Karena Tekanan Bertubi dari Israel, ”Nakba” Bayangi Warga Gaza

Sudah 77 tahun nasib rakyat Palestina tetap tak berubah. Jadi korban serangan militer Israel dan terusir. Upaya diplomasi untuk gencatan senjata pun belum ada hasil.

15 Mei 2025 20:30 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

JALUR GAZA, KAMIS — Meskipun mendapat tekanan dan kritik dari komunitas internasional, Israel tidak mengendurkan serangannya atas Gaza. Bahkan, tentara Israel terus menghajar wilayah itu dengan berton-ton bom udara. Sejak serangan balasan ke Gaza dimulai pada Oktober 2023, puluhan ribu warga sipil Gaza telah menjadi korban keganasan Israel.

”Blokade Israel telah melampaui taktik militer dan menjadi alat pemusnahan,” kata Pejabat Direktur Eksekutif Human Rights Watch Federico Borello, Kamis (15/5/2025).

Menurut lembaga itu, blokade penuh Jalur Gaza yang dimulai sejak 2 Maret lalu membuat wilayah tersebut menjadi area berbahaya. Hujan bom membuat sebagian besar Jalur Gaza tidak dapat dihuni. Pada saat yang sama, sekitar 2 juta penduduk Gaza harus berjejal di wilayah ”aman” yang kian menyempit.

Otoritas sipil dan kesehatan Gaza, Kamis, mengatakan, lebih dari 54 warga sipil tewas akibat serangan udara Israel. Serangan itu menghantam Khan Younis.

Warga Palestina memeriksa lokasi serangan Israel di Jabaliya, Jalur Gaza utara, Rabu (14/5/2025). Badan Pertahanan Sipil Gaza mengatakan, sedikitnya 29 orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam serangan Israel di wilayah Palestina yang dilanda perang pada 14 Mei.

Dalam serangan sebelumnya, lebih dari 70 warga sipil, sebagian di antaranya anak-anak, tewas dalam serangan di Gaza utara dan selatan. Di Jabaliya, Gaza utara, petugas penyelamat menghancurkan lempengan beton yang runtuh menggunakan peralatan tangan dengan cahaya ponsel sebagai penerangan untuk mengeluarkan jasad anak-anak (Kompas.id, 15 April 2025).

Niat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, untuk membasmi Hamas dan membuat koridor aman, membuat jutaan warga Gaza seolah menghadapi Nakba kedua. Bayang-bayang sejarah kelam pengusiran warga Palestina dari Gaza semakin nyata.

Kenangan Nakba

Pada 15 Mei 1948, 77 tahun yang lalu, desa tempat tinggal Saeed yang waktu itu berusia enam tahun di Beersheba diserang Israel. Seluruh keluarganya terpaksa mengungsi. Ibu Saeed menggendongnya saat melarikan diri dari serangan. Tujuannya, kota Gaza karena itu tempat perlindungan terdekat. Mereka tinggal di tenda-tenda darurat selama berhari-hari dan berharap bisa segera kembali ke rumah.

Saat itu mereka tidak tahu bahwa masa tinggal sementara itu akan berlangsung selama puluhan tahun. Kunci rumah Saeed kini berkarat dan berubah jadi simbol hak untuk kembali yang diwariskan dari generasi ke generasi selama 77 tahun dan masih akan terus berlanjut.

Pengalaman itu diceritakan oleh cucu Saeed, Ghada Abu Muaileq, mahasiswa Sastra Inggris dan Penerjemahan di Universitas Islam di Gaza, kepada Al Jazeera, Kamis (15/5/2025).

Sejak kecil, Muaileq selalu mendengar tragedi Nakba dari cerita-cerita kakeknya. Namun, sejak 2023, ia merasakan pengalaman kakeknya di ”Nakba Gaza”. Israel yang pernah mengusir kakeknya kini melakukannya lagi pada penduduk sipil yang terkepung dan hanya menuntut kebebasan dan martabat.

Lebih dari 82 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza. Ini memperparah jumlah korban yang sudah sangat banyak setelah 19 bulan pengeboman tanpa henti. Serangan di Gaza itu terjadi saat warga Palestina memperingati 77 tahun Nakba atau malapetaka, Kamis.

Pada Nakba tahun 1948, sedikitnya 750.000 warga Palestina diusir paksa oleh kelompok paramiliter Israel selama pembentukan Israel pada 1948. ”Israel mengintensifkan serangan udaranya di kawasan permukiman. Pesawat tempur Israel langsung menyerang sembilan rumah tanpa peringatan apa pun di kota Khan Younis,” kata Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera.

”Nakba” baru

Militer Israel dilaporkan melancarkan 13 serangan udara di kamp pengungsi Jabalia dan sekitarnya. Serangan terjadi ketika warga sedang tidur. Menurut Azzoum, serangan tersebut mencerminkan pola serangan yang tidak ditujukan pada target militer tetapi secara sistematis menghancurkan tatanan sosial Gaza.

Akibat serangan Israel yang bertubi-tubi, ribuan orang meninggalkan kota Gaza. Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi paksa secara tiba-tiba pada, Rabu. Sejak perang antara Israel dan Hamas dimulai, hampir seluruh dari 2,4 juta penduduk Gaza telah mengungsi setidaknya satu kali.

A Palestinian woman and children cross an metal gate set up by the Israeli army in Hebron, in the occupied West Bank, on May 13, 2025. Israel heavily restricts the movement of West Bank Palestinians, who must obtain permits from authorities to travel through checkpoints and cross into east Jerusalem or Israel. (Photo by HAZEM BADER / AFP)

Hasan Moqbel, warga yang mengungsi, menceritakan kepanikan dan ketakutan warga saat harus mengemasi barang-barang dan mencoba melarikan diri dari serangan. Warga membawa apa pun yang bisa dibawa dan tidak tahu harus lari ke mana. Warga Palestina khawatir dengan kemungkinan perluasan operasi darat Israel.

Militer Israel bisa memaksa warga untuk melarikan diri lagi ke daerah-daerah baru yang kondisinya lebih buruk. ”Tidak ada tempat yang aman bagi kami. Tempat-tempat yang jadi tempat perlindungan sudah dihancurkan bom-bom Israel. Tidak ada yang tersisa di Gaza. Anak-anak dan orang tua sekarat,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakhiri kunjungannya ke Qatar, Kamis. Ketika bertemu dengan Trump, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani mendesak Trump untuk menggunakan pengaruhnya guna membantu mewujudkan gencatan senjata di Gaza.

Demi melindungi warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak yang tidak bersalah serta memastikan pembebasan semua sandera, Qatar terlibat dalam diplomasi intensif untuk gencatan senjata. ”Gencatan senjata itu kunci bagi stabilitas kawasan dari Tepi Barat, Yaman, hingga Lebanon,” kata Al Thani saat jamuan makan malam dengan Trump.

Trump menegaskan kembali visi radikalnya untuk masa depan Gaza. Ia menyarankan AS mengambil alih kendali Gaza dan membangun kembali Gaza sebagai tujuan wisata. Beberapa bulan kemudian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pemerintahnya sedang berupaya mencari negara ketiga untuk menampung penduduk Gaza.

”Saya punya konsep untuk Gaza yang menurut saya sangat bagus. Jadikan itu zona kebebasan. Biarkan Amerika Serikat terlibat dan jadikan itu zona kebebasan. Saya akan bangga jika Amerika Serikat memilikinya, mengambilnya, dan jadikan itu zona kebebasan,” kata Trump.

Komentar Trump itu dikeluarkan saat Israel semakin gencar menyerang Gaza. Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengatakan ada potensi kesepakatan akan bisa dicapai dalam waktu dekat. Sementara itu, Israel tampaknya sedang menyiapkan dasar untuk eskalasi pararel di Tepi Barat yang diduduki.

Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, tokoh kunci dalam koalisi sayap kanan Israel, secara terbuka menyerukan pasukan militer untuk menghancurkan kota-kota dan desa-desa Palestina di Tepi Barat, menggemakan kehancuran di Gaza.

”Sama seperti kita meratakan Rafah, Khan Younis, dan Gaza, kita harus meratakan pusat-pusat teror,” kata Smotrich, merujuk secara khusus ke desa Palestina, Bruqin, tempat seorang pemukim Israel tewas, Rabu malam.

Pasukan Israel melancarkan serangan baru di seluruh Tepi Barat yang diduduki, Kamis dini hari. Israel menyerbu kota-kota dan kamp-kamp pengungsi termasuk Tubas, Nablus, Bethlehem, dan Dura. Serangan Israel itu dibenarkan karena katanya untuk membasmi kelompok bersenjata Palestina. Dengan alasan itu, Israel menyasar kamp pengungsi di Tepi Barat dan memerintahkan evakuasi militer serta membongkar rumah-rumah.

Warga di kamp-kamp Qalandiya, Ya’bad, Fawwar, dan Askar juga melaporkan penggerebekan rumah, penangkapan, dan penyiksaan. ”Hidup kami di Gaza menjadi Nakba yang panjang. Kehilangan orang-orang terkasih, rumah kami hancur, mata pencarian kami hilang. Sejarah terulang kembali,” kata Moamen al-Sherbini, warga Khan Younis di Gaza Selatan.

Palestinians struggle to get donated food at a community kitchen in Jabalia, northern Gaza Strip, Thursday, May 15, 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Malak Radwan (36), warga Nuseirat, mengatakan, Hari Nakba bukan lagi sekadar kenangan, melainkan kenyataan sehari-hari yang dialami di Gaza. Rumahnya sudah hancur, tinggal tumpukan batu. Tak ada lagi tempat berteduh. Para pengungsi Palestina tetap menuntut kembali ke desa-desa dan kota-kota yang ditinggalkan pada tahun 1948 yang kini berada di dalam wilayah Israel.

”Hak untuk kembali” tetap menjadi isu inti dalam negosiasi yang telah lama terhenti antara Israel dan Palestina. Wasel Abu Yusef, anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina, mengatakan, sampai kapan pun, warga Palestina akan tetap memperjuangkan hak mereka untuk kembali. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan