Puluhan sapi pembajak sawah ikut dalam karapan sapi brujul di Kota Probolinggo. Karapan tersebut biasa dilakukan menjelang musim tanam padi.
05 Mei 2025 07:07 WIB · Foto
Rekaman musik Saronen yang diputar terdengar terus-menerus melalui pengeras suara, saat para peserta mempersiapkan sapi-sapinya untuk ikut karapan sapi brujul. Suaranya silih berganti dengan suara panitia yang mengingatkan setiap peserta untuk bergegas mempersiapkan diri, di Kota Probolinggo, Jawa Timur, Minggu (4/5/2025).
Berbeda dengan sapi kerap khas Madura yang gagah dan berotot, bentuk badan sapi brujul ini bongsor-bongsor sehingga tidak dapat berlari sekencang sapi kerap. Jika tidak berlomba, sapi-sapi tersebut bekerja membajak sawah.
Karapan sapi brujul sudah masuk dalam warisan tak benda milik Kota Probolinggo yang dikeluarkan Kemendikbud pada 2019. Karapan sapi ini biasa dilakukan menjelang musim tanam.
”Perhatian-perhatian, kepada seluruh peserta untuk mengambil nomor urut balapan segera, jam 10.00 tepat, lomba akan dimulai,” ujar seorang panitia berkali-kali mengingatkan kepada peserta tidak hanya sibuk menyiapkan sapi, tapi juga mengambil nomor urut balapan.
Di lapangan tempat karapan akan dilangsungkan, air sudah hampir sepenuhnya menggenang. Peserta yang terdiri dari pendukung, joki, dan pasangan sapi hilir mudik melakukan pemanasan. Di pojok lapangan, sebuah mesin pompa diesel meraung memompa air dari dalam tanah.
Dari pengeras suara, panitia mengumumkan nama pasangan-pasangan sapi yang akan berlomba. Nama-nama tersebut seperti Macan Gila, Sanador, Mak Lampir, Macan Poteh, Cahaya Sakti, Pusaka Kembar, Chris John, Macan Putih, dan Angin Ribut.
Iman Syafi’i, salah seorang panitia perlombaan, mengungkapkan bahwa kegiatan kali ini merupakan ajang silaturahmi bagi para pencinta sapi brujul. ”Ini pertemuan pertama setelah Idul Fitri dan kalau dipikir pengeluaran mereka untuk ikut lomba lebih besar dibandingkan dengan hadiah yang hanya setotal Rp 6 juta, mereka pun harus membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 350.000, semua untuk pelestarian tradisi,” ujar Iman.
Iman lalu menambahkan bahwa jika berhasil menang, harga sapi akan meningkat juga. Jadi, tetap ada unsur ekonomi dalam kegiatan tersebut.
Tepat pukul 10.00 WIB, pasangan sapi yang mendapat giliran lomba pun diarak menuju garis start. Para sapi tersebut, dengan arahan joki, harus menaklukkan medan berair dan berlumpur dari arena pacu yang berjarak lebih kurang sejauh 50 meter.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/04/eb03f5f8-fda0-40d2-8a74-a4daa234f96a_jpg.jpg)
Para pendukung yang terdiri atas belasan orang harus bisa memosisikan sapi yang akan dilepas. Panitia memberikan waktu persiapan selama lima menit. ”Siap tidak siap, maka setelah lima menit sapi harus dilepas untuk berpacu,” ujar salah satu juri.
Kajadian-kejadian unik pun terjadi selama lomba. Ada joki yang terjatuh berguling bersama sapinya dan ada juga sapi yang keluar jalur ke arah penonton dan deretan pedagang. Beruntung, sapi yang keluar jalur langsung berhenti sehingga tidak menimbulkan kerusakan dan korban penonton.
Sesaat dilepas, sepanjang sapi berpacu, penonton memberikan semangat dari pinggir lapangan. Tontonan gratis tersebut bisa memberikan sedikit hiburan di tengah kondisi ekonomi yang sedang penuh tekanan.
Penulis:
Bahana Patria GuptaEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Retma Wati