Sebanyak 7 dari 10 atau 70 persen profesional di Indonesia menyatakan akan mencari pekerjaan baru pada 2025, lebih tinggi dibanding rata-rata global 58 persen.
18 Jan 2025 09:00 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Sebanyak tujuh dari 10 karyawan di Indonesia dan memiliki akun di LinkedIn menyatakan ingin mencari pekerjaan baru pada 2025. Keinginan mereka ini harus terbentur dengan proses mencari pekerjaan baru yang semakin menantang.
LinkedIn Career Expert, Serla Rusli, Jumat (17/1/2025), di Jakarta, mengatakan, tahun baru biasanya membawa harapan baru bagi banyak profesional atau pekerja kerah putih untuk mengejar peluang pekerjaan baru.
Data riset LinkedIn terbaru menunjukkan, tujuh dari 10 atau 70 persen profesional pengguna akun LinkedIn di Indonesia menyatakan akan mencari pekerjaan baru pada 2025.
Profil ini lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 58 persen. Hampir 69 persen pencari kerja di Indonesia terbuka terhadap peran-peran baru. Sesuai laporan ”Jobs on the Rise” yang dirilis baru-baru ini oleh LinkedIn, Serla menyebutkan, pada 2025 terdapat peningkatan pencarian pekerjaan di bidang teknik keamanan, perjalanan, dan pelayanan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/11/02/18e64f59-3a37-4191-bb21-5a5abe6883fd_jpg.jpg)
Ada 10 bidang pekerjaan yang mengalami pertumbuhan pencarian paling cepat di Indonesia sesuai versi laporan ”Jobs on the Rise” LinkedIn. Bidang pekerjaan itu ialah konsultan perjalanan, insinyur keamanan siber, analis pusat operasi keamanan, terapis perilaku, serta direktur makanan dan minuman.
Lainnya ialah manajer akun penjualan, insinyur BIM, pelatih pribadi, insinyur perpipaan, dan modeler BIM (orang yang membuat dan memelihara model 3D proyek konstruksi menggunakan Building Information Modelling/BIM).
Rata-rata karyawan Indonesia yang ingin pindah kantor menghabiskan waktu hingga 4 jam per minggu untuk mengirim lima lamaran pekerjaan.
”Bidang-bidang pekerjaan seperti itu bisa dimaknai bahwa sektor bisnis di Indonesia sudah kembali normal pascapandemi Covid-19. Situasinya seperti banyak negara lain alami,” ucap Serla.
Meski keinginan mencari pekerjaan baru tergolong tinggi, proses pencarian pekerjaan kini semakin menantang. Rata-rata karyawan Indonesia yang ingin pindah kantor menghabiskan waktu hingga 4 jam per minggu untuk mengirim lima lamaran pekerjaan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/11/ce25e1c4-dd94-4b97-a52a-b65c3687127b_jpg.jpg)
Sebanyak 42 persen karyawan yang berlatar belakang generasi milenial dan Z percaya bahwa semakin banyak lamaran yang dikirimkan, semakin besar peluang mereka mendapatkan pekerjaan.
Akan tetapi, strategi seperti itu menjadi bumerang. Sebab, 43 persen di antara karyawan tersebut mengaku malah tidak mendapatkan balasan.
Sebanyak 59 persen pencari kerja di Indonesia pernah tidak mendapatkan respons apa pun setelah mengirimkan lamaran atau dihubungi oleh tim perekrut.
”Sesuai riset LinkedIn, sebanyak 59 persen pencari kerja di Indonesia pernah tidak mendapatkan respons apa pun setelah mengirimkan lamaran atau dihubungi oleh tim perekrut,” kata Serla.
Di tengah pasar kerja yang semakin kompetitif, ia melanjutkan, mengirimkan lamaran pekerjaan yang terlalu banyak tidak akan membuahkan hasil. Akibatnya, pencari kerja menjadi kecewa ketika menerima respons yang minim atau tidak mendapatkan balasan oleh para perekrut.
Dengan semakin banyaknya orang yang mencari pekerjaan pada tahun 2025, para profesional di Indonesia harus bisa beradaptasi. Mereka disarankan perlu mengambil pendekatan baru dan lebih strategis dalam melamar pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan sehingga mereka dapat tampil lebih menonjol.
”Menghadapi pasar tenaga kerja saat ini memang sulit, butuh kemauan untuk terus beradaptasi sehingga bisa meraih lebih banyak peluang untuk mengembangkan karier. Sekarang, pencari kerja juga perlu menonjolkan keterampilan nonteknis, seperti kemampuan beradaptasi dan komunikasi, selama proses perekrutan. Jadi, mulai luangkan waktu untuk membangun keterampilan itu,” imbuh Serla.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/23/52acb119-497d-4b83-b5f2-e5f4102ef191_jpg.jpg)
Pada hari yang sama, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli, saat membuka Pesta Wirausaha Nasional 2025 yang digagas oleh Komunitas Pengusaha Tangan di Atas di Jakarta, mengatakan, ada sejumlah sektor industri yang mengalami konstraksi sehingga memicu terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Di sisi lain, ada sejumlah sektor industri yang masih tumbuh dan berpeluang menciptakan inovasi-inovasi bisnis baru. Akan tetapi, dia tidak mengelaborasi lebih lanjut sektor industri yang dimaksud.
”Ekonomi Indonesia tengah berada di persimpangan antara kontraksi dan pertumbuhan. Kata kuncinya ialah terus beradaptasi dan berinovasi,” ujarnya.
Yassierli juga menyoroti permasalahan tingkat pengangguran terbuka atau TPT yang saat ini masih sekitar 4,9 persen. Salah satu program Kemenaker untuk mengatasi masalah tersebut ialah program Tenaga Kerja Mandiri (TKM) yang berisi paket-paket wirausaha.
Dia berharap, untuk mengatasi beragam persoalan pasar kerja, termasuk PHK dan pengangguran, kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci.
”Mengatasi permasalahan ketenagakerjaan adalah tanggung jawab berat. Namun, jika semua pemangku kepentingan, termasuk institusi, komunitas, dan entitas bisnis, berkolaborasi, bisa lebih mudah menyelesaikannya,” kata Yassierli.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/09/09631660-e940-4ee1-bcaf-bd93b082fba3_jpg.jpg)
Sebelumnya, Direktur Kelembagaan dan Pencegahan Perselisihan Hubungan Industrial Kemenaker C Heru Widianto menyebutkan, jumlah pekerja yang mengalami PHK sepanjang Januari -Desember 2024 mencapai lebih kurang 80.000 orang.
Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan total pekerja ter-PHK sepanjang 2023 yang sekitar 60.000 orang. Mereka berasal dari berbagai sektor industri.
Data yang dimiliki Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), ia melanjutkan, menunjukkan angka kesempatan kerja sebenarnya masih banyak. Pemerintah melalui Kemenaker juga belakangan gencar menggandeng sejumlah perusahaan untuk menggelar bursa kerja.
Hanya saja, sejalan dengan ketidakpastian ekonomi, ada fenomena mengenai jumlah angkatan kerja setiap tahun yang terus naik (Kompas.id, 23/12/2024).
Penulis:
Caecilia MedianaEditor:
FX Laksana Agung Saputra