Kisah anak-anak Palestina terhalang pagar berduri untuk menuju sekolahnya.
16 Apr 2026 11:45 WIB · Internasional
AP/Mahmoud Illean
Melewati puing-puing reruntuhan bangunan untuk menuju sekolah mungkin hal yang biasa bagi anak-anak pengungsi yang tinggal di Gaza, juga kota-kota lain di Palestina. Paling tidak itu mulai mereka lakukan sejak kota mereka rata dengan tanah, karena serangan Israel.
Namun, yang terjadi Senin (13/4/2026) membuat Hajar dan Rashid Hathaleen, dua kakak beradik pengungsi Palestina yang menuju sekolah, terkejut. Pagar kawat berduri panjang terpasang melingkar di sepanjang tempat tinggal mereka dan lingkungan Charmel, yang menjadi tempat tinggal pemukim Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/16/57123679-a4ba-41f9-8131-581438caa28a.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/16/52d609c3-12f3-4c18-8e74-3a7044644b55.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/16/07716291-66ed-402b-be4f-1e66d2cbd660.jpg)
Siswa Palestina berjalan ke sekolah menggunakan rute alternatif hampir dua kali lebih panjang karena pagar memisahkan desa mereka dari permukiman Israel terdekat Carmel, dekat desa Tepi Barat Umm al-Khair, Selasa (14/4/2026).
AP/MAHMOUD ILLEAN
Anak-anak Palestina menghadiri kelas di dalam tenda di Sekolah Pendidikan Mada di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara pada Senin (13/4/2026).
AFP/Omar AL-QATTAA
Siswa Palestina berjalan ke sekolah melewati tepi pemukiman Israel Carmel dekat desa Tepi Barat Umm al-Khair, Selasa (14/4/2026).
AP/Mahmoud Illean
Pagar itu menghalangi perjalanan dari rumah mereka di perbukitan menuju pusat Desa Umm al-Khair. Pagar kawar berduri itu menghalangi usaha kedua kakak beradik untuk mengikuti kelas yang baru pertama dibuka setelah dihentikan saat Israel dan AS menyerang Iran.
Seperti di Israel, anak-anak Palestina tinggal di rumah sebelum gencatan senjata pekan lalu karena ancaman jatuhnya puing-puing rudal menyebabkan sekolah-sekolah ditutup. Dari video yang beredar, pemasangan pagar itu terjadi malam hari.
Khalil Hathaleen, kepala dewan desa dan anggota keluarga besar yang membentuk sebagian besar populasi Umm al-Khair, mengatakan Israel memanfaatkan perang Iran sebagai kedok untuk memperkuat cengkeraman dan penguasaan atas wilayah itu. Para pemukim Israel memanfaatkan perang untuk merebut tanah, menebang kebun zaitun, dan menyerang desa-desa yang dihuni warga Palestina pada malam hari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/16/38be9ffb-6ad3-4fb9-8350-db9f246ca5b1.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/16/982ce6f9-4909-4d90-b817-130f40ade2b0.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/16/7e6cc701-1a12-4557-a509-5793adfa62db.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/16/facfb22a-4a91-4515-a89a-c9fc518faea0.jpg)
Pada hari Senin, Hajar dan saudara laki-lakinya, Rashid, serta teman-teman sekolahnya menunggu di dekat bendera Israel yang berada di sekitar pagar kawat berduri di sebuah perbukitan. Mereka menunggu orangtua dan pemimpin desa yang akan meminta agar mereka diizinkan lewat menuju sekolah.
Namun, rombongan Hajar dan Rashid justru diserang dengan semburan gas air mata dan granat suara yang dilemparkan oleh orang-orang bersenjata dari truk putih tanpa tanda pengenal. Beberapa tentara berseragam berada di truk itu. Militer mengatakan menggunakan ”cara pembubaran kerusuhan” di Carmel untuk orang-orang dewasa, bukan anak-anak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/16/d8df0b3f-a479-4c07-adb1-7d712cfc599e.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/16/4d7d74a1-453a-440a-837a-8a54f479742b.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/16/31ac6ebc-0a5d-4502-99eb-b9e79b473b3e.jpg)
Suku Badui dan penduduk desa lainnya telah menggunakan jalan setapak sepanjang 3 kilometer dari lingkungan Khirbet Umm al-Khair ke pusat desa selama beberapa dekade. ”Kami bertekad untuk mempertahankannya,” kata Khalil Hathaleen. Hathaleen mengatakan bahwa pasukan Israel terkadang menahan para pemukim, tetapi lebih sering mereka tunduk kepada para pemukim tersebut.
Hathaleen mengatakan, unit administrasi sipil militer memberi tahu penduduk desa Umm al-Khair untuk mengalihkan siswa ke jalur lain. Namun, orangtua mengatakan rute alternatif tersebut kira-kira dua kali lebih panjang dan lebih berbahaya karena mengharuskan mereka melewati dekat Carmel.
”Sebagai orangtua, kami sangat prihatin bahwa pendudukan dan tentaranya akan menyerang para siswa,” kata Al-Mutasim Hathaleen, orangtua lainnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/16/5605280f-ed08-4952-9195-95a4f538a97a.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/16/6c3dcf5c-c734-4b98-9b51-7f8ef49655fb.jpg)
Pada Selasa (14/4/2025), beberapa siswa berangkat ke sekolah menggunakan bus dengan mengambil rute alternatif. Namun, ruang kelas tampak kosong dan taman bermain sepi. Tidak ada kegiatan sekolah pada hari Rabu karena pemotongan gaji guru oleh Otoritas Palestina di daerah tersebut. Akan tetapi, pada Kamis, anak-anak akan mencoba lagi untuk pergi ke sekolah melalui rute reguler mereka, kata Khalil Hathaleen. (AP/AFP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji