Trump Menang, Kanada Siaga Bendung Gelombang Imigran Ilegal dari AS

Antisipasi gelombang imigran ilegal dari AS, Kanada perketat perbatasan. Imigran diingatkan jangan nekat menyeberang lewat hutan dan sungai karena berisiko tinggi.

09 Nov 2024 09:12 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia - [email protected]

TORONTO, SABTU — Kanada menjadi negara tetangga Amerika Serikat yang paling waswas setelah kandidat presiden dari Partai Republik, Donald Trump, menang. Ini terutama karena janji kampanye Trump untuk mendeportasi 11 juta imigran tak berdokumen atau ilegal. Kanada sedang dalam ”kewaspadaan tinggi” dan pasang kuda-kuda memperketat penjagaan di perbatasan AS-Kanada untuk mengantisipasi gelombang imigran yang masuk dari AS.

Dari pengalaman masa jabatan Trump pertama (2017-2021), puluhan ribu imigran melarikan diri ke Kanada. ”Perhatian kami tertuju pada perbatasan. Kami tahu sikap Trump terhadap imigran bisa meningkatkan imigran ilegal ke Kanada,” kata juru bicara Kepolisian Kanada Charles Poirier, Jumat (8/11/2024) waktu setempat atau Sabtu waktu Indonesia.

Dalam beberapa hari mendatang, Kanada akan lebih banyak mengerahkan pasukan penjaga perbatasan di sepanjang perbatasan kedua negara. Perbatasan AS-Kanada adalah perbatasan terpanjang di dunia yang tidak dimiliterisasi.

Kanada memperkirakan para imigran segera mulai berdatangan menjelang pelantikan Trump, Januari 2025. Peralatan pengawasan, seperti kamera, sensor, dan pesawat nirawak juga sudah dipasang di perbatasan sepanjang 8.891 kilometer.

Perkembangan terbaru ini sudah diinformasikan langsung kepada pihak berwenang AS. Meski Kanada sudah siap, Poirier menyatakan akan sulit mengendalikan ribuan imigran yang datang sekaligus dan menyeberang di banyak titik perbatasan. Apalagi jika mereka dalam kondisi ketakutan dan panik.

Suasana antrean di perbatasan Kanada-Amerika Serikat di Ontario, Kanda, Senin (8/11/2021) dini hari waktu setempat. Amerika Serikat membuka kembali pembatasan untuk jalur darat dan jalur udara bagi pengunjung asing yang divaksinasi penuh terhadap Covid-19. Pihak berwenang AS berencana untuk memantau dengan cermat status vaksinasi para pelancong dan meminta mereka untuk menunjukkan hasil negatif tes Covid-19. AFP/GEOFF ROBINS A pedestrian walks past a line of Canadian travelers in their passenger cars or motor homes on the Rainbow Bridge between Niagara Falls, Ontario and Niagara Falls, New York in the early hours of November 8, 2021. - The United States reopens its land and air borders Monday November 8 to foreign visitors fully vaccinated against Covid-19, ending 20 months of restrictions on travel from around the globe that separated families, hobbled tourism and strained diplomatic ties. The ban, imposed by former president Donald Trump in early 2020 and upheld by his successor Joe Biden, has been widely criticized and become emblematic of the upheavals caused by the pandemic. The restrictions were particularly unpopular in Europe and US neighbors Canada and Mexico. (Photo by Geoff Robins / AFP)

Ini karena Trump sesumbar akan mengerahkan pasukan Garda Nasional dan aparat kepolisian untuk mendeportasi imigran ilegal. ”Skenario terburuk adalah orang-orang menyeberang dalam jumlah besar ke mana-mana. Katakanlah ada 100 orang per hari yang masuk melintasi perbatasan akan sulit mengantisipasinya karena petugas harus menempuh jarak yang sangat jauh untuk menangkap semua orang,” ujarnya.

Wakil Perdana Menteri Kanada Chrystia Freeland bertemu dengan sejumlah menteri yang bertugas menangani masalah pelik yang mungkin muncul antara Kanada dan pemerintahan Trump.

Freeland memastikan Kanada siap menghadapi kemungkinan peningkatan kedatangan imigran. Dia menjamin perbatasan AS-Kanada aman, terlindungi, dan bisa dikendalikan. ”Rakyat Kanada perlu tahu. Kami sudah punya rencana,” ujarnya.

Kanada sensitif soal imigran ini karena mereka juga memangkas target imigrasinya. Pemerintahan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau ingin memperlambat pertumbuhan populasi sambil memperkuat layanan sosial.

Menteri Besar Quebec Francois Legault khawatir dengan banyaknya pendatang yang akan membuat provinsinya kewalahan menampung mereka. Trudeau menghidupkan kembali komite kabinet khusus yang menangani hubungan Kanada-AS dan rencana deportasi Trump jadi bahasan utama.

(FILES) In this file photo taken on June 8, 2018 US President Donald Trump and Canadian Prime Minister Justin Trudeau shake hands during a meeting on the sidelines of the G7 Summit in La Malbaie, Quebec, Canada. - Canadian and US negotiators reached a deal late on September 30, 2018 on reforming the North American Free Trade Agreement (NAFTA), Canadian media reported. (Photo by SAUL LOEB / AFP)

Kekhawatiran Kanada nyata karena segera setelah pemilihan presiden AS, Selasa lalu, pencarian daring di AS tentang kepindahan ke Kanada melonjak 10 kali lipat. Banyak yang menanyakan perihal layanan imigrasi dan relokasi Kanada.

Google Trends menunjukkan istilah pencarian, seperti ”berimigrasi ke Kanada”, ”proses imigrasi Kanada”, dan ”cara pindah ke Kanada”. Pemerintah memperkirakan pemrosesan aplikasi izin tinggal permanen dapat memakan waktu hingga satu tahun. Sementara waktu tunggu yang diproyeksikan untuk klaim pengungsi adalah 44 bulan.

Jangan nekat

Poirier memperingatkan, bagi siapa saja yang akan memasuki Kanada secara ilegal berbahaya, terutama di bulan-bulan musim dingin. Dia mencoba memahami kesengsaraan dan ketakutan yang akan mendorong orang untuk mencoba menyeberang ke Kanada melalui hutan, ladang, atau menyeberangi danau atau sungai.

”Itu sangat berbahaya. Cuaca mulai dingin. Dari pengalaman yang dulu, banyak yang mencoba melakukannya dan terkena radang dingin yang parah dan harus diamputasi. Mereka juga menderita hipotermia parah. Bahkan beberapa meninggal,” kata Poirier.

Aksi protes telah meluas menjadi kemarahan terhadap Perdana Menteri Justin Trudeau. Meski memberlakukan keadaan darurat namun sejauh ini Trudeau menolak seruan untuk menggunakan militer dalam menghadapi unjuk rasa. Presiden Amerika Serikat Joe Biden pada hari Minggu juga mendukung upaya persuasif yang diambil untuk membuka perbatasan Kanada-Amerika Serikat dan menghindari kekerasan yang akan memberikan dampak negatif yang meluas pada kehidupan dan mata pencaharian orang-orang di kedua sisi perbatasan. AFP/DAVE CHAN A protester wearing an emoji costume holds a sign as demonstrators continue to protest against Covid-19 vaccine mandates in Ottawa, Ontario, Canada, on February 12, 2022. (Photo by Dave Chan / AFP)

Kanada mengalami peningkatan jumlah penyeberangan perbatasan secara ilegal antara tahun 2016 dan 2023. Kepolisian Kerajaan Kanada mengaitkan hal itu dengan pemerintahan Trump.

Trudeau dan Presiden AS Joe Biden tahun lalu sudah mengumumkan rencana untuk menutup celah pada perjanjian imigrasi yang memungkinkan ribuan imigran pencari suaka untuk berpindah di antara kedua negara di sepanjang ”jalan belakang” yang menghubungkan Negara Bagian New York dengan Provinsi Quebec di Kanada.

Kebijakan tersebut menyatakan, pencari suaka tanpa kewarganegaraan AS atau Kanada yang tertangkap dalam waktu 14 hari setelah melintasi perbatasan sepanjang 5.061 kilometer akan dipulangkan.

Ketika Trump pertama kali berkuasa, ribuan pencari suaka menyeberang ke Kanada melalui penyeberangan perbatasan tidak resmi untuk mengajukan klaim pengungsi. Sebagian besar berada di Roxham Road, dekat perbatasan Quebec-New York.

Alasan mereka beragam, tetapi sebagian besar mengatakan khawatir tinggal di AS di bawah kepemimpinan Trump. Sekarang itu tidak bisa lagi. Kanada dan AS memperluas perjanjian bilateral sehingga kini pencari suaka yang mencoba menyeberang di mana saja akan ditolak, kecuali mereka memenuhi syarat pengecualian.

Ini berarti orang yang menyeberang dari AS untuk mengajukan klaim harus menyelinap tanpa terdeteksi dan bersembunyi selama dua minggu sebelum mencari suaka. Ini berbahaya, tetapi orang-orang sudah melakukannya. Ketika tidak ada jalur masuk yang sah, orang pasti akan menempuh cara apa pun meski itu sangat berbahaya.

Antrean para pejalan kaki dan kendaraan yang akan melintasi perbatasan San Ysidro di perbatasan Meksiko-Amerika Serikat di Tijuana, negara bagian Baja California, Meksiko, Minggu (7/11/2021) malam waktu setempat. Mulai Senin (8/11/2021) Amerika Serikat membuka kembali perbatasan di Meksiko dan Kanada yang mengizinkan warga asing termasuk wisatawan yang telah divaksinai untuk memasuki AS melalui perjalanan darat. AFP/GUILLERMO ARIAS

Menurut data Dewan Imigrasi dan Pengungsi, Kanada sudah menghadapi rekor jumlah pemohon suaka. Pada Juli, hampir 20.000 orang mengajukan klaim suaka. Ini jumlah bulanan tertinggi yang pernah tercatat dan didorong oleh pengungsian global. Jumlah tersebut menurun menjadi sekitar 16.400 pada September. Masih ada lebih dari 250.000 klaim yang tertunda.

Kanada sudah memangkas jumlah imigran permanen dan sementara. Pendiri Pusat Pengungsi FCJ Toronto, Loly Rico, sudah melayani puluhan pencari suaka dalam satu pekan terakhir. ”Pemilihan Trump akan berdampak pada Kanada. Nanti akan lebih banyak orang melintasi perbatasan, muncul di kota-kota dan mencari bantuan,” ujarnya.

Dia khawatir jika musim dingin datang. Dua tahun lalu ada satu keluarga beranggotakan empat orang yang meninggal karena kedinginan saat mencoba menyeberangi perbatasan dekat Emerson, Manitoba. Celah ini dimanfaatkan kelompok kejahatan penyelundupan manusia.

”Bagaimana caranya menjaga perbatasan sepanjang itu? Saya khawatir orang-orang akan nekat. Kekhawatiran saya juga pada nasib orang-orang yang hidupnya akan terancam oleh bagaimana kebijakan perbatasan ditegakkan,” kata Ketua Riset Kanada dalam Studi Perbatasan Kritis dan Guru Besar di Universitas Lethbridge Julie Young. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .