China kini punya kapal induk dengan teknologi ketapel elektromagnetik, sama seperti milik AS. Selain teknologi, China mengebut produksi kapal-kapalnya.
07 Nov 2025 18:30 WIB · Internasional
AFP
HONG KONG, JUMAT — Fujian, kapal induk tercanggih milik China, mulai beroperasi, Jumat (7/11/2025). Fujian adalah kapal induk ketiga China yang dilengkapi dengan ketapel elektromagnetik. Ini memungkinkan pesawat di atas kapal diluncurkan dengan kecepatan lebih tinggi.
Fujian merupakan kapal induk pertama yang dirancang dan dibangun sendiri oleh China. Kapal induk pertama China, Liaoning, diperbarui dari kapal Soviet yang belum selesai. Kapal diwarisi Ukraina kemudian dijual ke China. Kapal induk kedua, Shandong, dibangun di China berdasarkan desain Liaoning.
Kantor berita China, Xinhua, menyebutkan, Fujian diresmikan pada Rabu (5/11/2025) di pangkalan angkatan laut di Pulau Hainan, China selatan. Presiden Xi Jinping hadir di acara itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/07/45e84215f316b229cb956bc5feac796d-China_Aircraft_Carriers.jpg)
Fujian merupakan hasil perombakan dan ekspansi militer besar-besaran Xi. Dalam rencananya, Xi akan memodernisasi militernya pada 2035. Ini diartikan sebagai peningkatan kemampuan untuk bersaing secara setara dengan Amerika Serikat.
Dari sisi jumlah kapal, China termasuk angkatan laut terbesar di dunia. Hanya, jika dari jumlah kapal induk, China masih tertinggal dari AS yang memiliki 11 kapal induk.
Dari sisi keunggulan kapal induk dengan ketapel elektromagnetik, AS adalah satu-satunya negara di dunia selain China sekarang yang memilikinya. Sistem itu terdapat di kapal induk terbaru AS, USS Gerald R Ford.
Fujian dapat meluncurkan tiga jenis pesawat berbeda dengan ketapel elektromagnetik dan dek penerbangan datar. Kapal induk ini juga bisa membawa pesawat dengan persenjataan dan muatan bahan bakar yang lebih berat sehingga mampu menyerang musuh dari jarak yang lebih jauh.
Liaoning dan Shandong masih pakai dek ski-jump yang miring ke atas. Sistem ini hanya dapat meluncurkan pesawat dengan muatan lebih ringan dan tidak dapat menangani pesawat berukuran besar.
”Namun, Fujian masih butuh waktu paling tidak setahun sebelum mencapai kemampuan operasional penuhnya,” kata Ben Lewis, pendiri pelantar data sumber terbuka, PLATracker.
China belum mengungkapkan jumlah pesawat yang dapat diangkut Fujian. Namun, para ahli memperkirakan jumlahnya bisa 40-60 pesawat. Kapal induk AS dapat menampung 60-70 pesawat.
Fujian memiliki dua elevator pesawat, sementara USS Ford milik AS punya tiga unit. Dek penerbangan Fujian juga lebih kecil, dengan tiga ketapel di atasnya. Di USS Ford, terdapat empat ketapel. AS sedang membangun kapal induk kelas Ford yang kedua dan diperkirakan selesai pada 2027.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/13/2dca105f-b1b9-44e3-bfb6-7b13b0160928_jpg.jpg)
Pakar pertahanan dari Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam, Singapura, Collin Koh, berkomentar setelah melihat rekaman peluncuran pesawat dari Fujian. Ia memperkirakan Fujian masih terus menggelar uji coba. Setidaknya itu yang terlihat ketika pesawat tempur berat J-15T dan pesawat tempur siluman J-35 lepas landas dengan ketapel elektromagnetik tanpa senjata.
Sejak Liaoning diresmikan pada 2012, Angkatan Laut China relatif berhati-hati dalam mengerahkan kapal induk dan menjadikannya tempat uji coba saja. Liaoning dan Shandong sudah berlayar ke timur Jepang dan menuju Guam, lokasi pangkalan-pangkalan besar AS.
Berbahan bakar diesel, Fujian tidak memiliki daya jangkau sejauh kapal induk bertenaga nuklir AS yang mampu beroperasi selama bertahun-tahun tanpa perlu mengisi ulang bahan bakar. Semua kapal induk AS sudah bertenaga nuklir. Kemampuan itulah yang mendukung operasi laut lepas AS yang ekstensif.
Sejumlah analis memperkirakan, Fujian perlu mengisi ulang bahan bakar, baik di kapal maupun pelabuhan, setelah menempuh jarak 18.520 kilometer.
Laporan tahunan Departemen Pertahanan AS tentang modernisasi militer China yang dirilis Desember 2024 mencatat, Fujian dan kapal induk serupa di masa mendatang akan meningkatkan kekuatan militer China. Sebagian melalui pengerahan persenjataan elektronik dan pesawat antikapal selam.
Direktur Inisiatif Transparansi Maritim Asia Pusat Studi Strategi dan Internasional Greg Poling mengatakan, kapal induk penting bagi visi kepemimpinan China karena akan memungkinkan China menjangkau wilayah yang lebih jauh.
Bagi China, salah satu tujuannya adalah mendominasi perairan dekat Laut China Selatan, Laut China Timur, dan Laut Kuning di sekitar Rantai Pulau Pertama. Perairan itu membentang ke selatan melalui Jepang, Taiwan, dan Filipina.
Para ahli menduga China ingin merebut kendali Rantai Pulau Kedua yang lebih jauh di Pasifik. Di wilayah ini, AS juga mempunyai fasilitas militer penting, seperti di Guam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/07/e0e1140c-de6b-49db-8d9d-d0d257b4613e_jpg.jpg)
Komunitas internasional khawatir China akan bisa memblokade atau menginvasi Taiwan dengan kapal-kapal induknya. Bisa saja China menempatkan satu atau dua kapal induk di sekitar Rantai Pulau Kedua yang terletak di antara Taiwan dan markas Armada Pasifik AS di Hawaii.
Jika ini terjadi, akan susah bagi AS untuk membantu Taiwan apabila China menyerang. ”Salah satu peran kapal induk adalah memperluas jangkauan kesadaran domain China untuk mengawasi aktivitas di udara, di laut, dan di bawah laut,” kata Brian Hart, Wakil Direktur Proyek Kekuatan China di CSIS.
Hart juga menyinggung dugaan China sudah membangun kapal induk lain. Galangan kapal China mampu membangun lebih dari satu kapal sekaligus. China juga dengan cepat memproduksi kapal-kapal baru lainnya dan ini belum bisa ditandingi AS. China tampak sekali ingin mengatasi ketertinggalan dari AS.
Sampai sejauh ini, China masih tertinggal dari AS dalam hal kapal penjelajah, kapal perusak berpeluru kendali, dan kapal selam bertenaga nuklir. Selain peralatan, China kekurangan jaringan pangkalan luar negeri seperti yang dimiliki AS. Pangkalan ini penting untuk memasok kembali kapal induk dan menyediakan landasan pacu alternatif jika pesawat tidak dapat kembali ke kapal induk.
Namun, menurut analis di Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam Singapura, Tang Meng Kit, memiliki peralatan baru yang canggih tidak selalu berarti militernya siap bertempur. China belum pernah berperang sejak 1979 dan itu bisa jadi kelemahannya.
”Kemampuan militer China mungkin dilebih-lebihkan. Kesiapan operasional di dunia nyata tidak sama dengan kekuatan persenjataan yang selama ini dipamerkan di parade militer. China bukan hanya mau menguasai Taiwan, melainkan juga melawan negara-negara besar, menekan aktor regional, dan memperluas pengaruh globalnya,” ujarnya. (REUTERS/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar