Aku Datang karena Sejarah” di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (31/5/2025) sore.

Sejarawan Hilmar Farid yang menjadi pembahas dalam presentasi itu menuturkan, studi sejarah selalu dimulai dengan pertanyaan. Karena peserta klub buku itu membuat sendiri pertanyaan penelitiannya, mereka menjadi tidak terbebani sehingga tertarik untuk meneliti dengan cara masing-masing.

”Hal ini membalikkan anggapan umum bahwa anak tidak suka belajar sejarah. Dari peserta klub buku ini, kita mendapat gambaran cukup lengkap tentang Hatta, baik sebagai pemikir, pemimpin, maupun manusia,” ucapnya.

Menurut Hilmar, metode pembelajaran sejarah saat ini tidak perlu menitikberatkan pada proses menghafal. Sebab, di era sekarang, informasi mengenai waktu peristiwa sejarah dan hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa itu dapat diakses dengan mudah menggunakan mesin pencari.

”Peserta klub buku ini tidak hanya membaca, tetapi merefleksikan sejarah itu dan melihat relevansinya dengan kondisi sekarang. Beginilah seharusnya sejarah diajarkan dengan cara yang menyenangkan,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Evy Rachmawati