Karhutla di Area Konsesi Tetap Tinggi meski Kondisi Kemarau Basah

Meski tahun ini musim masuk kategori kemarau basah, luas area kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di area konsesi tercatat masih tinggi.

15 Sep 2025 18:29 WIB · Lingkungan

Oleh Pradipta Pandu Mustika

JAKARTA, KOMPAS — Meski tahun ini musim masuk kategori kemarau basah, luas area kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di area konsesi tercatat masih tinggi. Karhutla tersebut tersebar di area konsesi hak guna usaha perkebunan sawit, minyak dan gas, mineral dan batubara, serta perizinan berusaha pemanfaatan hutan di seluruh Indonesia.

Berdasarkan analisis dari Madani Berkelanjutan, sepanjang Januari-Agustus 2025 area indikatif terbakar (AIT) di berbagai wilayah di Indonesia mencapai 218.000 hektar. AIT merupakan pendekatan untuk melihat pergerakan karhutla dengan memodelkan titik panas tertentu menjadi area yang patut diduga sedang atau telah terbakar

Dari jumlah tersebut, kebakaran seluas 212.000 hektar terjadi di area yang tidak berulang di lokasi yang sama. Hal ini berarti karhutla menyebar dan meluas selama periode tersebut.

Selain itu, tercatat seluas 89.330 hektar kebakaran tersebar di sejumlah area konsesi. Khusus di ekosistem gambut, Pantau Gambut mengidentifikasi 9.336 titik api di area hak guna usaha dan perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH) pada periode yang sama.

Kebakaran gambut di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (27/5/2025).

Madani Berkelanjutan juga mencatat 99.099 hektar lahan telah terbakar pada Juli 2025. Luasan ini hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 53.973 hektar.

Padahal, kondisi kemarau tahun 2023 lebih parah karena terdapat fenomena El Nino. Lonjakan hingga empat kali lipat juga terjadi pada titik panas di kesatuan hidrologis gambut.

Pada Juli 2025, data Pantau Gambut menunjukkan PT SRL tercatat sebagai pemilik konsesi PBPH dengan area karhutla terluas di kesatuan hidrologis gambut 4.787 hektar. Sementara untuk konsesi hak guna usaha, PT SUM 2 mendominasi kasus kebakaran dengan 260,5 hektar di area kesatuan hidrologis gambut.

Peneliti Pantau Gambut Juma Maulana menyampaikan, karhutla saat ini bukan terjadi pada kondisi anomali iklim. Sebagaimana diketahui, anomali iklim seperti El Nino kerap disebut sebagai pemicu utamanya terjadinya karhutla seperti tahun 2015, 2019, dan 2023.

”Tahun ini BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) menyebut terjadi kemarau basah. Namun, angka kebakaran pada Juli, khususnya di lahan gambut, masih tinggi dan 56 persen terjadi di area konsesi. Kebakaran juga terjadi di lahan mineral seperti di Nusa Tenggara Timur,” ujarnya, dalam diskusi media, di Jakarta, Senin (15/9/2025).

Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyegel lokasi kebakaran lahan di area perusahaan sawit di Kalimantan Selatan pada 8 Agustus 2025.

Menurut Juma, perusahaan yang telah mendapat izin konsesi di lahan gambut umumnya akan menebang hutan untuk menjalankan aktivitas usahanya lalu membuat kanal. Akibatnya, air di permukaan akan masuk ke kanal sehingga menjadikan lahan gambut kering dan mudah terbakar.

Quote

Tahun ini BMKG menyebut terjadi kemarau basah. Namun, angka kebakaran pada Juli, khususnya di lahan gambut, masih tinggi dan 56 persennya terjadi di area konsesi.

”Alih fungsi lahan gambut masih tinggi. Kami mencatat sepanjang Januari sampai Agustus 2025 ada kurang lebih 170.000 hektar lahan gambut yang telah kehilangan tutupan pohon. Sebarannya banyak di Sumatera dan Kalimantan,” katanya.

Sebaran wilayah karhutla

Madani Berkelanjutan mencatat, di tingkat provinsi, Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan lonjakan karhutla tertinggi pada periode Juli-Agustus 2025. Dalam dua bulan, AIT di area ini naik dari 1.300 hektar pada Juni menjadi 40.000 hektar pada bulan Agustus. Tren kenaikan karhutla juga ditemukan pada area kesatuan hidrologis gambut.

AIT tertingi berada di Kabupaten Sanggau (Kalbar) yang mencapai 23.000 hektar. Sementara AIT terluas kedua berada di Kabupaten Sumba Timur (Nusa Tenggara Timur) mencapai 14.000 hektar dan disusul Kabupaten Landak (Kalbar), yakni 12.000 hektar.

Spesialis Sistem Informasi Geospasial (GIS) Madani Berkelanjutan Fadli Naufal menyatakan, secara nasional kebakaran di wilayah NTT berada di urutan kedua setelah Kalbar. Wilayah NTT tidak memiliki lahan gambut dengan tutupan didominasi oleh padang rumput dan savana. Kondisi ini membuat durasi kebakaran relatif cepat dibandingkan di lahan gambut.

”Kebakaran gambut pada 2019 dan 2015 bisa bertahan lebih dari satu atau bahkan tiga hari. Sementara karakteristik kebakaran di NTT reaktif cepat karena faktor tutupan lahan. Jadi, setiap kejadian karhutla memiliki variasi yang berbeda di setiap wilayah,” ujarnya.

Sementara berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas karhutla sejak Januari-Agustus 2025 mencapai 213.984 hektar yang terdiri dari 24.211 hektar di lahan gambut dan 189.772 hektar di lahan mineral. Adapun wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak meliputi NTT, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Kalbar, dan Riau.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dalam keterangannya, memastikan kebakaran hutan di sejumlah wilayah, khususnya Riau serta Kalbar, berhasil dikendalikan dan memasuki status transisi.

Upaya pengendalian kebakaran hutan tersebut melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisik, TNI, Polri, dan Manggala Agni.

”Meski kebakaran di Riau dan Kalbar berhasil dikendalian, kewaspadaan perlu terus ditingkatkan. Penanganan karhutla dibantu oleh sinergi sektor daratan, udara, serta modifikasi cuaca,” ungkapnya.

Upaya lain untuk melindungi area hutan yakni melalui peningkatan kapasitas Manggala Agni. Selama ini Manggala Agni berperan penting dalam mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan. Peningkatan kapasitas diharapkan membuat Manggala Agni mampu memperkuat teknik pemadaman, patroli, dan manajemen operasi taktis. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Pradipta Pandu Mustika
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase