Keinginan menabung menjadi alasan terbanyak warganet menjalani hidup frugal. Meski demikian, ada juga yang beralasan ingin mencapai stabilitas keuangan.
10 Mar 2025 06:00 WIB · Investigasi
Oleh Margaretha Puteri Rosalina, Maria Paschalia Judith Justiari, R Albertus Krisna Pratama P., Pandu Wiyoga
Proporsi tabungan yang kian menipis membuat warganet menempuh frugal living alias hidup hemat. Mereka berharap dapat menekan pengeluaran yang bersifat konsumtif agar ada uang yang mengalir ke pundi-pundi tabungan.
Keinginan menabung menempati posisi teratas alasan warganet menjalani hidup hemat. Proporsinya sebesar 29,8 persen. Di posisi kedua, warganet memilih hidup hemat lantaran hendak coba-coba (12,6 persen). Alasan selanjutnya situasi ekonomi (10,6 persen), ingin bebas dari utang dan mencapai stabilitas keuangan (10,6 persen), serta demi ketenangan dan keseimbangan hidup (9,3 persen).
Alasan-alasan itu mengemuka dari data Monitoring Media Litbang Kompas terhadap 151 konten media sosial X, Tiktok, Instagram, dan Youtube sepanjang Januari hingga pertengahan Februari 2025. Konten yang dikaji memuat kata ”frugal living”.
Hidup hemat demi mengisi tabungan yang mengemuka di warganet sejalan dengan temuan Tim Jurnalisme Data Harian Kompas. Proporsi tabungan masyarakat dalam dua tahun terakhir cenderung menurun.
Penurunan itu tampak dari posisi proporsi tabungan per Januari 2025 sebesar 15,3 persen dari total pengeluaran menurut Survei Konsumen Bank Indonesia. Angka itu lebih kecil dibandingkan dengan posisi pada Desember 2024 ataupun pada Januari 2024 yang masing-masing sebesar 15,5 persen dan 16,2 persen. Adapun per Januari 2023, proporsinya 16,7 persen.
Sementara itu, Kompas juga menghitung pertumbuhan tabungan yang sempat melambat dan simpanan berjangka (deposito) dari data dana pihak ketiga bank umum Otoritas Jasa Keuangan. Posisi tabungan pada akhir 2022 berkisar Rp 2.422 triliun atau tumbuh 7 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Nilai itu tumbuh 2,7 persen pada tahun 2023 dan 6,7 persen pada tahun 2024 menjadi Rp 2.854 triliun.
Meskipun demikian, pertumbuhan deposito cenderung melambat. Posisi deposito per akhir 2022 senilai Rp 2.645 triliun atau naik 2,3 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sempat meningkat 5,3 persen pada tahun 2023, deposito di bank umum tumbuh melambat sebesar 2,5 persen pada tahun 2024 menjadi Rp 2.854 triliun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/08/22/3136d75e-02f5-432a-8ded-788436e0600d_jpg.jpg)
Upaya meningkatkan tabungan dengan hidup hemat dilakoni Maskel (26), perawat sebuah rumah sakit swasta di Kabupaten Tangerang, Banten. Setahun terakhir, dia mengurangi pengeluaran untuk makanan dan pakaian. Dia ingin mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan yang akan berlangsung tahun ini.
Dalam sebulan, pengeluaran makanan Maskel sekitar Rp 800.000. Ia berhemat dengan cara memasak sendiri makan pagi dan malamnya. Adapun makan siang, ia mendapatkannya dari rumah sakit. Ia dan pasangan bahkan bertekad untuk tidak jajan di luar saat akhir pekan dan memilih makan dari hasil masakan sendiri.
”Biasanya setiap Minggu, saya dan pasangan masak bareng. Kami gantian belanja setiap pekan. Masakannya disimpan di kulkas untuk seminggu ke depan. Ini (memasak) kan sambil nyelengi (nabung),” kata Maskel, Selasa (25/2/2025).
Dia juga mengurangi anggaran untuk membeli pakaian untuk menambah modal pernikahan.
Menurut dia, pernikahan memerlukan biaya yang banyak meski hanya berupa pesta sehari. Karena itu, ia dan pasangan mulai mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari hasil menghemat pengeluaran masing-masing.
Hasil menghemat dari dua pos pengeluaran tersebut tidak sekadar disimpan Maskel dalam bentuk tabungan tunai. Dalam lima tahun terakhir, dia mulai berinvestasi emas dan reksadana.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/08/28/0b6d98a5-0fc9-455a-b866-ab2007b43b2c.jpg)
Pasangan suami istri Samuel Ray (36) dan Claudya (36), warga Tangerang Selatan, memutuskan hidup hemat untuk mencapai kemandirian finansial tanpa harus bekerja atau financial indepence retired early (FIRE). Tujuan tersebut dilakukan mereka setelah berhasil mencapai beberapa tujuan jangka pendek berhemat, seperti untuk biaya pernikahan, membeli rumah dan mobil.
Pasutri tersebut berhasil mencapai tujuan mencapai kemandirian finansial sekitar dua tahun terakhir. Sekarang, keduanya, sepenuhnya mengandalkan penghasilan dari media sosial Youtube dan Instagram-nya. Walaupun penghasilannya tak tetap, mereka menikmati kebersamaan dengan keluarga yang tidak mudah didapat saat mereka keduanya bekerja formal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/04/1ac23fc4-9c9e-4177-8d14-b54c58e9c67c_jpg.jpg)
”Kami ada waktu manis bersama anak. Kami bisa antar-jemput anak, di siang hari, bisa makan bareng dan olahraga sama anak,” ujuar Samuel.
Dalam beberapa video Youtube-nya, keduanya berbagi informasi dan pengetahuan mengenai kemerdekaan finansial, seperti menetapkan tujuan, membuat anggaran keuangan, hingga tips hidup frugal.
Langkah-langkah hidup hemat ala Claudya dan Samuel mirip dengan pendapat warganet yang dihimpun dari data Monitoring Kompas. Sebanyak 92,7 persen dari 82 konten menyatakan menjalani hidup hemat dengan mengelola keuangannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/09/14e36cc3-1715-4fcf-b74a-751b9e07e3ff_png.png)
Jika Samuel dan Claudya menjalankan hidup frugal secara sukarela sebagai bentuk capaian kemapanan. Lain halnya dengan Alia (36), pekerja swasta yang kena PHK Oktober 2024 lalu.
Ia terpaksa berhemat karena kondisi ekonomi. Gaya hidup versi Alia ini juga dilakukan oleh 10,6 persen warganet. Alia saat masih bekerja sebagai business development manager punya gaji belasan juta rupiah. Namun, kini setelah jadi pekerja lepas, gaji dia turun menjadi di bawah Rp 5 juta.
”Pengeluaran yang paling bisa aku cut itu soal entertainment, misalnya makan di luar. Kalau dulu aku cari kesenangan yang bayar, sekarang cari yang gratis aja, kaya jalan-jalan liat tumbuh-tumbuhan udah cukup. Yang penting bisa recharge energy,” kata Alia, Kamis (13/2/2024).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/02/d486e25737bb853c524f02d10772e1ef-DSC08407.jpg)
Mengirit karena kondisi juga dilakukan Iyus (40). Ayah dua anak yang sebelumnya bekerja sebagai digital project manager bidang teknologi informasi itu menjual mobil dan beralih ke transportasi umum setelah kena PHK pada Mei 2024.
Selain itu, dia juga menjual salah satu dari dua rumah yang dimiliki. Segala macam cara dilakukan Iyus dan keluarga untuk menekan pengeluaran agar pendidikan anak tidak terganggu. ”Sejelek apa pun ekonomi orangtuanya, anak-anak harus dapat pendidikan yang layak,” ucapnya, Senin (17/2/2024).
Untuk mengikuti liputan tema ini selengkapnya, kami mengajak Anda bergabung dalam grup Whatsapp Pembaca Kompas ”Investigasi & Jurnalisme Data” dengan mengeklik tautan link ini.
Kami juga ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei lewat berikut ini.
Penulis:
Margaretha Puteri Rosalina, Maria Paschalia Judith Justiari, R Albertus Krisna Pratama P., Pandu WiyogaEditor:
Andy Riza Hidayat, Margaretha Puteri RosalinaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .