Prinsip yang perlu digarisbawahi adalah rasa kepemilikan dan berdaulatnya masyarakat agar dapat memakmurkan komunitas mereka secara adil.
14 Mar 2025 20:15 WIB · Opini
Di dalam legenda masyarakat Sentani, raga manusia bersaudara dengan tubuh pohon sagu. Persaudaraan antara manusia dan pohon sagu muncul karena cinta kasih yang dipancarkan oleh fi klakhoy atau dewa sagu laki-laki dan fi miea atau dewa sagu perempuan. Para dewa sagu menciptakan seorang manusia, tetapi mereka mencemaskan manusia itu tidak akan bertahan hidup. Fi miea dari rahimnya kemudian melahirkan pohon sagu yang tubuhnya dapat memberikan asupan bagi orang Sentani sehingga dapat terus hidup hingga turun-temurun dengan sejahtera. Pohon sagu melalui kepercayaan orang Sentani adalah entitas yang sakral, yang tubuhnya menyokong masyarakat Sentani, tidak saja kebutuhan makanannya, tetapi juga kesejahteraan batinnya.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Cleopatriza Th F Ruhulessin ia menelisik menggunakan pendekatan fenomenologi agama, bagaimana sagu amat bermakna bagi masyarakat Sentani. Ia merumuskan bahwa keyakinan masyarakat Sentani menempatkan pohon sagu tidak saja sebagai obyek semata, melainkan sebagai subyek, bahkan sebagai saudara yang berasal dari rahim suci Fi miea itu sendiri. Oleh karena itu, aktivitas mengonsumsi sagu bukan sebatas menjadi sumber pangan orang Sentani, melampaui itu, sagu melekat dalam pembentukan identitas serta kesinambungan segenap praktik budaya yang menyertainya. Ruhulessin mengatakan, ”Bagi orang Sentani, pohon sagu adalah diri mereka sendiri. Mengeksploitasi pohon sagu sama artinya dengan tidak menghargai diri dan hidup mereka sendiri.”
Jika menggunakan instrumen ekofenomenologi, pelestarian pohon sagu menjadi pelestarian diri masyarakat Sentani itu sendiri, kesadaran mereka pun tidak dapat dipisahkan dari keberadaan pohon sagu itu. Gagasan lumbung pangan semacam ini, mengutamakan partisipasi langsung warga setempat dalam menjaga dan menikmati hasil bumi yang berasaskan kerja sama dengan alam. Konsep lumbung pangan semacam ini dilandasi oleh kecerdasan lokal yang telah dipraktikkan secara berkelanjutan oleh subyek-subyek di lahan itu. Prinsip yang perlu digarisbawahi adalah rasa kepemilikan dan berdaulatnya masyarakat agar dapat memakmurkan komunitas mereka secara adil. Pohon sagu dalam foklor masyarakat Sentani, bukanlah relasi dualistik saja, sebab pohon sagu adalah entitas yang tumbuh dalam kondisi keberagaman hidup yang datang dari tanah. Jadi, melalui pohon sagu, manusia terhubung dengan lembabnya hutan, ulat di dalam batang pohon sagu, hingga danau yang membentang.
Norbert Peeters dalam karyanya yang berisikan penelisikan ke dalam catatan George Everhardus Rumphius tentang eksplorasinya mempelajari bermacam-macam tumbuhan di Ambon pada abad ke-17, menguraikan ketakjuban Rumphius terhadap pohon sagu. Rumphius kagum dengan esensi yang tersimpan di dalam batang pohon sagu, yang nantinya dapat diolah menjadi tepung. Dari tepung itu akan menghasilkan tekstur bahan makanan yang kenyal, lezat dan mengenyangkan. Penelitian Rumphius ini mengungkap fakta-fakta seputar pohon sagu tentang area belantara sebagai habitat asli pohon tersebut, dan pohon itu tumbuh dengan sehat di tipe tanah yang berlumpur atau di wilayah rawa-rawa sepanjang pinggiran sungai. Bahkan, beberapa pohon sagu dapat berkembang di bagian intertidal pesisir.
Keanekaragaman biokultural Indonesia memang memesona. Luisa Maffi menjelaskan bahwa bumi perlu dipandang sebagai keterhubungan antara yang biologis, kultural dan linguistik. Maffi adalah seorang peneliti yang kepakarannya pada ilmu bahasa, antropologi dan etnobiologi, ia merupakan salah seorang pionir yang mengusulkan integrasi dalam mengerti hubungan antara keragaman hayati dan keragaman budaya lokal di seluruh penjuru dunia. Pemahaman terintegrasi ini memungkinkan kita membayangkan strategi dan kebijakan konservasi lingkungan yang secara inheren terpaut dengan resiliensi masyarakat lokal dengan berbagai ekspresi bahasa, seni maupun kepercayaan ritualistik mereka. Pendekatan biokultural mengungkap bahwa eksploitasi lingkungan hidup menyebabkan pula erosi budaya setempat.
Pada momen inilah kolaborasi antara ilmuwan bersama warga lokal maupun orang-orang adat perlu terus didorong dalam rangka menghadapi krisis iklim. Begitu pula diperlukan kebijakan afirmasi dari pemerintah untuk memastikan fokus pendanaan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang sudah semestinya tercurah pada pengembangan sains dan teknologi yang berorientasi pada dijaganya keanekaragaman biokultural. Beberapa penelitian yang penting untuk dipelajari, yang menggali kekayaan biokultural di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh Syaifullah Muhammad dan Berna Elya. Dua akademisi ini melakukan penelitian penting yang menggunakan perspektif kritis dalam memahami tanaman yang tersebar di Indonesia. Syaifullah Muhammad yang memiliki latar belakang ilmu teknik kimia mengembangkan pengetahuan mengenai tanaman nilam di Aceh. Produk turunan dari minyak nilam memiliki nilai ekonomi yang menguntungkan tidak saja para petani nilam, tetapi juga pengusaha UMKM di hilirnya. Sementara Berna Elya, seorang pakar farmasi, yang turut juga membaca kembali naskah-naskah sastra kuno untuk menelusuri herba yang tumbuh di Nusantara. Ia mengembangkan literasi tanaman hanjeli dan perkebunan warga di Sumedang dan Banten sehingga mereka dapat memiliki kemandirian pangan.
Menitikberatkan peran masyarakat sebagai pengendali terhadap sumber biokultural mereka, dapat memperbesar pula kesuksesan praktik keberlanjutan seperti contoh pada pertanian dan wanatani yang berkelindan dengan budaya, tradisi dan kepercayaan setempat.
Saras Dewi, Pengajar Filsafat di Universitas Indonesia
Penulis:
Saras DewiEditor:
Dwi As SetianingsihPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase