Kambing Hitam Itu Bernama Erik ten Hag

Pelatih Erik ten Hag mendapat julukan ”Erik ten Weeks”. Itu karena dia menjadi pelatih Bayer Leverkusen selama kurang dari 10 pekan saja.

02 Sep 2025 20:22 WIB · Olahraga

Oleh Wisnu Aji Dewabrata

Erik ten Hag belum bisa menerima alasan pemecatannya. Dia tidak terima dijadikan kambing hitam atas keterpurukan Bayer Leverkusen. Pelatih asal Belanda itu memegang rekor sebagai pelatih yang menduduki masa jabatan paling singkat dalam sejarah Liga Jerman.

Ten Hag sejak Mei 2025 menggantikan Xabi Alonso yang hengkang ke Real Madrid. Sebenarnya, masa kontrak Ten Hag bersama Leverkusen masih panjang, yaitu sampai tahun 2027.

Bayern Leverkusen memecat Ten Hag pada Senin (1/9/2025) setelah timnya menjalani dua pertandingan Bundesliga dengan hasil mengecewakan. Leverkusen dipermalukan oleh Hoffenheim, 1-2, dalam laga perdana Bundesliga yang berlangsung di kandang mereka, Stadion BayArena. Pada pertandingan kedua, Leverkusen ditahan imbang Werder Bremen, 3-3. Ironisnya, tim yang dijuluki ”Die Schwarzroten” (Merah Hitam) itu sudah unggul dua gol, bahkan satu pemain Werder diusir dari lapangan.

Pelatih berusia 55 tahun itu merasa sakit hati karena klub membuat pernyataan bahwa mempertahankan dirinya adalah sebuah kesalahan yang lebih besar. Setelah dipecat oleh Manchester United, Ten Hag mendapat tugas yang sulit untuk menangani Leverkusen. Pada era Xabi, Leverkusen meraih masa keemasan sebagai juara Liga Jerman 2023-2024.

Ten Hag menghadapi kondisi yang tidak ideal karena banyak pemain kunci telah meninggalkan Leverkusen. Mereka menjual delapan pemain inti tim pada musim panas ini, termasuk Florian Wirtz, Granit Xhaka, Jonathan Tah, Jeremie Frimpong, Odilon Kossounou, Amine Adli, Lukas Hradecky, dan Piero Hincapie.

Quote

Klub-klub yang menaruh kepercayaan kepada saya telah diganjar dengan kesuksesan dan gelar.

Leverkusen's head coach Erik ten Hag gestures during the German Bundesliga soccer match between Werder Bremen and Bayer 04 Leverkusen in Bremen, Germany, Saturday, Aug. 30, 2025. (Carmen Jaspersen/dpa via AP)

Mengecam

Pelatih berusia 55 tahun itu mengecam keputusan Leverkusen. Dia mengatakan, memecat seorang pelatih setelah dua pertandingan belum pernah terjadi sebelumnya. Keputusan itu adalah kejutan luar biasa baginya.

”Seorang pelatih baru berhak mendapatkan kebebasan untuk menerapkan visinya, menetapkan standar, membentuk tim, dan memberikan sentuhan pribadinya pada gaya bermain,” kata Ten Hag.

”Klub-klub yang menaruh kepercayaan kepada saya telah diganjar dengan kesuksesan dan gelar,” kata Ten Hag. Hal itu berdasarkan catatan keberhasilannya ketika menangani Ajax Amsterdam dan Manchester United.

Sayangnya, manajemen Leverkusen sudah tidak punya stok kesabaran. Mereka enggan memberi Ten Hag waktu dan kepercayaan yang sangat dibutuhkan seorang pelatih. Ten Hag menegaskan, butuh waktu lebih banyak untuk membangun sebuah tim.

”Saya memulai pekerjaan ini dengan keyakinan dan energi penuh, tetapi sayangnya manajemen tidak bersedia memberi saya waktu dan kepercayaan yang saya butuhkan, yang sangat saya sesali. Saya merasa hubungan ini tidak pernah berdasarkan rasa saling percaya,” ujarnya.

Tanda-tanda ketidakcocokan Ten Hag dengan manajemen klub sesungguhnya sudah lama muncul. Dikutip dari BBC, Ten Hag tiba-tiba mengubah jadwal pertandingan persahabatan melawan tim Brasil, Flamengo U-20. Laga berlangsung empat hari lebih awal dari jadwal yang disepakati. Hasilnya? Leverkusen kalah telak 1-5.

Ten Hag terlibat perdebatan soal kepergian Xhaka. Menurut dia, Xhaka seharusnya tetap dipertahankan Leverkusen karena mereka telah kehilangan banyak pemain kunci. Pihak klub berpendapat sebaliknya, yaitu Xhaka bisa pergi jika ada penawaran yang sesuai. Akhirnya, Xhaka hengkang ke Sunderland.

Pelatih Bayer Leverkusen Erik ten Hag memberikan instruksi kepada gelandang Malik Tillman (kiri) dan bek Axel Tape saat pertandingan Liga Jerman antara Werder Bremen dan Bayer Leverkusen di Bremen, Jerman, Sabtu (30/8/2025). Leverkusen pada Senin (1/9/2025) memecat Ten Hag sebagai pelatih setelah menjabat kurang dari 10 pekan.

Media Jerman, Bild, Senin (1/9/2025), melaporkan, sang pelatih telah kehilangan kepercayaan internal dalam waktu yang sangat singkat dan tidak ada hubungan pribadi antara pelatih dan para pemain.

Tabloid tersebut melaporkan bahwa Ten Hag tidak diikutsertakan dalam negosiasi untuk merekrut mantan bek Real Madrid, Lucas Vazquez, yang bergabung dengan Leverkusen pada Selasa (2/9/2025).

Ten Hag ditugasi untuk merekrut lebih dari selusin pemain baru menjelang musim ini, termasuk beberapa pemain muda. Empat dari lima pemain adalah termahal dalam sejarah klub, yaitu Malik Tillman, Jarell Quansah, Eliesse Ben Seghir, dan Ezequiel Fernandez. Mereka tiba musim panas ini, dengan total nilai transfer sebesar 132 juta euro (Rp 2,5 triliun) ditambah bonus.

Ten Hag ternyata juga tidak bisa ”menguasai” ruang ganti pemain. Kemampuannya berkomunikasi dengan pemain buruk. Dia tidak mampu membangkitkan semangat pemain untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Tak hanya itu, Ten Hag juga mengkritik kondisi pemain yang kurang fit meskipun telah berlatih bersama saat pramusim.

Kapten Leverkusen, Robert Andrich, setelah pertandingan kontra Werder mengatakan, ia mempertanyakan komitmen dan kerja sama rekan satu timnya. Di sisi lain, Ten Hag jengkel dengan perselisihan yang tidak dapat diterima tentang siapa yang akan mengeksekusi penalti dalam laga tersebut. Menurut Ten Hag, para pemain tidak mau menaati instruksinya dan menganggap instruksinya bisa diperdebatkan.

Pelatih Manchester United Erik ten Hag (tengah) dan anggota tim pelatih lainnya berpose dengan trofi Piala Liga setelah timnya mengalahkan Newcastle United pada laga final di Stadion Wembley, London, Minggu (26/2/2023).

Keputusan sulit

Direktur olahraga Leverkusen Simon Rolfes mengungkapkan, keputusan memecat Ten Hag adalah keputusan yang tidak mudah bagi mereka.

”Tak seorang pun ingin mengambil langkah ini. Namun, beberapa minggu terakhir menunjukkan bahwa membangun tim baru yang sukses dengan formasi ini tidak dapat dicapai secara efektif,” tuturnya.

Rolfes mengatakan, di bawah Ten Hag tim kurang mendapat kejelasan dan arahan. Keputusan itu dibuat terlepas dari hasil di pertandingan-pertandingan awal Leverkusen. Dia mengakui telah membuat kesalahan dalam merekrut Ten Hag.

Adapun CEO Leverkusen Fernando Carro mengatakan, perpisahan pada awal musim memang terasa menyakitkan. Namun, perpisahan itu perlu dipandang dari sudut pandang klub.

Leverkusen tidak menunjuk pengganti Ten Hag. Tugas pelatih akan diambil alih oleh staf asisten pelatih untuk sementara waktu.

Pada Agustus silam, Ten Hag sudah memperingatkan bahwa ia bukan penyihir seperti Harry Potter. Dia menjelaskan, butuh waktu membuat Leverkusen kembali tampil sebagai tim hebat.

”Anda tidak bisa memaksakan prosesnya. Itu mustahil. Tidak ada yang seperti Harry Potter,” katanya. Ten Hag jelas bukan seorang penyihir, tetapi dia merasa telah dijadikan kambing hitam. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra