Kalah dari Republikan di Pilpres AS, Demokrat Perlu ”Turun Mesin”

Kekalahan Kamala Harris jadi pukulan telak bagi Partai Demokrat. Bukan salah Harris dan tim kampanye semata, melainkan mesin politik Demokrat.

07 Nov 2024 18:58 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia - [email protected]

WASHINGTON, KAMIS — Hasil penghitungan suara sementara pemilihan presiden Amerika Serikat 2024 menunjukkan kandidat presiden dari Partai Republik, Donald Trump, menang dengan meraih 295 suara elektoral. Kandidat presiden dari Demokrat, Kamala Harris, yang meraih 226 suara elektoral, sudah mengakui kekalahannya.

Partai Republik juga menguasai Senat dan DPR. Setelah Harris kalah telak, Partai Demokrat kini memasuki pemerintahan Trump yang kedua tanpa pemimpin yang jelas, tanpa rencana yang jelas, dan tanpa tahu persis penyebab kekalahan mereka tahun ini.

WASHINGTON, DC - NOVEMBER 06: Democratic presidential nominee, U.S. Vice President Kamala Harris pauses while speaking on stage as she concedes the election, at Howard University on November 06, 2024 in Washington, DC. After a contentious campaign focused on key battleground states, the Republican presidential nominee, former U.S. President Donald Trump was projected to secure the majority of electoral votes, giving him a second term as U.S. President. Republicans also secured control of the Senate for the first time in four years.   Andrew Harnik/Getty Images/AFP (Photo by Andrew Harnik / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Padahal, Demokrat sudah mengeluarkan uang sampai miliaran dollar AS untuk kampanye. Demokrat gencar memperingatkan para pemilih bahwa Trump adalah ancaman terhadap demokrasi.

Kebijakan ekonominya juga dikatakan hanya akan menguntungkan teman-temannya yang kaya. Bahkan, Trump disebut sebagai fasis. Namun, para akhirnya, pemilih AS tidak peduli atau tidak menganggapnya sebagai masalah.

Anggota DPR AS dari Demokrat perwakilan California, Rohit Khanna, Rabu (6/11/2024), mengajak Demokrat introspeksi diri dan memperbaiki diri. Demokrat tidak hanya membutuhkan generasi pemimpin baru, tetapi juga ide, pemikiran, dan arah yang baru.

Senator Bernie Sanders, kandidat independen Vermont dan mantan kandidat utama Demokrat, sudah memperingatkan sebelum hari pemilihan bahwa Harris terlalu fokus membalikkan suara Republik.

Harris kurang memperhatikan isu ekonomi, masalah keuangan, atau sederhananya masalah perut rakyat AS. Demokrat menelantarkan kaum pekerja dan kelas pekerja membalasnya di pemungutan suara dengan menelantarkan Demokrat.

”Yang ditelantarkan bukan hanya kelas pekerja kulit putih, melainkan juga Latin dan kulit hitam. Sementara kepemimpinan Demokrat membela status quo, rakyat Amerika marah dan ingin ada perubahan. Dan, mereka benar,” kata Sanders.

Infografik-Perolehan Suara Pemilu AS 2024 *** Local Caption *** Infografik-Perolehan Suara Pemilu AS 2024

Namun, anggota DPR dari Virginia, Don Beyer, meminta Demokrat tidak bereaksi berlebihan terhadap hasil pemilu kali ini. Masalahnya lebih pada Harris yang dianggapnya belum banyak dikenal rakyat. Sementara Harris harus berhadapan dengan Trump yang sudah jauh lebih dikenal.

Delapan tahun lalu, Demokrat dikejutkan oleh kemenangan Trump atas Hillary Clinton. Pada waktu itu, banyak yang menuding disfungsi dalam Komite Nasional Demokrat sebagai penyebab kekalahan.

Sebagian juga menyalahkan pengaruh Rusia yang mendukung Trump atau penanganan kasus informasi rahasia dalam surat elektronik Clinton saat menjabat sebagai menteri luar negeri. Kali ini, tidak ada alasan lain selain memang mesin politik Demokrat yang bermasalah.

Susah lepas dari Biden

Kampanye Harris dinilai kurang membumi. Peringatan akan ancaman Trump terhadap demokrasi AS memang penting. Namun, bukan itu masalah yang terpenting bagi mayoritas pemilih.

Itulah mengapa kelas pekerja tertarik dengan Trump yang dianggap lebih ramah pada pekerja dan tegas pada industri dan investor. Kampanye Harris dan Demokrat juga diakui anggota DPR, Shri Thanedar, terlalu fokus pada karakter Trump, termasuk masalah hukumannya dan gambarannya sebagai penjahat.

”Partai kami memang harus banyak introspeksi dan berpikir. Demokrat tidak fokus pada rakyat yang menderita secara ekonomi. Mereka yang susah tidak akan terlalu memperhatikan karakter Trump,” kata Thanedar.

(FILES) US President Joe Biden listens during a briefing about Hurricane Milton in the Eisenhower Executive Office Building October 9, 2024 in Washington, DC. Joe Biden hoped Kamala Harris would salvage his legacy as the man who saved America from Donald Trump. Instead, it lies in tatters. Had Harris won, the rows over his age and refusal to bow out earlier would have been forgiven by the Democratic Party. Biden would have been able to celebrate a list of achievements in his one term that included guiding the country out of the Covid crisis, passing historic legislation, building infrastructure and promoting green energy. (Photo by Brendan Smialowski / AFP)

Sebagai wakil presiden yang sedang menjabat, Harris tidak dapat melepaskan diri dari Presiden AS Joe Biden yang tidak populer. Dia juga susah meyakinkan pemilih bahwa dia bisa membawa perubahan yang dibutuhkan rakyat di tengah kesulitan ekonomi.

Harris tetap tidak dapat menghilangkan sentimen anti-Biden pada pemilih meski sudah bekerja keras hanya dalam waktu lima bulan. Walaupun sudah dapat sumbangan uang berjumlah sangat besar dalam waktu singkat, dukungan bertabur bintang, dan jadi meme populer di media sosial sekalipun, Harris tetap tak berhasil.

Mantan Direktur Komunikasi Harris, Jamal Simmons, kepada BBC, mengakui Harris sulit lepas dari Biden. Harris tak mau mencemarkan nama baik Biden dan enggan menentang kebijakannya.

Harris pun gagal memberi argumen yang meyakinkan tentang mengapa dia harus memimpin AS dan bagaimana cara menangani masalah ekonomi dan imigrasi. Harris tidak bisa menguraikan kebijakannya sendiri dengan jelas.

Pada saat-saat akhir, kampanye Harris fokus pada Trump. Ini yang diduga menjadi penyebab kekalahannya. Harris beralih fokus untuk menyerang Trump yang disebutnya tidak waras dan tidak stabil. Bukan itu yang diinginkan pemilih. Semua orang sudah tahu segalanya tentang Trump. Yang mereka ingin tahu adalah gagasan dan rencana Harris ke depan.

”Dihukum” pemilih

Dari data yang ada, Demokrat mau tak mau harus memperbaiki diri. Para pemilih yang tak punya gelar sarjana semakin banyak yang mendukung Trump tahun ini.

Empat tahun lalu, 51 persen suara mereka mendukung Trump dan 47 persen mendukung Biden. Kali ini, 55 persen suara mereka mendukung Trump dan 43 persen suara ke Harris.

Di antara pemilih yang tidak memiliki gelar sarjana, banyak pemilih muda. Secara keseluruhan, sekitar setengah dari pemilih berusia di bawah 30 tahun mendukung Harris.

Harris seperti ”dihukum”. Ini menjadi pengingat bagi partai-partai petahana di seluruh dunia bahwa rakyat pemilih sudah frustrasi dengan kondisi ekonomi yang sulit.

(FILES) A shopper picks up his package of bacon while shopping for food items at a grocery store on August 14, 2024 in Rosemead, California. Donald Trump's US election victory was, at least in part, down to his success in pinning the blame for a post-pandemic inflationary surge on the Biden-Harris administration. But analysts say some of Trump's own economic plans, from hiking tariffs to reining in the Fed's independence, risk undoing the US central bank's progress against inflation, potentially pushing it to keep interest rates higher for longer. (Photo by Frederic J. BROWN / AFP)

Demokrat didorong untuk membangun kembali hubungannya dengan para pemilih di perdesaan, kelas pekerja, komunitas Latin, dan anak muda. Dari hasil pemilu tahun ini jelas terlihat Demokrat tidak memenuhi aspirasi dan kebutuhan mereka sehari-hari.

Direktur Eksekutif PAC pro-Demokrat, Priorities USA, Danielle Butterfield mengatakan, Demokrat akan menganalisis mengapa dan bagaimana bisa kalah dari Republik serta strategi politiknya ke depan. Setelah pemilu 2016, Demokrat pernah mengubah infrastruktur dan penggalangan dana partai. Hal yang sama dilakukan pula oleh Republikan.

Setelah pemilu 2012, Komite Nasional Republikan membuat laporan internal untuk memetakan jalan partai itu ke depan. Rekomendasinya, memperkuat infrastruktur partai dan mengadopsi pesan yang lebih ramah dan inklusif. Namun, Trump mengabaikan laporan tersebut.

Meski demikian, Sanders tidak optimistis pada masa depan Demokrat. Dia tidak yakin orang-orang yang mengendalikan Demokrat akan bisa belajar dari kekalahan tahun ini. Dia juga tak yakin Demokrat bisa memahami penderitaan rakyat.

Demokrat disangsikan akan bisa menghadapi oligarki yang semakin kuat secara politik dan ekonomi. Suara pemilih AS toh sudah menunjukkan penolakan pada Demokrat dan masalahnya jauh lebih mendalam daripada sekadar presiden yang tidak populer. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W