Tak ada euforia berlebih dari para pemanjat ”lead” Indonesia ketika mengawinkan emas di SEA Games Thailand 2025. Sebab, mereka tahu, ini hanya titik awal.
12 Des 2025 21:29 WIB · Olahraga
KOMPAS/REBIYYAH SALASAH
BANGKOK, KOMPAS — Seperti sedang menari dengan luwes di dinding panjat, begitulah para atlet lead Indonesia debut di SEA Games dengan tanpa kesulitan berarti. Tim lead menikmati perlombaan dan akhirnya mengawinkan emas dari kategori putra dan putri. Inilah titik awal para pemanjat muda menuju tujuan utama, Olimpiade.
Meski tidak semuanya mendukung Indonesia, tetapi penonton di Bangkok Sport Climbing Center Stadion SAT, Bangkok, Thailand, bersorak ketika ”tarian” Alma Ariella Tsany membawanya ke puncak dinding panjat, Jumat (12/12/2025) malam. Alma menjadi satu-satunya pemanjat putri dari total delapan finalis yang bisa mencapai puncak.
Dengan kesuksesan itu, Alma memastikan medali emas pertama panjat tebing dari disiplin lead di SEA Games Thailand 2025. Pencapain Alma disempurnakan pemanjat putra, Ardana Cikal Damarwulan, yang membawa tim panjat tebing lead mengawinkan medali emas.
Tim panjat tebing Indonesia total mempersembahkan empat medali. Selain dua emas, mereka meraih perak lewat pemanjat putri Sukma Lintang Cahyani dan perunggu dari pemanjat putra Mahesa Caesar.
”Senang sekali. Aku memang menargetkan emas karena ini, kan, SEA Games pertama dan pasti akan jadi yang terakhir karena setelah ini fokusnya harus Asia dan dunia,” kata Alma.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/41e417aaf4e1c1c196584294d644ab8a-FAK_3596.jpg)
Sebelum berangkat ke SEA Games, pelatih tim panjat tebing Indonesia, Hendra Basir, sudah menanamkan pola pikir bahwa ajang ini adalah batu loncatan menuju gelaran lebih tinggi di Asia dan dunia. Pada ajang multicabang, para atlet diharuskan punya tujuan utama ke Olimpiade. Langkah menuju ke sana diawali dari level Asia Tenggara, SEA Games dan Asia, Asian Games.
Alma meresapi pola pikir itu sehingga ketika memastikan emas berhasil digenggam, tidak ada euforia berlebih. Tak ada selebrasi atau apa pun yang mengekspresikan kebahagiaannya saat mencapai puncak.
Alma langsung menuju area penonton, bergabung dengan rekan setimnya dan pelatihnya. Lalu, seperti rutinitas saat latihan, pemanjat 16 tahun ini melakukan pendinginan bersama Lintang.
Peluang medali tim ”Merah Putih” sebenarnya sudah terlihat nyata sejak babak kualifikasi pagi. Seluruh pemanjat Indonesia, total enam atlet, masuk delapan besar.
Pada kategori putra, Cikal menempati peringkat pertama, Caesar (2), dan Muhammad Ramzi Firmansyah (4). Sementara itu, pada kategori putri, Lintang dan Alma sama-sama menempati peringkat pertama. Adapun Nur Diatul Jannah peringkat keempat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/493731404fe7703c1d411b25bec901ba-FAK_3317.jpg)
”Sejujurnya, aku tidak menyangka bisa meraih emas dan tidak sadar juga. Karena waktu memanjat, tidak ada pikiran soal medali. Aku fokus memanjat setinggi mungkin saja, bersyukur ternyata hasilnya emas,” kata Cikal, pemanjat 15 tahun ini.
Namun, meski seluruh pemanjat Indonesia masuk delapan besar kualifikasi sebagai batas untuk lolos ke final, hanya maksimal dua atlet per negara yang boleh melaju ke babak tersebut. Alhasil, Cikal dan Caesar, serta Lintang dan Alma yang mewakili Indonesia di final.
Pelatih Hendra Basir mengatakan, dua medali emas itu di luar dugaan. Justru, bisa dibilang Indonesia sebenarnya mencuri emas dari tuan rumah Thailand, terutama dari kategori putra. Secara hitung-hitungan di atas kertas, tuan rumah Thailand lebih unggul karena menurunkan skuad utama.
Salah satu atletnya, Auswin Aueareechit, yang meraih perak, berada di level atlet lapis pertama Indonesia. Adapun Cikal dan Caesar sebenarnya merupakan lapis kedua timnas. Karena itu, Hendra begitu ekspresif ketika Cikal bisa memanjat lebih tinggi dari Auswin dan akhirnya meraih emas.
”Ini bukan tentang kemenangan dan medali emas, ini tentang bagaimana mereka bisa menuntaskan jalur sesuai level mereka yang sesuai dengan level performa,” kata Hendra.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/15bd56d34438051559566095ddc9e545-FAK_3101.jpg)
”Ini juga momen mereka menambah perbendaharaan jalur, mereka mencatat kok jalur tadi dan mendiskusikannya. Namun, terpenting, inilah titik awal dari perjalanan yang akan mereka tempuh hingga ke Olimpiade,” ujarnya lagi.
Di lead, para pemanjat ditantang untuk mencapai titik tertinggi dengan waktu tercepat. Dalam satu kali kesempatan pemanjatan, mereka punya waktu enam menit.
Cikal mencapai pegangan ke-39 dan terjatuh ketika mencapai pegangan ke-40. Adapun Auswin terjatuh setelah mencapai pegangan ke-38 dan Caesar mencapai pegangan ke-37.
Pada nomor lead putri, waktu Lintang habis tepat ketika hendak mencapai pegangan ke-43. Meski begitu, Lintang tetap bersyukur dengan pencapaiannya dan turut senang dengan medali emas yuniornya, Alma.
Alma sendiri menunjukkan penampilan luar biasa. Pemanjat yang baru debut internasional tahun lalu ini begitu menikmati perlombaan seolah-olah ini bukan SEA Games pertama.
Menurut Alma, memang ada keyakinan bisa mencapai puncak setelah melakukan observasi kolektif sebelum perlombaan final. Mereka tidak diizinkan mencoba rute tersebut. Setelah observasi, para atlet dimasukkan ke ruang isolasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/9203d18b6e58b1dc77c0d7315a5da20f-DSC00120.jpg)
Kendati sempat kesulitan mencapai poin ke-43, pegangan yang hendak digapai Lintang ketika terjatuh, Alma mengandalkan gerakan yang luwes seolah sedang menari di dinding panjat.
Lead memang merupakan disiplin dalam panjat tebing yang membutuhkan keluwesan untuk mencapai pegangan-pegangan di dinding panjat. Tak hanya itu, disiplin ini juga membutuhkan daya tahan, ketangkasan, dan kecepatan.
Jalur pemanjatan selalu berubah tergantung tingkat kesulitan. Apabila tidak ada pemanjat yang mencapai puncak, pemenang ditentukan dari siapa pemanjat yang mampu mencapai titik poin paling tinggi antara satu hingga 50.
Pembaca yang budiman, Harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di Harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, dari Bangkok, ThailandEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase