Kawasan Kumuh di Jakarta Ditata secara Bertahap

Penataan ini menyoroti perbaikan infrastruktur dasar, seperti saluran air, renovasi balai warga, dan pemasangan kamera pemantau.

16 Mei 2025 18:47 WIB · Metro

Oleh Atiek Ishlahiyah Al Hamasy

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah Provinsi Jakarta akan menata 161 RW kumuh secara bertahap sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup warga. Penataan ini menyoroti perbaikan infrastruktur dasar, seperti saluran air dan renovasi balai warga. Selain itu, pemasangan kamera pemantau terintegrasi juga diprioritaskan untuk memperkuat keamanan lingkungan.

Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Jakarta mencatat 284 dari 445 RW kumuh di Jakarta sudah dibenahi hingga 2024 sehingga tersisa 161 kawasan yang menunggu dibenahi. Data tersebut mengacu pada statistik Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 yang menjadi acuan target program penataan kawasan kumuh oleh Pemprov Jakarta.

Sekretaris DPRKP Jakarta Meli Budiastuti mengungkapkan, pada 2025 ini pemerintah akan kembali menata 55 RW kumuh secara bertahap dengan sisanya akan dilanjutkan pada 2026 dan seterusnya.

”Sesuai data BPS bahwa terdapat 445 RW kumuh yang menjadi target penataan Pemprov Jakarta. Sampai 2024 sebanyak 284 RW telah ditangani. Tahun ini akan dilanjutkan pada 55 RW dan sisanya akan diatasi secara bertahap,” ujar Meli, Jumat (16/5/2025).

Kawasan kumuh di Jakarta merupakan salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas hidup warganya. Secara umum, kawasan ini ditandai oleh kondisi permukiman yang padat, bangunan yang tidak layak huni, serta minimnya akses terhadap fasilitas dasar, seperti air bersih, sanitasi, dan infrastruktur jalan.

Aktivitas warga di kawasan Jalan Jati Bunder, Tanah Abang, Jakarta, Rabu (8/1/2025). Penataan permukiman kumuh dan penyediaan hunian layak menjadi salah satu janji Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Pramono Anung-Rano Karno. Pasangan itu menjanjikan Jakarta sebagai kota layak huni dengan jangkauan angkutan umum dan sanitasi yang memadai. Saat ini penataan RW kumuh sudah dilaksanakan pada 282 RW dari 445 RW sasaran. Penataan untuk peningkatan kualitas permukiman itu meliputi aspek fisik lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi masyarakat. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 08-01-2025

Kepadatan penduduk yang tinggi di kawasan kumuh sering menyebabkan ketidakteraturan tata ruang, dengan ciri rumah-rumah berdempetan tanpa sirkulasi udara yang baik.

Di samping itu, banyak kawasan kumuh yang kekurangan akses air bersih. Warga sering mengandalkan sumur dangkal atau sumber air yang tidak terjamin kebersihannya sehingga rawan menyebabkan masalah kesehatan. Keterbatasan ini menjadi salah satu indikator utama penetapan kawasan sebagai kumuh dan menjadi fokus perbaikan dalam program penataan permukiman.

Salah satu fokus penataan kawasan kumuh pada tahun ini adalah RW 001 Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Di kawasan tersebut akan dilakukan perbaikan saluran air, pembangunan mandi cuci kakus (MCK) komunal, dan renovasi balai warga.

Selain itu, warga juga mengajukan pembangunan ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) agar dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sekitar.

Dalam upaya penataan kawasan kumuh, Pemprov Jakarta juga berencana membangun rumah susun (rusun) di Jakarta Utara pada 2025. Pembangunan rusun ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan kawasan padat penduduk dan permukiman kumuh yang ada di wilayah tersebut.

Gubernur Jakarta Pramono Anung mengatakan bahwa penataan kawasan kumuh dilakukan secara proaktif dengan memperhatikan aspek sosial dan ekonomi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.

”Kami tidak akan menggusur rumah warga. Kegiatan ekonomi masyarakat harus tetap berjalan dengan baik selama penataan,” ujar Pramono.

Sejumlah anak berjalan dengan latar belakang pemukiman kumuh di samping Kali Ciliwung, Kawasan Jatinegara, Jakarta, Senin (5/8/2024). Pemerintah DKI Jakarta menargetkan pada tahun 2027 penataan RW kumuh dapat terselesaikan. Target itu tertuang pada rancangan peraturan daerah (Raperda) rencana tata ruang wilayah (RTRW) DKI Jakarta Tahun 2024-2044. Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat, masih terdapat 450 Rukun Warga (RW) kumuh, atau 16,39 persen dari 2.744 RW di Jakarta. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 05-08-2024

Menyewa CCTV

Dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan padat penduduk, Pemprov Jakarta akan menerapkan sistem penyewaan kamera pemantau (CCTV) di kawasan tersebut. Menurut Pramono, opsi menyewa CCTV lebih efisien dan hemat dibanding membeli unit baru sekaligus mempermudah pengadaan dan pemeliharaan.

”Kalau beli, biaya maintenance (pemeliharaan) lebih mahal dan pengadaannya rumit. Dengan sewa, jaringan sudah ada dan tinggal diaktifkan. Waktu pengadaannya pun hanya lima sampai enam bulan, lebih cepat dibanding beli sendiri,” katanya.

Pramono menambahkan, CCTV ini tidak hanya berfungsi memantau tindak kriminal, tetapi juga untuk mencegah peredaran narkoba dan tindakan perundungan (bullying) di lingkungan permukiman. Sistem pengawasan akan terintegrasi secara menyeluruh, tidak hanya dipasang sporadis berdasarkan wilayah administratif terkecil, seperti RT dan RW.

”Dengan adanya CCTV, warga akan merasa lebih aman dan nyaman. Anak-anak dapat terlindungi dari bullying dan peredaran narkoba bisa terdeteksi dengan cepat,” tambahnya.

Selain penataan kawasan kumuh dan pengamanan, Pramono juga akan merevitalisasi kembali RPTRA, salah satunya RPTRA Kalijodo. Taman yang pernah menjadi pusat aktivitas masyarakat dan revitalisasi di era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama ini akan diperbaiki dalam waktu enam bulan ke depan agar dapat kembali difungsikan secara optimal.

Pramono telah menugasi Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Fajar Sauri untuk memperbaiki dan mengelola RPTRA Kalijodo sebagai ruang publik yang bermanfaat.

”Kami ingin RPTRA Kalijodo bisa digunakan kembali sebagai tempat olahraga, berteater, berpuisi, bermain musik, dan berbagai aktivitas positif lainnya,” ujar Pramono.

Foto udara Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Jagakarsa, Jakarta, Kamis (8/5/2025). Rumah susun sewa ini telah diresmikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Rano Karno pada Kamis. Rusunawa yang memiliki tiga tower ini memiliki 16 lantai. Jumlah unit yang tersedia di rusunawa ini sebanyak 723 unit hunian. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen terus membangun rusunawa untuk menyediakan hunian yang layak bagi masyarakat. Pembangunan rusunawa selanjutnya akan dilakukan di Rorotan, Padat Karya, dan revitalisasi Rusun Marunda. Para calon penghuni dapat mendaftarkan diri di aplikasi Sistem Informasi Perumahan dan Permukiman (Sirukim) untuk tinggal di Rusunawa Jagakarsa. Setiap unit memiliki harga sewa yang beragam, mulai dari harga sewa Rp 865.000 sampai Rp1.8 juta per bulan.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
08-05-2025

Pemetaan ulang

Koordinator Komisi D DPRD Jakarta Wibi Andrino meminta Pemprov Jakarta memetakan ulang kawasan kumuh berdasarkan data terbaru. Masih banyak wilayah kumuh yang tidak terdata dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 90 Tahun 2018 tentang Peningkatan Kualitas Permukiman dalam Rangka Penataan Kawasan Permukiman Terpadu.

Namun, di sisi lain, ia setuju bahwa penataan kawasan kumuh harus didasarkan pada skala prioritas dan dilaksanakan dengan pendekatan terpadu tanpa menggusur.

”Pemprov harus segera lakukan pemetaan ulang wilayah kumuh dan menetapkan prioritas penanganan. Program seperti kampung susun yang tidak menggusur warga perlu dijalankan,” kata Wibi.

Wibi juga menegaskan pentingnya penyediaan air bersih, sanitasi layak, dan legalisasi lahan sebagai bagian dari solusi permanen penanganan kawasan kumuh.

Anggota Komisi D DPRD Jakarta, Bun Joi Phiau, menyebutkan bahwa tingginya permintaan hunian menjadi penyebab utama banyaknya permukiman kumuh di Jakarta. Ia juga mendorong Pemprov Jakarta untuk melakukan penataan ulang kawasan permukiman dan membangun rusun di wilayah padat penduduk Jakarta.


Kerabat Kerja

Penulis:

Atiek Ishlahiyah Al Hamasy
 | 

Editor:

Harry Susilo