”Ngopi Adrenalin” di Hanoi

Viralnya wisata kafe di pinggir rel di Vietnam.

01 Sep 2025 08:01 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Bunyi peluit yang ditiup pemilik kafe membuat pengunjung kafe bergegas mengatur diri. Mereka menarik lengan dan kaki, menjauh dari garis kuning di samping rel kereta. Tak lama kereta datang dan wisatawan mengabadikan dengan gawai mereka. Itulah wisata pemandangan unik beberapa tahun terakhir di Hanoi, Vietnam.

Sebenarnya pihak berwenang telah berulang kali mencoba menutup tempat yang tadinya kawasan kumuh di Ibu Kota Vietnam tersebut demi alasan keamanan. Tetapi, rencana penutupan tersebut kalah dengan lonjakan wisatawan yang berkunjung karena penasaran dengan apa yang ada di media sosial. 

Foto yang diambil pada Senin( 18/8/2025) ini menunjukkan sebuah kereta api saat melewati rel di antara teras kafe di pusat kota Hanoi.

Kafe di sepanjang pinggir rel ini telah mendatangkan bisnis yang menguntungkan di bekas daerah kumuh yang tadinya diremehkan pemerintah. ”Saya merasakan adrenalin karena kereta itu begitu dekat,” kata Helena Bizonova, wisatawan dari Slovakia. Kereta yang melaju dengan kecepatan 10 kilometer per jam itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari tubuhnya. 

Rel yang dihiasi lentera dengan kafe-kafe berjajar di sepanjang rel telah terkenal secara daring ke seluruh penjuru dunia. Duong Phung Hung adalah salah satu jalur tersempit yang dilalui kereta ini. 

Jalur kereta api ini dibangun Perancis pada awal tahun 1900-an. Rel dibangun untuk mengangkut barang dan orang ke seluruh negeri. Saat itu Vietnam merupakan bagian dari Indochina Perancis bersama dengan Laos dan Kamboja.

Foto yang diambil pada Senin (18/8/2025) ini menunjukkan seorang pedagang kaki lima berjalan di sepanjang rel kereta api di antara teras kafe di pusat kota Hanoi.
Wisatawan berada di sepanjang rel kereta api di antara teras kafe di pusat kota Hanoi, Senin (18/8/2015).
Wisatawan berjalan di sepanjang rel kereta api di antara teras kafe di pusat kota Hanoi, Senin (18/8/2015).
WIsatawan duduk di teras kafe di sepanjang rel kereta api di pusat kota Hanoi, Senin (18/8/2025). Para turis bersemangat mengambil foto selfie di kafe pinggir rel Hanoi.
Seorang wanita melihat pohon muda yang tumbuh dari rel kereta api di depan sebuah kafe di sepanjang rel kereta api di pusat kota Hanoi, Senin (18/8/2025).
Seorang turis berpose foto di sepanjang rel kereta api di antara teras kafe di pusat kota Hanoi.
Seorang pedagang kaki lima berjalan di depan kafe yang tutup di sepanjang rel kereta api di pusat kota Hanoi, Senin (18/8/2025)

Saat perang Vietnam, beberapa bagian jalur kereta api itu rusak parah karena bom Amerika Serikat. Wilayah ini dahulu merupakan wilayah Vietnam utara yang dikuasai komunis. Walaupun dengan anggaran terbatas, perusahaan Kereta Api Vietnam  masih mengelola rel kereta api tua sebagai moda transportasi bagi para pelancong. Selain Vietnam, Thailand dan Taiwan juga mempunyai wisata ”jalan kereta” serupa. 

Jalur kereta di Hanoi ini awalnya adalah tempat yang kumuh dan menjadi sarang narkoba serta dipenuhi bangunan penghuni liar. Sering viral, daerah ini kini menjadi peluang bisnis bagi para barista. Deretan kafe serta bar telah mengubah daerah ini menjadi lebih bersih, bagus, dan aman. 

Saat kereta api merah mulai terlihat, semua orang di jalan kecil itu bergeser menjauh dari rel. Pengunjung yang memadati kafe segera mengeluarkan ponsel mereka untuk mengabadikan pemandangan itu. Staf kafe akan selalu memperingatkan pengunjung untuk berada di daerah yang aman, yang biasanya ditandai dengan garis berwarna kuning. 

WIsatawan duduk dan minum di sebuah kafe di sebelah rel kereta api di pusat kota Hanoi, Senin (18/8/2015).

Wisatawan lokal Vietnam, Nguyen Le Trang, yang datang dari Delta Mekong selatan, menyebutkan, daerah ini adalah satu-satunya tempat wisata khusus di Hanoi. Ia berharap pihak berwenang tidak menutupnya. Vietnam berhasil menjual adrenalin yang dikemas sebagai wisata. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto