Kans Trigelar Barcelona dalam Ancaman Besar

Mimpi Barca memenangi tiga gelar dalam semusim berpotensi kandas. ”Blaugrana” terpeleset sedemikian keras di markas Atletico Madrid pada semifinal Piala Raja.

13 Feb 2026 15:49 WIB · Olahraga

AFP

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

MADRID, JUMAT — Dalam laga sebesar semifinal Piala Raja Spanyol, kesalahan sekecil apa pun bisa berdampak fatal. Pengalaman pahit itu dirasakan Barcelona yang takluk 0-4 dari Atletico Madrid pada semifinal pertama di Stadion Metropolitano, Madrid, Jumat (13/2/2026) dini hari WIB. Kans Barca mengakhiri musim dengan tiga trofi terancam kandas. Hanya keajaiban yang dapat membantu ”Blaugrana” lolos ke final.

Kekalahan itu menampar Barca yang sedang di atas angin berkat performa impresif dalam 16 laga terakhir. Dalam kurun waktu itu, Barca mengemas 15 kemenangan dan hanya sekali kalah saat menghadapi Real Sociedad. Kemungkinan Barca takluk dari Atletico tetap ada, tetapi tidak ada yang menyangka skornya akan sedemikian telak.

Hanya keajaiban yang bisa membawa Barca membalikkan keadaan pada semifinal kedua. Skenario terburuk adalah Barca tersingkir pada semifinal sehingga peluang memenangi trofi besar musim ini tersisa di Liga Spanyol dan Liga Champions.

Akan tetapi, di atas kertas, Barca belum tersingkir. Perlu upaya ekstra keras dari para pemain Barca untuk mengatasi skenario Atletico bermain pasif demi lolos ke final. Sebagaimana diketahui, Atletico di bawah arahan Diego Simeone sangat cerdik sekaligus pragmatis. 

Penyerang Atletico Madrid, Julian Alvarez, merayakan gol ke gawang Barcelona pada laga semifinal Piala Raja di Madrid, Jumat (13/2/2026).

Mereka tahu bagaimana caranya menjaga keunggulan hingga akhir. Kecenderungan untuk bermain aman itu sudah terlihat setelah unggul empat gol di babak pertama berkat gol bunuh diri Eric Garcia, Antoine Griezmann, Ademola Lookman, dan Julian Alvarez.

Pada babak kedua, Simeone memerintahkan para pemainnya untuk menumpuk di pertahanan demi menghalangi Barca mencetak gol balasan.

Walau begitu, Pelatih Barca Hansi Flick mencoba menumbuhkan optimisme seraya mengatakan mencetak lebih dari empat gol di Stadion Camp Nou bukan hal yang mustahil. ”Ini belum berakhir. Kami membutuhkan suporter di stadion kami dan kami akan berjuang selama 90 menit untuk mencapai final,” ucap Flick.

Flick bertanggung jawab terhadap kekalahan memalukan ini. Keputusannya memainkan Marc Casado sejak awal harus dibayar mahal. Meski tampil bagus melawan Real Mallorca, memasang Casado pada laga sebesar semifinal Piala Raja bisa dikatakan sebagai sebuah kekeliruan.

Flick menerapkan formasi 4-2-3-1 dengan Frenkie de Jong dan Casado berperan sebagai gelandang bertahan. Saat menyerang, formasi itu berubah menjadi 4-3-3. De Jong diinstruksikan lebih ke depan sehingga hanya ada Casado yang berposisi gelandang bertahan saat rest defence.

Gelandang Atletico Madrid, Thiago Almada (kiri), berebut bola dengan penyerang Barcelona, Lamine Yamal, pada laga semifinal Piala Raja di Madrid, Jumat (13/2/2026) dini hari WIB.

Hanya saja, Casado bermain buruk dengan kesulitan melindungi empat bek Barca. Ia juga cenderung mudah kehilangan bola sehingga menjadi target counter pressing Atletico. 

”Saya harus berkata jujur. Atletico bisa dengan mudah menerobos masuk ke pertahanan kami. Terlalu banyak ruang (di pertahanan),” kata bek Barca, Eric Garcia, yang terkena kartu merah karena terpaksa menjatuhkan Alex Baena yang mengekspos ruang kosong di pertahanan Barca.

Kurang efektif

Di sisi lain, keputusan Flick memainkan Casado berarti mengorbankan Dani Olmo ke pos sayap kiri. 

Sebagaimana bisa ditebak, Olmo yang berposisi asli sebagai gelandang serang kurang efektif tampil sebagai penyerang sayap. Sepanjang laga, Olmo tidak melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran. Statistik penciptaan peluangnya pun amat rendah, hanya dua kali.

Flick menyebut cedera sebagai penyebab perubahan taktikal yang dia tempuh kali ini. Pos penyerang sayap kiri Barca kosong sepeninggal Marcus Rashford dan Raphinha yang cedera. Untuk itulah Flick terpaksa menempatkan Olmo sebagai pengganti.

Gelandang Atletico Madrid, Koke (kiri), berebut bola dengan gelandang Barcelona, Fermin Lopez, pada semifinal Piala Raja di Madrid, Kamis (13/2/2026) dini hari WIB.

”Saya harus menerima fakta bahwa kami bermain buruk malam ini. Tentu saja, masalahnya ada di 45 menit pertama. Ini seperti pelajaran yang telah kita lalui, dan terkadang bagus bahwa pelajaran ini datang pada waktu yang tepat di musim ini,” ujar Flick.

Para suporter Barca pun masih yakin timnya lolos meski harapan itu tipis. Satu unggahan yang terus muncul di media sosial pascakekalahan Barca ialah potongan gambar skor saat Barca menghancurkan Paris Saint-Germain, 6-1, di markas sendiri pada babak 16 besar Liga Champions musim 2016-2017.

Seperti saat ini, Barca juga takluk empat gol tanpa balas di markas PSG. Tanpa disangka, defisit empat gol itu sanggup dibalikkan Barca yang pada akhirnya lolos dengan agregat 6-5.

Dari pengalaman hebat di masa lalu itu, harapan Barca belum sepenuhnya hilang. Peluang untuk remontada atau bangkit kembali tetap ada. Masalahnya adalah jangan sampai Flick kembali melakukan hal yang sama karena kesalahan sangat tidak ditoleransi pada semifinal kedua. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar