Kamboja Serahkan Tersangka Pembunuh Mantan Tokoh Oposisi ke Thailand

Lim Kimya, mantan anggota parlemen dari Partai Penyelamat Nasional Kamboja (CNRP), ditembak tiga kali oleh pria yang diduga pembunuh bayaran di Bangkok.

11 Jan 2025 22:00 WIB · Internasional

Oleh Muhammad Samsul Hadi

BANGKOK, SABTU – Seorang pria warga Thailand tersangka pembunuh mantan anggota parlemen kubu oposisi Kamboja, Sabtu (11/1/2025), diserahkan oleh otoritas Kamboja kepada aparat hukum Thailand. Ekkalak Paenoi (41), nama pria itu, kepada polisi dan wartawan di Bangkok mengakui dirinya pelaku pembunuhan tersebut.

”Saya akui, saya telah berbuat salah. Jika saya berani melakukannya, saya berani pula mengakui perbuatan itu,” ujar Ekkalak melalui video livestream. Ekkalak dikirim ke Thailand karena aparat hukum Thailand mengajukan permintaan ekstradisi.

Lim Kimya, mantan anggota parlemen Partai Penyelamat Nasional Kamboja (Cambodia National Rescue Party/CNRP), ditembak tiga kali hingga tewas pada Selasa (7/1/2025) oleh seorang pengendara sepeda motor di Bangkok. Saat ditembak, Lim Kimya (73) belum lama tiba dari Kamboja dengan naik bus.

Harian Thailand, Bangkok Post, melaporkan, ia ditembak di depan istrinya, yang berkewarganegaraan Perancis, dan saudaranya.

Angota Biro Investigasi Pusat (CIB) Thailand berdiri di dekat lokasi penembakan Lim Kimya, mantan anggota oposisi di parlemen Kamboja, di Bangkok, Thailand, Selasa (7/1/2025).

Sejumlah tokoh oposisi Kamboja menuding mantan pemimpin Kamboja Hun Sen memerintahkan pembunuhan Lim Kimya. Jubir pemerintahan Kamboja membantah keterlibatan aparat dalam insiden itu.

Saat dipertemukan dengan wartawan secara daring, Ekkalak memakai T-shirt warna putih dengan rompi antipeluru. Ia telah didakwa dengan pembunuhan terencana dan kepemilikan senjata secara tidak sah.

Polisi Kamboja mengatakan, mereka menangkap Ekkalak, Rabu (8/1/2025). Aparat hukum Thailand mengajukan permintaan ekstradisi Ekkalak.

Pada Sabtu (11/1/2025), polisi Kamboja membawa Ekkalak ke perbatasan Kamboja-Thailand dan menyerahkannya kepada aparat hukum Thailand.

Ekkalak Paenoi (tengah), tersangka pembunuh Lim Kimya, mantan anggota parlemen kubu oposisi Kamboja, dikawal polisi di bandar udara polisi di Bangkok, Thailand, Sabtu (11/1/2025).

Mantan anggota marinir

Ekkalak dijemput dengan helikopter kepolisian Thailand dan langsung dibawa ke Bangkok. ”Kami belum bisa menetapkan motif (pembunuhan), mohon kami diberi waktu,” ujar Somprasong Yenthuam, seorang polisi senior.

Media Thailand menyebut Ekkalak seorang mantan anggota marinir.

Somprasong kepada wartawan mengungkapkan, pihaknya juga sudah mengajukan perintah penangkapan seorang kaki tangan di Kamboja yang diduga terlibat dalam pembunuhan Lim Kimya.

Sanong Sangmanee, Kepala Kepolisian Kota Bangkok, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa Ekkalak, yang kini sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek motor, akan menjalani tahanan pra-persidangan di kantor pengadilan di Bangkok, Senin (13/1/2025).

Sejumlah aktivis oposisi Kamboja dalam beberapa tahun terakhir melarikan diri ke Thailand guna menghindari represi di negara mereka. Sebagian dari mereka tertangkap dan dideportasi pulang ke Kamboja.

CNRP, yang dibubarkan melalui keputusan pengadilan tahun 2017, melalui pernyataan tertulis mengatakan, mereka terguncang oleh pembunuhan mengerikan dan tidak manusiawi terhadap Lim Kimya. Mereka mengecam keras sebagai tindakan brutal yang mengancam kebebasan politik.

Foto yang diambil pada 17 Oktober 2017 ini memperlihatkan Lim Kimya, anggota parlemen Kamboja dari Partai Penyelamat Nasional Kamboja (CNRP), dalam wawancara dengan AFP di Phnom Penh, Kamboja.

Hun Sen memerintah Kamboja dengan tangan besi selama hampir empat dekade. Kelompok-kelompok pegiat hak asasi manusia menudingnya menggunakan sistem hokum untuk melibas oposisi.

Hun Sen mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaannya kepada anaknya, Hun Manet, pada 2023. Meski sudah mundur, Hun Sen masih dipandang sebagai salah satu kekuatan utama politik di Kamboja.

Pada Selasa (7/1/2025), Hun Sen menyerukan penyusunan undang-undang untuk memberi label “teroris” kepada siapa pun yang berupaya menggulingkan pemerintahan Hun Manet.

Pemerintah Perancis mengecam keras pembunuhan Lim Kimya, yang juga berkewarganegaraan Perancis. Melalui pernyataan tertulis, Kamis (9/1/2025), Paris mengatakan “mengikuti investigasi otoritas Thailand secara dekat untuk memperoleh fakta sebanyak mungkin”.

Sam Rainsy, rival lama Hun Sen yang tinggal di Perancis, menuding Hun Sen mengorkestrasi pembunuhan Lim Kimya. Ia mengimbau otoritas Thailand untuk membantu polisi Perancis “menyingkap operator-operator Hun Sen yang aktif di Thailand”. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari